Pesawat Sriwijaya Air Jatuh

43 Korban Sriwijaya Air SJ-182 Sudah Teridentifikasi

Jumlah tersebut berdasar catatan Tim DVI hingga Rabu (20/1/2021) pukul 17.00 WIB atau hari ke-12 kegiatan proses identifikasi korban Sriwijaya Air

Penulis: Bima Putra | Editor: Muhammad Zulfikar
TRIBUNJAKARTA.COM/BIMA PUTRA
Tampak depan Instalasi Forensik RS Polri Kramat Jati lokasi penyerahan jenazah korban Sriwijaya Air SJ-182, Selasa (19/1/2021). 

Laporan Wartawan TribunJakarta.com, Bima Putra

TRIBUNJAKARTA.COM, KRAMAT JATI - Tim Disaster Victim Identification (DVI) masih berupaya mengidentifikasi jenazah penumpang pesawat Sriwijaya Air SJ-182 rute Jakarta-Pontianak.

Dari total 62 penumpang yang dilaporkan hilang, Kepala RS Polri Kramat Jati Brigjen Asep Hendradiana Tim DVI sudah berhasil mengidentifikasi setengahnya.

"Total korban teridentifikasi sejumlah 43 jenazah. Total jenazah yang udah diserahkan ke pihak keluarga sebanyak 32 jenazah," kata Asep di RS Polri Kramat Jati, Jakarta Timur Rabu (20/1/2021).

Jumlah tersebut berdasar catatan Tim DVI hingga Rabu (20/1/2021) pukul 17.00 WIB atau hari ke-12 kegiatan proses identifikasi korban Sriwijaya Air SJ-182.

Dari tiga parameter identifikasi lewat DVI yakni sidik jari, gigi, dan DNA, hingga kini belum ada jenazah korban yang teridentifikasi lewat pencocokan data gigi.

Komandan Tim DVI Kombes Hery Wijatmoko mengatakan penyebabnya karena data antemortem (sebelum kematian) dan postmortem (setelah kematian) gigi minim.

"Belum ada (teridentifikasi) dari gigi karena bodypart (posmortem) terkait gigi sangat minim. Data antemortem gigi dari keluarga tidak semuanya ada," ujar Hery.

Beda dengan identifikasi lewat DNA yang data postmortemnya dapat diambil dari berbagai bagian tubuh jenazah, termasuk jaringan otot dan tulang.

Identifikasi lewat gigi hanya bisa menggunakan bagian gigi, sebagaimana sidik jari yang butuh bagian jari korban untuk proses identifikasi.

Sementara data antemortem gigi dari pihak keluarga meliputi riwayat catatan pemeriksaan gigi, foto panoramik, dan cetakan gigi korban masih minim.

Pun gigi merupakan bagian tubuh yang relatif kuat terdampak kecelakaan namun bila tidak ditemukan maka identifikasi lewat gigi tak mungkin dilakukan.

Minimnya data gigi dan tak semua bagian tubuh yang dievakuasi merupakan tangan membuat identifikasi jenazah korban kini difokuskan lewat pencocokan data DNA.

Katim Rekonsiliasi Tim DVI Kombes Agung Widjajanto mengatakan kendala identifikasi dalam masing-masing kasus kecelakaan memang berbeda.

"Bahwa di setiap operasi DVI, mempunyai tingkat kerumitan yang berbeda-beda, jadi tidak ada operasi DVI yang mudah berjalan," tutur Agung.

Baca juga: Komjen Listyo Sigit Prabowo Bakal Lakukan Sejumlah Terobosan saat Jabat Kapolri

Baca juga: Lari Lalu Jatuh, Satpam Kantor Gubernur Sulbar 12 Jam Terjebak Runtuhan Lihat Cahaya Dalam Gelap

Sumber: Tribun Jakarta
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved