Kelakuan Turis Asing Berkantong Tipis Menginap di Hostel Jalan Jaksa: Berendam di Bak Mandi

Para turis tersebut langsung berendam di bak mandi. Mereka mengira itu adalah bathtub

Penulis: Satrio Sarwo Trengginas | Editor: Erik Sinaga
TribunJakarta/Satrio Sarwo Trengginas
Foto sejumlah turis asal Eropa yang sempat menginap di Hostel Wisma Delima di Jalan Jaksa, Menteng, Jakarta Pusat kala itu pada Selasa (26/1/2021). 

Kini, pendar bisnis penginapan ber-budget irit ini meredup di tengah serbuan hotel berbasis layanan digital.

Penerus hostel Wisma Delima, Boy Lawalata (66), bercerita bahwa hostel ini sudah berdiri sejak tahun 1969. 

Ayahnya, Nathanael Lawalata ialah pendiri penginapan bagi para pelancong berkantong tipis ini.

Pada tahun 1972, Nathanael, yang kala itu bekerja di sebuah biro perjalanan bernama Travel Bhayangkara, ditawarkan bergabung ke Federation Youth Hostel International.

Rumah sekaligus tempat penginapannya itu akan diubah menjadi hostel bagi para turis backpacker. 

Mendiang ayahnya menerima tawaran itu. Terkait tarif per malam, Wisma Delima mengikuti ketentuan federasi tersebut.

"Dulu kita ditetapkan oleh Youth Hostel International dengan tarif 1 dollar per malam. Jadi waktu itu sekitar Rp 200 rupiah," ungkapnya kepada TribunJakarta.com di ruang tamu hostel pada Selasa (26/1/2021).

Nama Delima sendiri diambil dari jumlah anggota keluarga Nathanael yang terdiri dari dirinya sendiri, istri dan tiga orang anaknya. 

Selain itu, kebetulan nomor rumah pria asal Pulau Saparua, Maluku tersebut bernomor lima.

Ketika pertama kali berdiri, cerita Boy, Wisma Delima memiliki dua kamar saja dengan tipe dormitory. Tiap kamar itu berisi tiga ranjang susun.

"Ada dua kamar. Jadi satu kamar yang besar terdapat tiga ranjang susun. Bisa diisi 6 orang. Cara mensiasatinya begitu, namanya juga hostel budget. Dibuat agar mereka bisa menjangkau harganya," lanjutnya.

Lambat laun, seiring dengan tingginya antusias turis yang datang, Wisma Delima memiliki total 12 kamar tidur dan 2 kamar tipe dormitory.

Naik becak antarkan turis

Dibukanya Bandar Udara Internasional Kemayoran kala itu menjadi salah satu faktor Wisma Delima ramai disambangi banyak pelancong. Kebanyakan turis berasal dari benua Eropa dan benua Australia.

Biasanya, para pelancong hanya singgah barang sehari atau dua hari di hostel ini sebelum kembali melanjutkan perjalanan. 

Halaman
1234
Sumber: Tribun Jakarta
Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved