TribunJakarta Wiki

Hok Lay Kiong, Kelenteng Berusia Ratusan Tahun di Bekasi

Klenteng Hok Lay Kiong yang terletak di Jalan Kenari 1 nomor 1, Kelurahan Margahayu, Kecamatan Bekasi Timur, merupakan klenteng tertua.

Penulis: Yusuf Bachtiar | Editor: Wahyu Aji
TRIBUNJAKARTA.COM/YUSUF BACHTIAR
Kelenteng Hok Lay Kiong di Jalan kenari, Kecamatan Bekasi Timur Kota Bekasi saat perayaan Imlek 2020 silam.    

Nama Kelenteng Hok Lay Kiong juga memiliki arti yang sarat akan makna yaitu, gerbang rejeki bagi warga etnis tionghoa.

"Kita rawat, Kita pertahankan, Kita jaga bangunanya supaya bisa menjadi landmark Kota Bekasi," ucapnya.

Awalnya bangunan kelenteng tidak seluas saat ini, hanya ada satu patung dewa untuk sembahyang yakni, Dewa Hian Thian Siang Tee yang biasa disebut dewa utama atau dewa tuan rumah.

"Sekarang luas bangunan kelenteng sudah diperluas menjadi 2000 meter persegi dan bisa menampung ribuan orang," jelas dia.

Selain itu, bukan hanya dewa utama yang ada di kelenteng saat ini, sejumlah patung dewa juga telah ditambah untuk sembahyang seperti Dewa Tjay Sen Loya, Kwan Im Posat, Kwan Seng Tekun, Hok Tek Ceng Sin dan sejumlah patung dewa lainnya.

Kelenteng Hok Lay Kiong secara resmi kata Roni, belum dijadikan sebagai bangunan cagar budaya. Tetapi, melihat sejarah perjalanan masa lampau, bangunan ini cukup laik.

"Secara resmi si belum ada, tapi karna Klenteng ini bagian dari sejarah dan peradaban masyarakat tionghoa Kota Bekasi saya rasa laik-laik aja dijadikan cagar budaya," jelas Ronny.

Saat ini, populasi masyarakat tionghoa di Kota Bekasi diperkiran mencapai 100 ribu jiwa. Mayoritas masyarkat tiongho Kota Bekasi bekerja sebagai wirausaha mesk beberapa berkarir di perusahaan.

Rutin Gelar Festival Cap Go Meh

Kelenteng Hok Lay Kiong setiap tahun menggelar acara tahun baru Imlek, puncaknya ada pada festival Cap Go Meh yang dilaksankan dua pekan dari tahun baru.

Arak-arakan budaya merupakan salah satu kegiatan yang paling dinanti, acara ini berlangsung meriah dengan dibanjiri ribuan peserta dan warga yang antusias menonton di sepanjang rute.

Adapun rute arak-arak dimulai dari Kelenteng Hok Lay Kiong, lalu berjalan ke Jalan RA. Kartini, masuk ke Jalan Ir. H. Juanda dan Jalan KH. Agus Salim.

Dari situ, ribuan peserta jalan kaki menuju Jalan Baru Pejuangan Jembatan Besi Rumah Duka untuk selanjutnya masuk ke Jalan Perjuangan arah Stasiun Bekasi

Setelah dari Stasiun Bekasi, peserta kembali masuk di Jalan Ir. Juanda Bulan-bulan lalu mengarah ke Pasar Proyek Bekasi Timur untuk selanjutnya ke Jalan Mayor Oking dan finis di Kelenteng Hok Lay Kiong. 

"Membentuk angka 8, maknanya saya kurang tahu persis tapi yang pasti angka 8 itu bagus sudah jadi tradisikan, 8 enggak ada yang terbuka," jelas dia.

Halaman
123
Sumber: Tribun Jakarta
Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved