Pengedar Sabu Jaringan Malaysia Sembunyikan Narkoba di Dubur, Berhasil Terdeteksi Petugas Bandara

Polresta Bandara Soekarno-Hatta menciduk 10 pengedar narkoba jenis sabu jaringan internasional.

Penulis: Ega Alfreda | Editor: Muhammad Zulfikar
TribunJakarta.com/Ega Alfreda
Polresta Bandara Soekarno-Hatta membekuk 10 pelaku peredaran narkoba jenis sabu asal Malaysia yang disebarluaskan ke Lombok dan Aceh, Kamis (25/2/2021). 

Laporan Wartawan TribunJakarta.com, Ega Alfreda

TRIBUNJAKARTA.COM, TANGERANG - Polresta Bandara Soekarno-Hatta menciduk 10 pengedar narkoba jenis sabu jaringan internasional.

Ke-10 pelaku tersebut dibekuk dibeberapa lokasi yang berbeda di Indonesia.

Kapolresta Bandara Soekarno-Hatta, Kombes Pol Adi Ferdian Saputra menerangkan, ikhwal kejadian saat datangnya lima penumpang di Bandara Soekarno-Hatta.

Kelimanya adalah  LH, LS, RH, dan JDL yang terbang dari Aceh menuju Lombok transit di Bandara Soekarno-Hatta.

"Kelimanya tampak mencurigakan saat petugas Avsec melihat kelimanya melewati mesin X-ray di Terminal 3 Bandara Soekarno-Hatta," kata Ade di Mapolresta Bandara Soekarno-Hatta, Kamis (25/2/2021).

Begitu diperiksa, kelimanya terciduk membawa sabu yang dimasukan ke dalam dubur.

Masing-masing memasukan sabu seberat 200-300 gram ke dalam duburnya.

"Kita lakukan pengembangan, ternyata ada satu orang yang merekrut kelimanya berinisial MA dan satu orang yang mengendalikan kelimanya yakni WD," jelas Ade.

Polisi pun langsung melakukan pengembangan dan didapati tiga bandar narkoba berinisial MT, LM, dan JDA.

Mereka ada yang ditangkap dibilangan Aceh dan NTB.

Baca juga: Cegah Kebotakan, 5 Jenis Makanan Ini Ternyata Baik Untuk Kesuburan Rambut

Baca juga: Viral Bayi Hiu Berwajah Mirip Manusia, Peneliti LIPI: Fenomena Cyclopia

Adi mengungkapkan, aksi para bandit narkoba tersebut telah berlangsung sejak dua tahun Silam.

Maka dari itu para pelaku pun telah meraup keuntungan yang cukup banyak.

"Uang hasil penjualan ini disamarkan dengan dibelikan aset berupa tanah, mobil, rumah, serta menciptakan usaha. Jadi uangnya ngalir," beber Adi.

Kepada para penyidik, mereka mendapatkan benda haram tersebut dari negara Malaysia yang kemudian didistribusikan ke Lombok.

"Untuk barang bukti disita 1.250 gram yang senilai Rp 1.250.000.000 yang mana bila dikonversikan itu menyelamatkan sekitar 1.250.000 orang dari kebuasan narkoba," tutur Ade.

Para pelaku pun disangkakan pasal 114 ayat 2 subsider pasal 112 ayat 2 juncto pasal 132 ayat 1 dan atau pasal 137 huruf a dan B Undang-undang Nomor 35 Tahun 2009 tentang narkotika.

Mereka juga diancam hukuman pidana mati, penjara seumur hidup, atau pidana penjara paling singkat enam tahun dan paling lama 20 tahun.

Sumber: Tribun Jakarta
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved