Sisi Lain Metropolitan
Wujud Nyata Toleransi Kampung Sawah Bekasi, Rukun Satu Keluarga Beda Agama
Kerukunan umat beragama di Kampung Sawah, Kecamatan Pondok Melati, Kota Bekasi berlangsung sudah cukup lama dan terwat hingga sekarang.
Penulis: Yusuf Bachtiar | Editor: Wahyu Aji
Laporan wartawan TribunJakarta.com, Yusuf Bachtiar
TRIBUNJAKARTA.COM, PONDOK MELATI - Kerukunan umat beragama di Kampung Sawah, Kecamatan Pondok Melati, Kota Bekasi berlangsung sudah cukup lama dan terwat hingga sekarang.
Kerukunan itu bukan hanya sebatas kehidupan bertetangga, tidak sedikit warga Kampung Sawah Bekasi hidup dalam perbedaan agama dalam satu keluarga.
Pastor Paroki Gereja Santo Servatius Kampung Sawah, Romo Yohanes Wartoyo mengatakan, terdapat umat katolik di wilayahnya yang memiliki latar belakang agama di keluarga berbeda-beda.
Baca juga: Melihat Langsung Budaya Toleransi Mengakar di Kampung Sawah Bekasi, Terawat Secara Alami
"Wujud toleransi yang jelas saling menghargai. Jadi prinsip orang betawi itu kekeluargaan," kata Wartoyo saat dijumpai Sabtu (6/2/2021).
Dia menyebutkan, kondisi itu terjadi akibat pembauran warga Kampung Sawah Bekasi.
Tidak sedikit dari warga yang menikah dengan latar belakang agama berbeda.
Dari situ, perbedaan agama di lingkup keluarga tercipta. Mereka hidup rukun tidak hanya dengan tetangga tetapi dalam satu lingkup keluarga.
"Di sini dalam satu keluarga ada yang agamanya saling berbeda dan itu bisa diterima. Perbedaan itu malah jadi kekuatan sosial," ucapnya.
Wartoyo menambahkan, umat katolik sudah ada di Kampung Sawah Bekasi sejak ratusan tahun lalu.
Awalnya, terdapat beberapa orang warga Betawi lokal dibaptis.
"Awalnya warga Betawi dibaptis pertama pada 6 oktober 1896 ada 18 orang asli Betawi dibaptis menjadi Katolik. Sekarang masih ada keturunannya di sini," terang dia.
Tokoh agama islam Ali Akbar Yasfi yang juga pengurus yayasan dan Masjid Al-Jauhar Yasfi mengatakan, toleransi di Kampung Sawah ditandai dengan segitiga emas.
"Ada istilahnya segitiga emas, masjid sini, Gereja Kristen Pasundan dan Gereja Servatius, semuanya di pinggir jalan dan jaraknya berdekatan," kata Ali.
Dia menjelaskan, kehidupan toleransi di Kampung Sawah Bekasi berjalan secara alami dan tidak ada paksaan, kepura-puraan apalagi dibuat-buat.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jakarta/foto/bank/originals/masjid-agung-al-jauhar-yasfi-1.jpg)