Kisah dari Ciliwung

Kisah Pak Kentir Pemulung Sampah di Kali Ciliwung, Dua Anaknya Sukses Menjadi Pegawai Negeri

Ia kini hidup sebatang kara di bawah kolong jembatan. Istrinya sudah lama tutup usia sedangkan ketiga anaknya sudah berkeluarga di luar kota.

Penulis: Satrio Sarwo Trengginas | Editor: Muhammad Zulfikar
TribunJakarta.com/Satrio Sarwo Trengginas
Pak Kentir sedang memilah sampah di Kolong Jembatan Kali Ciliwung, Manggarai, Jakarta Selatan pada Jumat (12/3/2021). 

Laporan Wartawan TribunJakarta.com, Satrio Sarwo Trengginas

TRIBUNJAKARTA.COM, TEBET - Nama aslinya Suparno (69), tetapi warga asli bantaran Kali Ciliwung di Manggarai, Jakarta Selatan, biasa memanggilnya Pak Kentir.

Entah lah alasan Suparno dipanggil Kentir. Barangkali panggilan itu dinobatkan kepadanya lantaran di usia yang senja ini, ia masih kuat bekerja demi sesuap nasi.

Soalnya, kakek yang tampak ringkih bertubuh kurus itu masih turun ke dalam derasnya kali Ciliwung nan butek demi mengangkuti sampah. Tak heran bila warga memanggilnya kentir alias agak edan.

Saat ditemui di bawah kolong jembatan Kali Ciliwung, Pak Kentir sedang menepikan pelampung di pinggir kali. 

Pelampung milik Pak Kentir dibuat sederhana hanya bermodalkan busa dari kulkas bekas. 

Seusai menambatkan tali tambang di tepi kali, kedua tangannya memilah-milah berbagai sampah hasil pulungan ke dalam karung goni putih.

Di atas pelampung itu, terdapat sejumlah barang hasil tangkapannya. Di antaranya seng bekas, pipa paralon, besi tua dan karung berisi beragam sampah.

Saat senja hendak berganti malam, pria paruh bayah itu sudah berlabuh di kolong Jembatan untuk mengangkat hasil pulungannya ke gerobak.

Pak Kentir mengangkut karung goni hasil pulungan di kali untuk disimpan di gerobaknya pada Jumat (12/3/2021).
Pak Kentir mengangkut karung goni hasil pulungan di kali untuk disimpan di gerobaknya pada Jumat (12/3/2021). (TribunJakarta.com/Satrio Sarwo Trengginas)

Sambil memilah sampah ke karung goni, ia bercerita bahwa pekerjaan ini sudah dilakoni sejak tahun 1987. 

Setiap pagi, Pak Kentir bekerja mengais sampah yang teronggok di kali Ciliwung.

Biasanya, ia mulai turun di daerah Cawang untuk mencari sampah. 

Budaya warga sekitar membuang sampah ke kali menjadi rezeki Pak Kentir.

Sesudah sampah terkumpul di gerobak, ia membawanya ke pengepul tak jauh dari bantaran kali.

"Jam 8 pagi saya sudah mulai kerja naik Bajaj (ke Cawang)," ujarnya pada Jumat (12/3/2021).

Halaman
12
Sumber: Tribun Jakarta
Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved