Loyalis Annas setelah SBY Jadi Ketum Demokrat: Yang Ngeprank Saya Presiden
Loyalis Anas Urbaningrum, I Gede Pasek Suardika mengungkapkan dirinya pernah kena prank oleh Susilo Bambang Yudhoyono.
Penulis: Ferdinand Waskita Suryacahya | Editor: Ferdinand Waskita Suryacahya
TRIBUNJAKARTA.COM, JAKARTA - Loyalis Anas Urbaningrum, I Gede Pasek Suardika pernah kena prank Susilo Bambang Yudhoyono.
Mantan Politikus Partai Demokrat itu mengaku masih tak percaya saat di-prank tersebut.
Gede Pasek Suardika pun setengah tertawa mengingat awal peristiwa yang menjadi penyebab prank dari Presiden ke-6 RI itu.
"Jadi kalau cerita ini antara senang dan nggak senang. Senangnya itu karena yang nge-prank saya itu seorang presiden. Nggak senangnya itu kok ada gitu lho orang yang seharusnya kita sudah bicara gentleman agreement, seorang politisi yang berbicara dalam konteks bangsa bernegara kok bisa menipu hal yang sangat substansial," kata Pasek saat berbincang dengan Direktur Pemberitaan Tribun Network Febby Mahendra Putra, Jumat (19/3/2021).
Pasek bercerita kejadian mantan Ketua Umum Demokrat Anas Urbaningrum mundur tepat satu hari setelah ditetapkan sebagai tersangka kasus dugaan gratifikasi terkait proyek Hambalang dan proyek-proyek lainnya oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK), pada 22 Februari 2013.

I Gede Pasek saat itu mengajak Anas berdiskusi terkait nasib kawan-kawannya yang bersiap maju sebagai calon legislatif dalam pemilu yang akan datang. Sebab tahapan pemilu sudah mulai digelar.
"Suatu malam saya ke tempat mas Anas di Duren Sawit. Kita diskusilah ngomongin nasib teman-teman. 'Mas ini bagaimana? Teman-teman itu nunggu apakah pindah partai atau tetap seperti ini, siapa nanti penggantinya mas Anas'," tutur Pasek.
Sekjen Partai Hanura itu lantas melontarkan ide bagaimana jika Anas dan loyalisnya sepakat mendukung SBY mengisi posisi ketua umum yang ditinggalkan Anas.
Diharapkan hal tersebut membuat Partai Demokrat bersatu dan kawan-kawannya aman untuk mencalonkan diri dalam pemilu.
SBY saat itu diketahui menjabat Ketua Majelis Tinggi Partai Demokrat dan Ketua Dewan Pembina Partai Demokrat.
Gayung bersambut, Anas ternyata tak keberatan dengan ide I Gede Pasek.
Anas pun mempersilakan I Gede Pasek menyampaikan ide itu ke media massa.
"Saya sampaikan di DPR bahwa saya mengusulkan pak SBY sebagai ketua umum agar bisa dipilih secara aklamasi demi bersatunya semua elemen partai, karena kita sudah masuk tahapan pemilu, dimana kita harus segera berkompetisi di lapangan, segala problem di internal kita tutup dulu," imbuh I Gede Pasek.
Pernyataan itu memicu kemarahan dari Ruhut Sitompul, Marzuki Alie hingga Syarief Hasan.
Usulan I Gede Pasek dianggap menghina SBY karena menurunkan statusnya dari majelis tinggi partai dan dewan pembina menjadi ketua umum.