Waspada Masker Medis Palsu, Begini Cara Membedakan dan Risiko Menggunakannya
Kementerian Kesehatan RI mengingatkan masyarakat untuk waspada terhadap peredaran masker medis palsu di pasaran.
TRIBUNJAKARTA.COM - Kementerian Kesehatan RI mengingatkan masyarakat untuk waspada terhadap peredaran masker medis palsu di pasaran.
Adapun jenis masker medis adalah masker bedah dan masker respirator.
Plt Dirjen Kefarmasian dan Alat Kesehatan (Farmalkes) Kemenkes, Arianti Anaya mengatakan, masker medis palsu yang dimaksud adalah yang tidak memiliki izin edar dari Kemenkes tapi diklaim sebagai masker medis.
Untuk mendapatkan izin edar, masker harus memenuhi persyaratan mutu keamanan, dan manfaat.
Karena itu, harus dilakukan uji bacterial filtration efficiency (BFE), particle filtration efficiency (PEE), dan breathing resistance.
Berbeda dari masker respirator yang jadi andalan tenaga medis di masa pandemi, masker bedah sering digunakan oleh masyarakat umum.
Barang palsu ini memiliki kualitas yang buruk dan penggunaannya tidak efektif. Karena itu pemakai masker abal-abal ini lebih rentan tertular virus SARS-CoV-2.
Baca juga: Ramadan 2021: Salat Tarawih dan Idul Fitri Boleh Berjamaah di Luar Rumah, Ini Aturan Lengkapnya
Sayangnya agak sulit membedakan masker asli dan palsu secara fisik.
Keasliannya baru bisa dipastikan lewat uji laboratorium.
Namun bukan berarti kita tidak bisa menghindarinya.
Baca juga: Usai Malam Pertama dengan Aurel, Atta Halilintar Sebut Enaknya Menikah Muda: Dapat Enak dan Pahala
Baca juga: Terduga Teroris Mengaku Eks Anggota FPI, Kuasa Hukum Rizieq Shihab: Ini Upaya Pembusukan
Baca juga: Munarman Ucap Kalimat Zikir, Namanya Tertulis di Benda Mencurigakan Diduga Berisi Magasin dan Peluru
Agar kesehatan tetap terjaga, terapkan 3 hal berikut ini dalam cara memilih masker medis asli dan berkualitas.
Berikut ini cara membedakan masker paslu atau asli:
1. Material yang dipakai
Masker bedah menggunakan material berupa Non – Woven Spunbond, Meltblown, Spunbond (SMS) dan Spunbond, Meltblown, Meltblown, Spunbond (SMMS).
Cermati apakah masker yang dibeli menggunakan material tersebut.
Biasanya produsen masker menyertakan bahan bakunya di kemasan agar mudah dibaca konsumen.
Selain itu, masker sekali pakai memiliki 3 lapisan yang bisa menutupi mulut dan hidung penggunanya.
2. Beli di penjual terpercaya
Masker kesehatan sekarang mudah dijumpai dan diperjualbelikan secara daring maupun luring.
Namun pastikan untuk membeli masker kepada penjual yang terpercaya.
Baca juga: Alasan Desiree Tarigan Diusir dari Rumah, Hotma Sitompul Habis Kesabaran: Sudah Keterlaluan
Belilah alat pelindung ini di apotek atau toko kesehatan yang sudah terjamin.
Membeli secara online di e-commerce mungkin lebih murah namun bisa membawa petaka jika asal-asalan.
3. Memiliki izin edar
Masker bedah yang asli memiliki izin edar yang resmi dari Kementerian Kesehatan.
Selama 1 tahun belakangan, sudah ada 996 industri masker medis yang mendapatkan legalitas dari pemerintah.

Karena itu ada cukup banyak pilihan yang aman bagi masyarakat.
Selain itu akan lebih baik lagi apabila membeli masker dengan label Standar Nasional Indonesia (SNI).
Dikutip dari situs resminya, Plt Dirjen Farmalkes, drg. Arianti Anaya, MKM mengatakan, izin edar dari Kemenkes artinya masker tersebut sudah layak dikategorikan sebagai masker bedah.
Hal ini berarti telah memenuhi persyaratan mutu keamanan dan manfaat.
Kategorinya yakni telah lulus uji Bacterial Filtration Efficiency (BFE), Partie Filtration Efficiency (PFE), dan Breathing Resistence sebagai syarat untuk mencegah masuknya dan mencegah penularan virus serta bakteri.
“Masker medis harus mempunyai efisiensi penyaringan bakteri minimal 95 persen,” ujarnya seperti dikutip dari situs sehatnegeriku.
Risiko Pakai Masker Medis Palsu
Masker medis palsu memiliki kualitas di bawah masker asli.
Artinya, masker tersebut tak efektif membantu mencegah penularan Covid-19 sehingga potensi penularan lebih besar.
"Ini tentu meresahkan masyarakat. Karena menggunakan masker adalah untuk melindungi diri, baik dari menularkan atau tertular dari orang lain."
"Kalau barang palsu kan berarti tidak efektif seperti barang aslinya," ujar Prof Dr dr Ari Fahrial Syam, SpPD-KGEH, MMB, Senin (5/4/2021).
Risiko ini tak hanya dihadapi oleh tenaga medis, tetapi juga oleh masyarakat secara luas karena masker bedah kini banyak digunakan secara umum.
"Jadi menurut saya ini bukan untuk medis, non medis, tapi juga untuk masyarakat secara luas karena kita lihat di lapangan juga banyak yang menggunakan surgical mask ini," kata Dekan Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia (FKUI) itu.
Sayangnya, masker medis palsu ini sangat sulit dibedakan dengan masker medis asli.
Menurut Ari, upaya penting yang bisa dilakukan oleh masyarakat untuk mencegah mendapatkan masker medis palsu adalah lebih cermat dalam membeli.
Belilah masker di tempat-tempat yang dapat dipertanggungjawabkan.
Misalnya, membeli di apotek atau drug store terpercaya, serta toko-toko yang menjual perlengkapan kesehatan.
"Artinya dengan ini masyarakat terinfo bahwa ini ada (masker medis) yang palsu, berarti harus pandai- pandai beli di lokasi yang tepat, lebih cermat. Kalau online kan kadang dipertanyakan tokonya."
"Kalau toko yang qualified, saya rasa itu bisa dipertanggungjawabkan," ucapnya.
Ari berharap pemerintah melakukan investigasi menyeluruh untuk menemukan pelaku yang memalsukan masker medis palsu dan pelaku mendapatkan sanksi yang berat.
Adapun pihak Kemenkes mengungkapkan pihaknya melakukan upaya melalui mekanisme kerja sama dengan aparat hukum untuk menindaklanjuti kasus ini.