Breaking News:

Sudinakertrans Diminta Akomodir Hak Tunjangan dan Kompensasi Korban PHK Ekonid

tidak mengakomodasi hak-hak para pekerja, salah satunya hak tunjangan (allowance), serta biaya proses mediasi sejak Januari hingga April 2021.

Kompas.com/TOTO SIHONO
Ilustrasi Pemutusan Hubungan Kerja (PHK) 

TRIBUNJAKARTA.COM - Suku Dinas Tenaga Kerja Transmigrasi dan Energi (Sudin Nakertrans-E) Jakarta Pusat diminta agar mengakomodasi hak-hak para pekerja korban pemutusan hubungan kerja (PHK) dari Perkumpulan Ekonomi Indonesia-Jerman (Ekonid).

"Surat anjuran yang dikeluarkan Sudin Nakertrans-E itu tidak mengadopsi, tidak membuat hak dan kompensasi para pekerja sebagaimana mestinya, hanya memperhitungkan sebagian hak-hak normatif para pekerja," kata kuasa hukum para pekerja dari MSS Law Office, Ardin Sitorus di Jakarta, Rabu (7/4/2021).

Menurutnya, korban PHK dari Ekonid tersebut mengaku keberatan atas rekomendasi atau surat anjuran dari Sudin Nakertrans-E.

Hal ini lantaran tidak mengakomodasi hak-hak para pekerja, salah satunya hak tunjangan (allowance), serta biaya proses mediasi sejak Januari hingga April 2021.

Ardin menilai pihak Sudin Nakertrans-E belum memperhitungkan seluruh hak-hak pekerja, sebagaimana yang diatur dalam UU Ketenagakerjaan.

Sementara itu, daat dikonfirmasi secara terpisah, Kepala Sudin Nakertrans-E Jakarta Pusat Fidiyah Rokhim memaklumi keberatan yang dilayangkan pekerja.

Menurut dia, protes tersebut lazim dilakukan oleh para pihak yang bersengketa.

Ia pun menganjurkan agar para pekerja yang tidak menerima surat anjuran dapat mengajukan laporan secara resmi kepada Sudin Nakertrans-E.

"Bersurat saja ke kami. Kami juga mempersilahkan pihak yang menolak isi anjuran itu untuk melanjutkan ke pihak terkait ke pengadilan hubungan industrial," ujarnya.

Editor: Wahyu Aji
Sumber: Tribun Jakarta
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved