Jeritan Pelaku Usaha di Setiabudi Pamulang, Omzet Anjlok Sampai Utang Akibat Proyek Perbaikan Jalan

Proyek Perbaikan Jalan Setiabudi, Pamulang, Tangerang Selatan (Tangsel), berdampak pada sektor usaha di sekitarnya.

Penulis: Jaisy Rahman Tohir | Editor: Wahyu Septiana
TRIBUNJAKARTA.COM/JAISY RAHMAH TOHIR
Penampakan proyek perbaikan Jalan Setiabudi, Pamulang, Tangsel, Kamis (8/4/2021). 

Laporan Wartawan TribunJakarta.com, Jaisy Rahman Tohir

TRIBUNJAKARTA.COM, PAMULANG - Proyek Perbaikan Jalan Setiabudi, Pamulang, Tangerang Selatan (Tangsel), berdampak pada sektor usaha di sekitarnya.

Di Jalan yang menghubungkan antara Bundaran Pamulang dan Simpang Gaplek itu banyak berdiri warung, kafe, baengkel, konter pulsa, konter ponsel hingga minimarket.

Proyek peninggian jalan yang digarap Pemerintah Provinsi Banten itu membuat akses jalan ke tempat-tempat usahanya tertutup. 

Ada beda tinggi antara jalan dengan toko di sekitranya.

Selama lima bulan omzet para pengusaha di sekitar proyek anjlok. 

Edward, pengusaha bengkel di Jalan Setiabudi, Pamulang, Tangsel, Kamis (8/4/2021).
Edward, pengusaha bengkel di Jalan Setiabudi, Pamulang, Tangsel, Kamis (8/4/2021). (TRIBUNJAKARTA.COM/JAISY RAHMAH TOHIR)

Edward (43), pengusaha bengkel yang muka gerainya tertutup proyek perbaikan jalan, mengaku kehilangan mata pencaharian.

Bukan karena bengkelnya tutup, melainkan karena tidak ada pelanggan yang datang ke bengkelnya.

Baca juga: Jelang Ramadan, Satpol PP Jakarta Timur Petakan Lokasi Rawan PMKS

Baca juga: Vaksinasi Covid-19 di Kota Tangerang Tetap Dilaksanakan Siang Hari saat Ramadan

Baca juga: Pegawai KPK Mencuri Emas Seberat 1,9 Kilogram, Digadai untuk Bayar Utang

Bak sudah jatuh tertimpa tangga, usaha bengkel Edward yang sudah terpukul pandemi Covid-19.

Semakin terpuruk akibat ulah pemerintah yang tidak memperhatikan warganya.

"Ya sangat berdampak, sebenarnya kan sebelum pembangunannya juga sudah sangat berdampak akibat pandemi buat kita. Tapi setelah adanya seperti ini ya kita memang sama sekali ngga ada penghasilan sama sekali pak, makin parah, benar, enggak bisa, enggak ada penghasilan," kata Edward, Kamis (8/4/2021).

"Ya gimana mau masuk begini, mobil enggak bisa masuk ke bengkel, customer kita ngga bisa masuk sama sekali," tambahnya.

Edward mengatakan, sebelum adanya proyek perbaikan jalan itu, setidaknya 20 sampai 30 pengendara roda empat ataupun sepeda motor mampir ke bengkelnya dengan berbagai keluhan.

Namun apa daya, tanpa ada penjelasan apa lagi pemberian akses, bengkel Edward mendadak kosong-melompong tak ada lagi hilir mudik mobil dan motor langganannya.

"Kalau sehari biasanya ya rata-rata bisa 20-30 pelanggan lah ya, karena kita kan usaha ada yang nambal ban, ada yang nge-oli, ada yang servis. (Setelah pembangunan) enggak ada, gimana," ujarnya.

Edward bahkan sempat frustasi dan menutup bengkelnya. Tertutupnya jalan membuatnya putus harapan.

Baca juga: Kondisi Ashanty Buat Anang Khawatir, Aurel Hermansyah Kaget Lihat Kondisi Sang Bunda: Udah Parah

Tidak adanya pemasukan membuat Edward harus berhutang untuk membayar sekolah anaknya.

"Setelah pandemi justru kita udah sangat susah lah untuk sekolahin anak, buat makan, kehidupan sehari hari. Apa lagi setelah ini (proyek perbaikan jalan) ya sudah benar-benar kosong."

"Kita artinya ya bisa dikata ya susah lah, mau ngutang mau gimana sama keluarga dulu sementara sebelum ini diberesin," keluhnya.

Beberapa pekan nelakangan, Edward sampai merogoh kocek sendiri untuk meninggikan pelataran bengkelnya agar pelanggan bisa datang. Namun hal itu sia-sia belaka.

"Ya nol sama sekali, tapi kita enggak tahu mengeluh sama siapa, sebagai warga ya kita begitu saja lah," pungkas Edward.

Keluh kesah juga diutarakan Marinus Zay (36) atau yang karib disapa Roy, pengusaha konter ponsel di Jalan Setiabudi.

Roy, pengusaha konter ponsel di Jalan Setiabudi, Pamulang, Tangsel, Kamis (8/4/2021).
Roy, pengusaha konter ponsel di Jalan Setiabudi, Pamulang, Tangsel, Kamis (8/4/2021). (TRIBUNJAKARTA.COM/JAISY RAHMAH TOHIR)

"Dari Bulan november 2020, berarti 5 atau 6 bulan lah. Ya dampaknya untuk kita yang punya usaha pinggir jalan ya sangat terganggu sehingga hubungannya di usaha kita sangat terganggu," kata Roy membuka ungkapan keresahannya.

Konter ponselnya yang juga menyediakan jasa reparasi itu sampai mengalami penurunan omzet mencapai 60%.

Sama seperti Edward, akses menuju konter Ponsel Roy juga tertutup proyek perbaikan Jalan.

"Penurunannya sampai 60%, karena ini sebelum kita uruk sendiri, ini kayak pelanggan kita yang bawa motor ibu-ibu ngga berani turun ke sini, bahkan beberapa mereka jatuh. karena pas turun masih terlalu miring, ya ibu-ibu lah ngga terlalu cekatan bawa kendaraan," kata Roy.

Roy sampai mengeluarkan uang pribadinya sebesar Rp 1,5 juta untuk membeli urukan puing demi membuat pelatarannya sama tinggi dengan jalan.

"ini kita uruk sendiri, kemarin di sini ada puing sekitar sini kita arahkan yang punya proyek ini untuk dibantu. Sama sekali ngga ada itikad baiknya untuk membantu kita yang punya usaha di sini karena terganggu karena proyek mereka."

Baca juga: Kondisi Ashanty Buat Anang Khawatir, Aurel Hermansyah Kaget Lihat Kondisi Sang Bunda: Udah Parah

"Jadi seluruh puing itu diangkut oleh mereka, puing ini sekarang kita upayakan sendiri, modal sendiri. Ini sudah rugi hampir 1,5 juta ngangkut-ngangkut puing begini," kata Roy.

Keduanya berharap sama, semoga proyek perbaikan jalan cepat rampung dan usaha mereka kembali hidup.

Sumber: Tribun Jakarta
Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved