Ziarah Makam

Cerita Para Peziarah Datangi Makam Habib Cikini: Minum dan Mandi Air Bertuah

Makam Habib Abdurrahman bin Abdullah Al Habsyi tak jarang disambangi banyak peziarah dari berbagai daerah.

TRIBUNJAKARTA.COM/SATRIO SARWO TRENGGINAS
Suasana para peziarah memanjatkan doa di Makam Habib Abdurrahman bin Abdullah Al Habsyi atau disebut Habib Cikini pada Senin (12/4/2021). 

Ia tak membatasi siapa saja yang ingin mengambil air bertuah itu.

"Sudah ratusan ribu jemaah yang minum. Setiap mereka ziarah pasti bawa. Ada yang bawa satu botol, satu galon, sampai 10 galon. Bahkan, bawa truk tangki pun silahkan," lanjutnya.

Sepenggal Kisah Habib Cikini

Habib Abdurrahman bin Abdullah Al Habsyi atau dikenal dengan Habib 'Cikini' merupakan salah satu penyiar agama Islam yang tersohor di masa Hindia Belanda.

Makamnya dikeramatkan banyak peziarah sebagai wasilah atau perantara doa kepada Allah SWT sampai sekarang.

Letak makam keramat Habib Cikini tak jauh dari tepi Kali Ciliwung, Kecamatan Menteng, Jakarta Pusat. 

Bila memasuki Jalan Sekolah Seni dari Jalan Raden Saleh Raya, letak pintu masuk menuju makamnya bersebelahan dengan pintu masuk apartemen Menteng Park. 

Letak area makam seluas hampir 1.500 meter itu memang agak menjorok ke dalam. 

Saat saya berkunjung ke sana, makam Habib Cikini berada di dalam sebuah bangunan yang tampak megah.

Bangunan berlantai dua itu terlihat seperti sebuah masjid dengan kubah di atasnya. Meski bukan masjid, para peziarah bisa melaksanakan salat di sana.

Saat masuk ke bagian dalam, saya melihat tiga makam yang disekat berada di sisi kiri ruangan.

Kala itu, suasana makam tampak disambangi sejumlah peziarah. Ada yang duduk bersila sambil membaca doa secara khusyuk. Ada juga yang berdoa sambil memeluk dan mencium nisan Habib Cikini

Saya sempat berbincang dengan Habib Muhammad Amin bin Sholeh bin Muhdor Al Habsyi, keturunan dari Habib Abdurrahman.

Habib Amin juga menjabat sebagai Khodim (pengurus dan pembantu maqam Habib Cikini).

Baca juga: Restoran hingga Warteg di Tangsel Wajib Ditutup Pakai Tirai Selama Bulan Suci Ramadan

Ia bercerita sepenggal sejarah terkait sosok Habib yang dihormati para peziarah itu.

Habib Abdurrahman bin Abdullah Al Habsyi lahir di Kota Semarang, Jawa Tengah. Beliau keturunan dari Hadramaut, bangsa Yaman. Ia memiliki hubungan yang dekat dengan Raden Saleh, pelukis tersohor zaman Hindia Belanda. 

Sebab, Habib Abdurrahman sempat menikah dengan adik kandung Raden Saleh bernama Syarifah Rogayah bin Husein bin Yahya. 

Dari pernikahan itu, Abdurrahman tidak dikaruniai anak. Kemudian ia menikah lagi dengan perempuan asli Betawi bernama Hajah Salmah.

"Beliau nikah lagi kemudian mendapatkan anak bernama Habib Ali Kwitang dan Habib Abdulqadir," cerita Habib Amin kepada TribunJakarta.com pada Senin (12/4/2021).

Nama Habib Ali Kwitang di kemudian hari tak kalah populer dengan ayahnya sebagai penyiar agama Islam yang dihormati.

Suasana para peziarah memanjatkan doa di Makam Habib Abdurrahman bin Abdullah Al Habsyi atau disebut Habib Cikini pada Senin (12/4/2021).
Suasana para peziarah memanjatkan doa di Makam Habib Abdurrahman bin Abdullah Al Habsyi atau disebut Habib Cikini pada Senin (12/4/2021). (TRIBUNJAKARTA.COM/SATRIO SARWO TRENGGINAS)

Menurut Habib Amin, Habib Abdurrahman sempat menuntut ilmu di Yaman dan balik lagi ke Indonesia untuk menyiarkan agama Islam.

Ia menyebarkan Islam ke sejumlah daerah. Di antaranya, Pulau Jawa, Madura, hingga Sulawesi.

Beliau juga memiliki banyak murid. Salah satu yang juga tersohor bernama Habib Ahmad bin Alwi Al Haddad atau dikenal dengan Habib Kuncung yang makamnya berada di kawasan Kalibata.

Wafat Tahun 1879

Habib Abdurrahman wafat pada tahun 1879. Karena memiliki hubungan saudara, jasadnya dimakamkan di atas lahan milik Raden Saleh.

Kala itu, lanjut Habib Amin, lahan milik Raden Saleh sangatlah luas. Tanahnya mencakup Taman Ismail Marzuki, Apartemen Menteng Park sampai Rumah Sakit PGI Cikini.

Jasad Habib Abdurrahman kemudian dimakamkan di tempat itu sampai sekarang. 

Menurut Habib Amin ada tiga makam yang berada di dalam bangunan itu. Dua kuburan merupakan jasad Habib Abdurrahman dan istrinya, Syarifah Rogayah. Sedangkan satunya yang berukuran lebih kecil tidak diketahui.

"Satu lagi itu hanya Allah yang tahu. Saya enggak mau bicara. Yang saya tahu dia orang baik," tambahnya. 

Baca juga: Hari Pertama Puasa, Gubernur Anies: Jangan Bukber, Jangan Kumpul-kumpul Keluarga

Sebelum dibuat megah seperti sekarang, makam Habib Cikini tersebut masih berupa pendopo. Di sekitar makam pun masih dikelilingi perkampungan.

Air dari Liang Lahat

Makam Habib Abdurrahman sempat mencuri perhatian masyarakat saat hendak dibongkar untuk pembangunan apartemen sekira tahun 2010.

Ketika proses pembongkaran, seketika air keluar dari sekeliling makam. Habib Amin menyebut air yang keluar dari liang lahat itu merupakan fenomena alam. 

Sepengetahuannya, tidak pernah ada air di sekitar makam sebelum pembongkaran. 

Air itu dipercaya sebagai obat mujarab berbagai macam penyakit bagi warga dan para peziarah.

Ratusan ribu jemaah 

Para peziarah yang datang menyambangi makam Habib Abdurrahman bin Abdullah Al Habsyi berasal dari berbagai daerah.

Mereka mengetahui makam ini dari mulut ke mulut. Tak jarang para peziarah datang secara rombongan menggunakan bus.

Bila datang rombongan, mobil ataupun bus berjejer di tepi Jalan Sekolah Seni.

Bangunan lantai dasar digunakan untuk para jemaah pria sedangkan lantai dua digunakan untuk menampung jemaah perempuan.  

Habib Amin mengklaim bahwa jemaah makam Habib Cikini kini mencapai 120 ribu orang. 

Ada tiga acara rutin di makam yang ramai disambangi peziarah.

Baca juga: Hari Pertama Puasa, Gubernur Anies: Jangan Bukber, Jangan Kumpul-kumpul Keluarga

"Kalau ada acara Maulid Nabi, acara Haul Habib Abdurrahman dan penutupan acara Haul. Kita bikin ceramah di sini. Tiga kali dalam setahun biasanya," ungkapnya.

Menjelang bulan puasa, para peziarah menyempatkan menengok sosok yang dihormati dan dipercayai sebagai wasilah untuk mendatangkan berkah.

Habib Amin mengatakan para peziarah biasanya ramai mengunjungi makam di Bulan Syaban. Mereka rutin  memanjatkan doa dan menggelar yasinan.

"Makam ini bukan milik saya, ini milik Bangsa Indonesia. Yang berkunjung ke sini menurut keyakinan mereka masing-masing," pungkasnya.

Sumber: Tribun Jakarta
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    berita POPULER

    © 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved