Breaking News:

Isu Reshuffle Kabinet, Akademisi Nilai Pemerintah Butuh Gagasan dan Semangat Baru

Isu reshuffle kedua dalam Kabinet Indonesia Maju kembali mengemuka seiring dengan peleburan Kemendikbud dengan Kemenristek

ISTIMEWA/Tribunnews
Para menteri Kabinet Indonesia Maju di depan kompleks Istana Kepresidenan, Jakarta, menjelang pelantikan Rabu pagi (23/10/2019). 

TRIBUNJAKARTA.COM, JAKARTA - Isu reshuffle kedua dalam Kabinet Indonesia Maju kembali mengemuka seiring dengan peleburan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) dengan Kementerian Riset dan Teknologi (Kemenristek) serta dibentuknya Kementerian Investasi.

Akademisi Universitas Malikussaleh (Unimal) Lhokseumawe, Teuku Kemal Pasha menilai reshuffle kabinet sebaiknya harus segera dilakukan oleh Presiden Joko Widodo. Ia menyebut terdapat beberapa menteri yang memiliki kinerja rendah dan tidak memiliki cukup prestasi. Kemal lebih spesifik juga mengkritisi kinerja kantor staf presiden dan para staf khusus presiden milenial.

"Menurut saya reshuffle ini jangan hanya diperuntukkan bagi para menteri yang tidak berprestasi di dalam kabinet. Saya yakin presiden seperti hanya publik paham siapa-siapa yang lemah kinerjanya. Namun juga orang-orang yang bertugas di staf kepresidenan. Peristiwa Pak Moeldoko dan beberapa kasus lainnya baik itu di KSP dan di seputaran staf khusus milenial menunjukkan lemahnya fokus kerja, kapasitas dan integritas,” jelas Kemal kepada wartawan, Sabtu (17/4/2021).

Lebih lanjut, kata Kemal yang juga antropolog ini, pemerintah dan khususnya Presiden Jokowi membutuhkan munculnya gagasan dan terbosan baru. Hal ini diperlukan untuk meningkatkan kembali optimisme rakyat di tengah situasi krisis sosial dan ekonomi. Apalagi sejarah menunjukkan masuknya anak-anak muda membantu pemerintahan menurut Kemal selalu membawa cerita dan semangat baru.

Baca juga: Heru Cipto Nugroho: Reshuffle Kabinet Presiden Joko Widodo Harus Utamakan Kepentingan Rakyat

Baca juga: Jelang Reshuffle Sederet Nama Sosok Muda Potensial Bermunculan

 

“Sebaiknya presiden membuka ruang bagi kalangan muda. Mereka lebih gesit dan memiliki pola pikir yang kreatif dibandingkan generasi tua yang cenderung banyak kepentingan dan cari aman. Namun yang dipertimbangkan dari anak-anak itu adalah kompetensi dan kematangan dalam menjalankan pemerintahan, apalagi (menghadapi) krisis, bukan sekedar muda, faktor kedekatan atau pertimbangan ekonomi politis,” kata Kemal.

Ia menjelaskan di era pemerintahan Orde Baru, pemerintahan saat itu mendorong pembangunan di segala bidang. Terdapat sejumlah menteri muda yang kompeten, seperti Sarwono Kusumaatmadja, Emil Salim, Moerdiono, Ginandjar Kartasasmita dan lain sebagainya.

Penunjukan mereka tentunya atas dasar faktor keahlian bernegara, teknokratis dan integritas, bukan hanya sekedar usia atau popularitas. Seleksi yang kuat dan tepat tetap harus dilakukan.

Sebelumnya, akademisi dari Universitas Airlangga Surabaya, Airlangga Pribadi menyatakan reshuffle saat ini adalah waktu yang tepat untuk memberikan ruang kepada sosok muda yang penuh semangat namun mumpuni untuk memperkuat tim kepresidenan. Ia menyarankan sejumlah nama seperti Wisnutama, Hanif Dhakiri, Yenny Wahid, Dimas Oky Nugroho, Najwa Shihab, Agus Sutomo hingga Idham Aziz untuk mengganti Kepala KSP atau mengisi posisi di kabinet Indonesia Maju.

Editor: Muhammad Zulfikar
Sumber: Tribun Jakarta
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved