Sidang Rizieq Shihab

Anggapan Rizieq Shihab Dibantah Saksi Ahli di Persidangan, Ada Kekeliruan di Kasus Tes Swab RS UMMI

Pakar hukum kesehatan dr. Nasser menjelaskan ada kekeliruan anggapan Rizieq di kasus tes swab di RS UMMI yang diduga ditutupi dari Satgas Covid-19

Penulis: Bima Putra | Editor: Wahyu Septiana
TribunJakarta.com/Bima Putra
Rizieq Shihab saat dihadirkan sebagai terdakwa dalam perkara dugaan tindak pidana karantina kesehatan di Pengadilan Negeri Jakarta Timur, Senin (10/5/2021) - Pakar hukum kesehatan dr. Nasser menjelaskan ada kekeliruan anggapan Rizieq di kasus tes swab di RS UMMI yang diduga ditutupi dari Satgas Covid-19 

Laporan Wartawan TribunJakarta.com, Bima Putra

TRIBUNJAKARTA.COM, CAKUNG - Pakar hukum kesehatan dr. Nasser menjelaskan ada kekeliruan anggapan Rizieq Shihab di kasus tes swab di RS UMMI Bogor yang diduga ditutupi dari Satgas Covid-19 Kota Bogor.

Yakni bahwa Rizieq memiliki hak menolak hasil tes swab PCR-nya saat dirawat di RS UMMI Bogor pada November 2020 lalu disampaikan ke Wali Kota Bogor Bima Arya atau Gubernur Jawa Barat.

TONTON JUGA

Kepada Nasser yang dihadirkan jadi saksi ahli dari tim kuasa hukum Rizieq, dia bertanya apakah tindakan membuat surat pernyataan menolak hasil tes swab PCR-nya dilaporkan ke Satgas Covid-19 benar.

"Seperti tadi yang bapak katakan, ke Satgas, kemudian ke Wali Kota, atau Gubernur yang tidak ada kaitan dengan kesehatan. Pertanyaan adalah apakah perbuatan pasien tadi dilindungi UU Kesehatan atau UU yang serupa dengan itu," tanya Rizieq ke Naseer di Pengadilan Negeri Jakarta Timur, Selasa (11/5/2021).

Nasser awalnya menjawab bahwa tindakan Rizieq yang menolak hasil tes swab PCR-nya dilaporkan ke Satgas Covid-19 benar dan diatur UU karena menyangkut kerahasiaan pasien.

Rizieq Shihab saat dihadirkan sebagai terdakwa dalam sidang kasus kerumunan warga Megamendung yang digelar di Pengadilan Negeri Jakarta Timur, Senin (10/5/2021).
Rizieq Shihab saat dihadirkan sebagai terdakwa dalam sidang kasus kerumunan warga Megamendung yang digelar di Pengadilan Negeri Jakarta Timur, Senin (10/5/2021). (TRIBUNJAKARTA.COM/BIMA PUTRA)

Tanpa membuat surat pernyataan, Rizieq bisa menolak hasil tes swab PCR-nya saat dirawat di RS UMMI Bogor dipublikasikan ke pihak tidak berwenang, kecuali ada pertimbangan kepentingan nasional.

"Yang dibuat oleh pasien itu sebetulnya tidak banyak bermanfaat, karena apa? Karena itu memang menjadi hak pasien dan UU menyatakan itu tidak bisa dibuka. Jadi ada atau tidak ada surat itu tidak bermakna," jelas Nasser.

Baca juga: Akui Sangat Kehilangan, Sang Adik Janji Sekolahkan Anak Sapri Pantun

Baca juga: John Kei Sidang Tuntutan Virtual, Polisi Bersenjata Laras Panjang Tetap Dikerahkan ke PN Jakbar

Baca juga: 1,2 Juta Warga Jakarta Mudik Lebaran 2021, Datang ke Ibu Kota Lagi Wajib Swab PCR

Tapi Nasser menuturkan Rizieq keliru bila beranggapan Wali Kota dan Gubernur di wilayah pasien dirawat tidak memiliki hak meminta laporan hasil tes PCR untuk keperluan penanganan pandemi Covid-19.

Alasannya Dinas Kesehatan yang berwenang menangani masalah kesehatan di satu wilayah tempat RS pasien berada di bawah naungan Dinas Kesehatan pemerintah daerah, dalam hal ini Wali Kota dan Gubernur sebagai pimpinan.

"Begini pak, jangan salah paham. Yang tidak punya urusan itu adalah Satgas (Covid-19), tapi Wali Kota dan Gubernur punya. Karena Dinas Kesehatan yang saya bilang tadi mengkoordinasikan kegiatan-kegiatan kerumahsakittan itu di bawah Wali Kota, di Provinsi di bawah Gubernur pak," lanjut dia.

Hanya saja Nasser menjelaskan ada kesalahan bila Wali Kota atau Gubernur meminta hasil tes swab PCR seorang pasien terindikasi Covid-19 melalui Satgas Covid-19 daerah yang dipimpinnya.

TONTON JUGA

Halaman
123
Sumber: Tribun Jakarta
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2023 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved