Breaking News:

Kasus Meningkat, Warga Cipayung Diimbau Waspadai Penularan DBD

Warga Kecamatan Cipayung, Jakarta Timur diimbau waspada penularan penyakit demam berdarah dengeu (DBD) akibat gigitan nyamuk aedes aegypti.

Penulis: Bima Putra | Editor: Muhammad Zulfikar
Tribunnews.com/net
Nyamuk demam berdarah 

Laporan Wartawan TribunJakarta.com, Bima Putra

TRIBUNJAKARTA.COM, CIPAYUNG - Warga Kecamatan Cipayung, Jakarta Timur diimbau waspada penularan penyakit demam berdarah dengeu (DBD) akibat gigitan nyamuk aedes aegypti.

Meski tidak merinci jumlah kasus, Kepala Puskesmas Kecamatan Cipayung Rini Muharni mengatakan berdasar data incindence rate (IR) atau angka kesakitan terjadi penambahan kasus DBD.

Dibanding tahun 2019 dan 2020 angka kesakitan DBD di Kecamatan Cipayung pada tahun 2021 kini lebih tinggi, diduga akibat faktor pandemi Covid-19 yang belum menunjukkan tanda berakhir.

"Jadi mungkin bisa saja ya karena fokus, masyarakat mungkin juga jadi terbagi. Bisa saja fokus ke Pandemi Covid-19 ini tapi melupakan," kata Rini di Cipayung, Jakarta Timur, Minggu (23/5/2021).

Alasannya sejak tahun 2019 kegiatan pemberantasan sarang nyamuk (PSN) di Kecamatan Cipayung yang dilakukan tiga kali dalam satu pekan cukup ampuh menekan kasus DBD.

Namun pada tahun 2021 justru terjadi kenaikan kasus DBD, tiga Kelurahan di Kecamatan Cipayung dengan laju kecepatan IR DBD tertinggi saat ini Setu, Cilangkap, dan Ceger.

"Kemarin itu selalu kita (Puskesmas) selalu proling (promosi kesehatan keliling), tapi sejak kasus agak turun untuk proling kita hentikan dulu sementara. Kita khawatir sering kontak dengan masyarakat, enggak jaga jarak," ujarnya.

Baca juga: Jenazah Trio Pemuda Asal Buaran yang Meninggal Sehari Setelah Vaksin Diautopsi Pagi Ini

Baca juga: Ayu Ting Ting Viral Disebut Pelit ke Pengemis, Ayah Rozak Ungkap Soal Trauma

Baca juga: Hasil Liga Italia - AC Milan Amankan Tiket Liga Champions Usai Kalahkan Atalanta

Rini menuturkan pencegahan DBD paling ampuh tetap dengan melakukan 3M, yakni menguras tempat penampungan air, mengubur barang bekas, dan menutup tempat penampungan air.

Tujuannya mencegah nyamuk aedes aegypti berkembang biak, sementara fogging tidak termasuk upaya pencegahan awal karena baru bisa dilakukan setelah ditemukan kasus DBD.

"Fogging ini upaya terakhir, PSN yang harus ditingkatkan. Kalau fogging itu harus ada PE (penyelidikan epidemiologi) positif, jadi memang harus ada kasus di situ, kemudian ada kasus baru, dan hasil jentiknya ada positif," tuturnya.

Sumber: Tribun Jakarta
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved