Melihat Uma Lengge, Rumah Adat Bima yang Telah Berusia Lebih dari 500 Tahun
Bangunan tersebut disebut Uma Lengge. Warga sekitar biasa menggunakan bagian bawah Uma Lengge untuk sekedar duduk bersantai sambil menikmati alam Bima
Penulis: Dwi Putra Kesuma | Editor: Muhammad Zulfikar
Laporan Wartawan TribunJakarta.com, Dwi Putra Kesuma
TRIBUNJAKARTA.COM, WAWO – Memiliki alam yang luar biasa indah dan nilai budaya yang begitu kuat nan kental, Desa Wisata Maria berhasil membuat Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif, Sandiaga Uno, terkesima saat mengunjunginya pada Minggu (13/6/2021) pekan lalu.
Desa Wisata Maria ini berada di atas perbukitan dengan ketinggian kurang lebih 600 meter diatas permukaan laut (MDPL), terletak di Kecamatan Wawo, Bima, Nusa Tenggara Barat (NTB).
“Saya di Desa Maria sangat terpukau, tidak hanya dengan alamnya, tapi juga budayanya," kata Sandiaga di lokasi acara didampingi publik figur yang terkenal dengan jargon ‘Ashiap’ Atta Halilintar beserta istrinya, Aurel Hermansyah.
Sandiaga juga yakin, dengan beberapa perbaikan dari segi konstruksi dan sebagainya, Desa Wisata Maria akan menjadi satu di antara sejumlah destinasi wisata favorit di Indonesia.
“Wawo adalah salah satu kecamatan yang berada sekitar 600 MDPL, yang tentu punya beragam kekhasan. Oleh karena itu mudah-mudahan akan bangkitkan pariwisata yang sempat down di dua tahun terakhir ini,” katanya saat itu didampingi publik figur lainnya, Rigen Rakelna yang merupakan komika tanah air.
Hal yang paling menarik perhatian di Desa Wisata Maria, adalah bangunan rumah kayu bertingkat yang memiliki ukuran lebar dan panjang 2x2 meter, dengan tinggi kurang lebih lima meter.
Bangunan tersebut disebut Uma Lengge. Warga sekitar biasa menggunakan bagian bawah Uma Lengge untuk sekedar duduk bersantai sambil menikmati alam Bima.
Bahkan, saat TribunJakarta berkunjung kesana, tak sedikit warga yang tengah menenun kain di bagian bawah Uma Lengge.
Sementara pada bagian atas, terdapat ruangan yang digunakan untuk menyimpan hasil tani berupa padi, jagung, dan masih banyak lainnya.
Ketua Lembaga Adat Desa Wisata Maria, Muhammad Hasan (83), mengatakan, Uma Lengge ini berasal dari dua suku kata, yakni Uma dan Lengge.
“Uma Lengge ini berawal dari kata Uma dan Lengge, Uma itu rumah, dan lengge itu lenggo, tinggi dia, sehingga kata lainnya itu rumah padi,” ujar Muhammad Hasan pada TribunJakarta.com.
Baca juga: Kapolda Metro Jaya Tinjau Penerapan PPKM Mikro di Asrama Polisi Tangguh Jaya RW 013 Bidara Cina
Baca juga: Swab Test di Kecamatan Karawaci, 50 Persen Pesertanya Positif Covid-19
Baca juga: Mencicipi Tempe To The Moon, Gorengan Kekinian yang Ukurannya Sebesar Telapak Tangan
Dikatakan oleh Hasan, Uma Lengge ini sudah berusia lebih dari 500 tahun lamanya.
“Uma Lengge ini sudah berusia 500 tahun lebih,” ujar Hasan dalam bahasa Bima.
Total, hingga saat ini masih ada 113 Uma Lengge yang ada di Desa Wisata Maria.
“Ada 113 Uma Lengge ya yang seperti ini,” katanya.
Hasan mengatakan, proses pembangunan Uma Lengge ini dikerjakan secara gotong royong oleh warga sekitar.
Hal yang cukup unik, Uma Lengge dibangun tanpa menggunakan paku besi, melainkan pasak kayu yang berukuran cukup besar.
“Iya makanya ini (Uma Lengge) lain dari yang lain, dulu kami tidak diperkenankan pakai paku. Sudah matang perhitungan orang tua,” ujar Hasan.
Meski dibangun tanpa menggunakan paku besi, Uma Lengge masih berdiri kokoh selama ratusan tahun, dan kuat diterjang cuaca ekstrem.
Atapnya yang berbentuk kerucut pun tak menggunakan genting, melainkan daun rumbia yang disusun secara berjajar seperti jerami.
Daun rumbia ini pun cukup kuat menahan derasnya hujan, dan dijamin tidak akan bocor ke dalam tempat penyimpanan hasil tani yang ada di lantai dua.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jakarta/foto/bank/originals/uma-lengge-rumah-adat-di-desa-wisata-maria.jpg)