Ibu Ageng Meninggal, Mengenal Peran Penting Sang Suami Sarwo Edhie Wibowo Penumpas G30S PKI

Peran Sarwo Edhie Wibowo dalam menumpas Gerakan 30 September atau yang dikenal G30S PKI sangat besar. Suami Ibu Ageng serta mertua SBY.

Penulis: Ferdinand Waskita | Editor: Yogi Jakarta
istemiwa handout Tribunjambi/wikipedia
Sarwo Edhi Wibowo. Peran Sarwo Edhie Wibowo dalam menumpas Gerakan 30 September atau yang dikenal G30S/PKI sangat besar. 

Perintah itu datang dari Soeharto, dan didapat di kantor KOSTRAD, di mana waktu itu Nasution hadir juga.

Baca juga: Anies Baswedan: Sunarti Sri Hadiyah Sosok di Balik Perjuangan Sarwo Edhie

Dipilih waktu malam atau tepatnya menjelang dinihari menuju Halim adalah untuk menghindari jatuhnya korban.

Pasukan ke Halim ini dipecahkan menjadi dua poros. Dari arah timur bergerak lima tim RPKAD dengan satu kompi panser.

Sedangkan satu lagi dari arah Cawang bergerak batalyon Raider yang diperkuat 22 buah tank. Kesemuanya ini di bawah komando Sarwo Edhie.

Sampai di daerah Halim, matahari hampir muncul, sehingga pelaksanaan penyerangan menjadi tergesa-gesa. Ada panser yang nyasar masuk ke Halim lebih dulu dan sebagainya.

Satu diantara tujuan penyerangan ke Halim ini adalah untuk mencari para jenderal yang diculik.

Namun setelah Halim berhasil diduduki, nasib para jenderal belum diketahui.

Baca juga: Rumah Duka Mertua SBY Didatangi Sejumlah Pelayat

Ketika itu Sarwo mendapat informasi bahwa Soeharto diminta menghadap Presiden Sukarno di Bogor.

"Karena tugas ke Halim adalah atas perintah Pak Harto, maka saya pun menyusul beliau ke Bogor. Dalam arti sebelum Pak Harto berjumpa dengan Bung Karno, akan saya laporkan perkembangan Halim kepada beliau.

Namun ternyata di Istana Bogor saya tidak berhasil menjumpai Pak Harto, karena beliau belum datang. Saya kembali ke Halim dan kemudian melanjutkan perjalanan ke KOSTRAD. Pada saat itu KOSTRAD sudah kosong dan sudah pindah ke Senayan.

Ternyata Pak Harto sudah menuju Bogor melalui darat, sedangkan saya mempergunakan helikopter. Hal ini saya laporkan kepada Pak Nasution dan Pak Sarbini yang berada di KOSTRAD Senayan waktu itu."

Namun akhirnya Sarwo Edhie berhasil juga menjumpai Soeharto, meski ia harus mencegat rombongan Soeharto di tengah jalan, ketika Soeharto pulang dari Bogor, tepatnya di daerah Cililitan Jakarta Timur.

Jasa anggota Polisl

Sarwo menyebutkan, jasa yang amat besar dalam menemukan areal penculikan para jenderal sebenarnya berada dalam diri seorang polisi.

Peristiwa itu terjadi setelah pasukannya berhasil menduduki Halim.

Halaman
123
Sumber: Intisari
Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved