Ibu Ageng Meninggal, Mengenal Peran Penting Sang Suami Sarwo Edhie Wibowo Penumpas G30S PKI
Peran Sarwo Edhie Wibowo dalam menumpas Gerakan 30 September atau yang dikenal G30S PKI sangat besar. Suami Ibu Ageng serta mertua SBY.
Penulis: Ferdinand Waskita | Editor: Yogi Jakarta
TRIBUNJAKARTA.COM - Peran Sarwo Edhie Wibowo dalam menumpas Gerakan 30 September atau yang dikenal G30S/PKI sangat besar.
Sarwo Edhie Wibowo merupakan mertua Presiden ke-6 RI Susilo Bambang Yudhoyono.
Keluarga besar SBY sedang berduka atas wafatnya Sunarti Sri Hadiyah atau akrab disapa Ibu Ageng yang tak lain istri Sarwo Edhie Wibowo.
Ibu Ageng menghembuskan nafas terakhir pada usia 91 tahun pada Senin (20/9/2021) sore.
Sedangkan, Sarwo Edhie Wibowo meninggal pada 9 November 1989.
Majalah Hai sempat menurunkan artikel mengenai sosok Sarwo Edhie Wibowo saat menumpas pemberontakan Gerakan 30 September.
Baca juga: Takziyah ke Mertua SBY, Anies Baswedan Terkenang Dengar Kabar Duka Saat Kuliah di UGM
Sarwo Edhie Wibowo menjabat sebagai Komandan RPKAD (sekarang Kopasus) saat peristiwa G30S/PKI pada tahun 1965.
RPKAD merupakan pasukan yang berdiri paling depan dalam menumpas gerombolan komunis itu.
Pak Sarwo, begitu panggilan akrabnya masih ingat adegan peradegan ketika ia masih memimpin pasukan memberantas PKI.

Terutama peristiwa di hari 1 Oktober 1965.
Kenangan ini oleh Pak Sarwo diibaratkan sebagai suatu tonggak bersejarah, baik oleh dirinya maupun oleh bangsa dan negara.
Perintah kepada Sarwo Edhie
Saat gejolak G30S/PKI, Sarwo saat itu masih berpangkat Kolonel.
Pangkat itu, menurut Sarwo, sebagai jenjang pangkat yang terpendek. Karena setahun kemudian, ia menjadi Brigadir Jendral.
Tengah malam (tanggal 1 Oktober), Sarwo Edhie mendapatkan perintah untuk menyerbu Halim Perdana Kusuma.