Macan Tutul Jawa Masih Ada di Gunung Sanggabuana, Terekam Kamera Kang Dedi: Terkam Domba Warga
Macan tutul Jawa ternyata masih ada di Gunung Sanggabuana, Karawang, Jawa Barat.
Penulis: Elga Hikari Putra | Editor: Yogi Jakarta
TRIBUNJAKARTA.COM - Macan tutul Jawa ternyata masih ada di Gunung Sanggabuana, Karawang, Jawa Barat.
Hal itu diketahui dari kamera trap yang dipasang Anggota DPR Dedi Mulyadi dan Taman Nasional Gunung Halimun Salak (TNGHS).
Total ada 10 unit kamera trap yang terpasang di Gunung Sanggabuana, 8 unit dari TNGHS dan 2 unit dari Kang Dedi.
Kamera trap dengan sensor gerak dan infra merah yang dipasang mantan bupati Purwakarta dan tim Sanggabuana Wildlife Expedition ini ternyata berhasil merekam macan tutul jawa (Panthera pardus melas).
Di salah satu titik pemasangan, dua kamera dipasang berhadapan, satu dengan mode perekaman video dan satu dengan mode perekaman foto.
Baca juga: Saya Datang untuk Melindungi Sanggabuana Tegas Kang Dedi Lihat Alam Dirusak hingga Macan Ngamuk
Kang Dedi Mulyadi alias KDM memberikan kamera trap itu setelah Komisi IV DPR menerima informasi dari Sanggabuana Wildlife Expedition yang dilakukan sejak Juli 2020 di jajaran Pegunungan Sanggabuana terkait keberadaan macan tutul jawa.
Kang Dedi yang memang begitu peduli terhadap masalah alam ini begitu antusias saat melihat sendiri rekaman dari kamera trap bahwa ada keberadaan macan tutul Jawa di Gunung Sanggabuana.
Hal itu terlihat dari video Youtube Kang Dedi Mulyadi Channel saat dirinya bersama aktivis Sanggabuana Wildlife Expedition dan anggota Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan mengecek rekaman kamera trap itu di Gunung Sanggabuana.

Dalam rekaman itu dijelaskan bahwa macan tutul Jawa itu terlihat di empat titik.
Rekaman yang paling jelas terlihat pada 10 September 2021 pukul 05.16 WIB di mana seekor Macan tutul Jawa yang diperkirakan betina mengorek-ngorek tanah tepat di depan kamera trap dipasang.
Selain itu, disebutkan dia mengeluarkan urine di sana untuk menandakan daerah jangkauannya.
Sedangkan pada pukul 10 di hari yang sama, macan tutul diduga yang sama juga tereka kamera foto yang terpasang.
Diduga Makan Domba Warga
Diduga macan tutul Jawa itu hendak turun ke wilayah peternakan warga untuk menerkam domba ternak.
Baca juga: Kang Dedi Beri Domba ke Warga Sanggabuana, tapi Harus Ikhlas Bila Dimakan Macan: Mereka Butuh Makan
Pasalnya, ada laporan bahwa sudah nyaris 30 ekor domba warga mati diterkam macan dari Gunung Sanggabuana.
"Dimungkinkan dia lewat tanggal 10 September kejadian domba mati 2 ekor tanggal 11 (September), jadi ini dia turun," ujar Leader Sanggabuana Wildlife Expedition yang juga peneliti satwa liar, Bernard T Wahyu Wiryanta yang ikut bersama Kang Dedi.
Diketahui, sebelumnya Kang Dedi mendapatkan laporan adanya ternak warga yang diserang macan dan dia pun langsung mengecek hal itu ke lokasi di kaki Gunung Sanggabuana.
Buktikan Macan Tutul Masih Ada
Dilansir dari Kompas.com, Kang Dedi menjelaskan, pihaknya sengaja memasang kamera trap ini untuk membuktikan keberadaan satwa langka endemik jawa yang ada di gunung Sanggabuana.

Kegiatan itu sekaligus juga sebagai bentuk dukungan atas penelitian dan kajian yang dilakukan oleh tim Sanggabuana Wildlife Expedition yang sudah dilakukan sejak tahun 2020.
“Jadi temuan dari teman-teman ekspedisi ini perlu dibuktikan secara visual, dan saya turun langsung ke lapangan.
Mereka perlu bantuan kamera trap, kita usahakan untuk dibantu.
Kekurangannya disuport oleh Pak Dirjen dengan mengirim tim dari Halimun Salak," kata Kang Dedi.
Kang Dedi mengatakan, selama ekspedisi, ia menyaksikan sendiri owa jawa bergelantungan di hutan dan elang jawa terbang di atas hutan gunung Sanggabuana.
"Masih bebas beterbangan," kata Kang Dedi Mulyadi alias KDM.
Baca juga: Lihat Hutan Digunduli, Kang Dedi Yakin Ini Penyebab Macan Serang Ternak Warga: Minta Maaf Sama Alam
“Saya akan ajukan Sanggabuana menjadi Taman Nasional,” lanjut dia.
Sementara itu, Leader Sanggabuana Wildlife Expedition yang juga peneliti satwa liar, Bernard T Wahyu Wiryanta, mengatakan, terekamnya macan tutul jawa di hutan gunung Sanggabuana ini adalah kabar menggembirakan.
“Ini bukan hanya berlaku untuk macan tutul jawa saja, tetapi juga untuk elang jawa (Nisaetus bartelsi), owa jawa (Hylobates moloch) dan lutung jawa (Trachypithecus auratus).
Empat spesies satwa endemik jawa ini banyak ditemukan di Sanggabuana, yang notabene bukan kawasan konservasi.

Dan populasinya masih banyak," kata Bernard dalam keterangan tertulis.
Kepala Balai Taman Nasional Gunung Halimun Salak (TNGHS) yang ditugaskan oleh Dirjen KSDAE untuk membantu melakukan pendataan satwa di Sanggabuana dengan kamera trap menambahkan bahwa macan tutul jawa yang terekam kamera trap tersebut adalah individu macan tutul jawa betina.
“Macan tutul betina dewasa ini terekam bergerak dari arah selatan ke utara dan kembali menggunakan jalur yang sama.
Dari data kamera trap, individu ini terekam pada pukul 5 dan 10 pagi di hari yang sama.
Selain macan tutul, juga terekam babi hutan, musang, dan tikus hutan yang merupakan pakan alaminya,” kata Munawir.
Selain itu, Munawir dan tim selama pemasangan kamera trap juga berhasil mengidentifikasi suara dan visual sebanyak 40 jenis burung yang ada di Sanggabuana, 3 jenis primata, dan 3 raptor.
“Ini kabar baik dan menunjukkan bahwa biodiversity Sanggabuana masih baik, apalagi status hutan ini adalah hutan di luar kawasan konservasi," kata Munawir.
Baca juga: Puluhan Domba Mati Diserang Macan, Kang Dedi Justru Salahkan Manusia: Ini Bukan Kampung
Macan tutul jawa atau juga biasa disebut maung merupakan satwa yang dilindungi menurut Peraturan Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan No. P. 106/MENLHK/SETJEN/KUM/1/12/2018.
Peraturan Menteri itu Tentang Perubahan Kedua Atas Peraturan Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan No. P.20.MENLHK/SETJEN/KUM/1/6/2018 Tentang Jenis Tumbuhan dan Satwa Yang Dilindungi.
Memburu dan memperdagangkan macan tutul jawa, juga satwa dilindungi lain, sesuai UU No. 5 Tahun 1990 tentang Konservasi Sumber Daya Alam Hayati dan Ekosistemnya.
Bila melanggar bisa dipidana dengan hukuman penjara 5 tahun dan denda Rp 100.000.000.