2 Hari Susah Tidur, Cerita Penggali Makam Ibu & Anak di Subang saat Autopsi Ulang: Keingetan Terus

Penggali makam ibu dan anak di Subang mengaku dua hari tak bisa tidur setelah melakukan tugasnya tersebut.

Penulis: Siti Nawiroh | Editor: Yogi Jakarta
Tribun Jabar/Dwiki MV
Tenda hitam dipasang di makam Tuti Suhartini dan Amalia Mustika Ratu di TPU Istuning, Desa Jalancagak, Kecamatan Jalancagak, Kabupaten Subang, Sabtu (2/10/2021). Tenda tersebut untuk keperluan autopsi ulang jenazah kedua korban. 

TRIBUNJAKARTA.COM - Penggali makam ibu dan anak di Subang mengaku dua hari susah tidur setelah melakukan tugasnya tersebut.

Dede Oman, salah satu penggali makam Tuti Suhartini dan Amalia Mustika Ratu mengaku terus teringat almarhumah.

Diketahui, sudah lebih dari 45 hari perampas nyawa ibu dan anak di Subang belum juga terungkap.

Beberapa waktu lalu, polisi memutuskan kembali melakukan autopsi terhadap jenazah Tuti dan Amalia, Sabtu (2/10/2021).

Autopsi itu dilakukan demi mendalami penyebab keduanya meregang nyawa.

Baca juga: Nyawa istri & Anaknya Dirampas, Yosef Nangis Curhat Tak Bisa Hidup Tanpa Yoris: Dia Satu-satunya

Dua penggali kubur di Desa Jalan Cagak mengurai cerita soal pengalamannya.

Dikutip dari YouTube Heri Susanto, mulanya dua penggali kubur tersebut menceritakan proses pembongkaran makam.

Kala itu, proses pembongkaran dimulai pada pukul 14:00 WIB.

Tampak terlihat kedua nisan Tuti dan Amalia di TPU Istuning, Desa Jalancagak, Kecamatan Jalancagak, Kabupaten Subang, Minggu (3/11/2021), tidak terpasang dan hanya tergeletak begitu saja sehari pascajenazah keduanya dibongkar untuk kepentingan autopsi ulang.
Tampak terlihat kedua nisan Tuti dan Amalia di TPU Istuning, Desa Jalancagak, Kecamatan Jalancagak, Kabupaten Subang, Minggu (3/11/2021), tidak terpasang dan hanya tergeletak begitu saja sehari pascajenazah keduanya dibongkar untuk kepentingan autopsi ulang. (Tribun Jabar/Dwiki Maulana)

Carman, salah seorang tukang gali kubur menyebut tugasnya hanya sebagai penggali makam.

Setelah mengambil jasad Tuti dan Amalia di kuburan, Carman langsung serahkan ke dokter forensik untuk diautopsi.

Selama proses autopsi berlangsung, Carman dan rekannya sesama tukang gali kubur dilarang melihat ke dalam tenda autopsi.

Carman bercerita, ia mengangkat jenazah Ibu Amalia dulu ke meja autopsi lalu diminta keluar tenda.

"Yang pertama Saya gali itu (jenazah) ibu Tuti selama 1,5 jam. Sesudah itu Saya mengambil jenazah dalam keadaan sudah membusuk dan baunya menyengat,"

"Langsung Saya angkat ke meja autopsi. Setelah itu Saya disuruh ke luar oleh petugas kepolisian," ungkap Carman dikutip TribunJakarta.com, Jumat (8/10/2021).

Baca juga: Sudah 3 Bayi Dijual Dukun Beranak dalam Setahun, Ibu Korban Diberi Imbalan Rp 50 Ribu - Rp 1 Juta

Selesai jasad Tuti diautopsi, Carman dan lima rekannya pun bergegas menguburkan kembali korban pembunuhan itu.

Setelahnya, Carman menggali kuburan Amalia.

Terkait tugasnya sebagai penggali makam Tuti dan Amalia, Dede Oman memberi penjelasan.

Tenda hitam dipasang di makam Tuti Suhartini dan Amalia Mustika Ratu di TPU Istuning, Desa Jalancagak, Kecamatan Jalancagak, Kabupaten Subang, Sabtu (2/10/2021). Tenda tersebut untuk keperluan autopsi ulang jenazah kedua korban.
Tenda hitam dipasang di makam Tuti Suhartini dan Amalia Mustika Ratu di TPU Istuning, Desa Jalancagak, Kecamatan Jalancagak, Kabupaten Subang, Sabtu (2/10/2021). Tenda tersebut untuk keperluan autopsi ulang jenazah kedua korban. (Tribun Jabar/Dwiki MV)

Tugas sebagai penggali makam korban pembunuhan adalah perintah langsung dari desa yang bekerja sama dengan pihak kepolisian.

Pasalnya, tak sembarangan orang bisa melakukan tugas tersebut.

"Saya sudah resmi diperdeskan menjadi pengurus makam istuning Desa Jalan Cagak, dusun 1,"

"Saya dulu pas pembunuhan yang menggali dan menguburkan (Tuti dan Amalia). Jadi Saya sudah ada perdesnya dengan ketetapan hukum," ungkap Dede Oman.

"Setelah Saya menguburkan itu, sudah diambil alih sama Mabes, baru ada informasi mau ada penggalian. Diinformasikan oleh Polsek Jalan Cagak bahwa ada penggalian lagi," sambungnya.

Ikut dalam tim penggali kubur korban pembunuhan, Dede Oman mengungkap pengalamannya.

Usai melakukan tugasnya, Dede Oman sampai tak bisa makan selama tiga hari.

Baca juga: Merasa Terancam, Istri Yoris Takut Suami Jadi Target Berikutnya Pembunuh Amel Tuti: Tidur Tak Nyaman

Selain itu, Dede Oman juga mengaku tak bisa tidur selama dua hari.

Hal tersebut lantaran Dede Oman teringat dengan jenazah Tuti dan Amalia.

"Saya pribadi, tiga hari Saya tidak makan, dua hari tidak tidur, keingetan terus,"

Tenda plastik terpasang di makam Tuti Suhartini dan Amalia Mustika Ratu. Polisi melakukan autopsi ulang terhadap kedua korban kasus Subang.
Tenda plastik terpasang di makam Tuti Suhartini dan Amalia Mustika Ratu. Polisi melakukan autopsi ulang terhadap kedua korban kasus Subang. (Tribun Jabar/Dwiki MV)

"Karena Saya yang di bawah, ngambil (jenazah) dari bawah itu Saya, sudah basah. Bisa dibayangkan, hawa tertutup. Tiga hari itu Saya masih enek saja, kayak masih ada yang nempel," ungkap Dede Oman.

Terlebih diakui Dede Oman, momen menggali kubur dan membantu proses autopsi korban pembunuhan adalah pengalamannya yang pertama.

"Dulu mah Kita kalau lihat autopsi ulang, ah di TV. Sekarang Kita ngalamin,"

"Bagaimana rasanya sampai malam, keinget terus sampai tidak bisa tidur," akui Dede Oman.

Turut prihatin atas peristiwa pembunuhan yang menimpa Tuti dan Amalia, Dede Oman berharap kasus tersebut cepat terselesaikan.

"Mudah-mudahan dengan autopsi ulang kembali, secepatnya terungkap," harap Dede Oman.

Keluarga resah

Sudah sebulan lebih kasus dugaan pembunuhan Amelia Mustika Ratu (24) dan Tuti Suhartini (55) belum terungkap.

Di sisi lain, keluarga rupanya merasakan keresahan lantaran perampas nyawa Amelia dan Tuti masih berkeliaran.

Keresahan itu salah satunya dirasakan oleh Yanti istri Yoris.

Yoris merupakan anak tertua dari Tuti dan suaminya, Yosef.

Yoris juag merupakan kakak Amalia Mustika Ratu yang juga jadi korban perampasan nyawa tersebut.

Yanti Jubaedah (25) saat ditemui Tribun di kediaman keluarga di Dusun Jalancagak, Desa/Kecamatan Jalancagak, Kabupaten Subang, Jawa Barat, Minggu (19/9/2021). (Dwiky Maulana Vellayati/Tribun Jabar)
Yanti Jubaedah (25) saat ditemui Tribun di kediaman keluarga di Dusun Jalancagak, Desa/Kecamatan Jalancagak, Kabupaten Subang, Jawa Barat, Minggu (19/9/2021). (Dwiky Maulana Vellayati/Tribun Jabar) (Dwiky Maulana Vellayati/Tribun Jabar)

Yanti dan sejumlah tetangga di sekitar TKP mengaku resah dan kini lebih waspada.

Mereka khawatir, perampas nyawa Tuti dan Amelia bisa melakukan hal serupa kepada orang lain.

Di sisi lain, Yanti merasa takut suaminya bakal menjadi korban berikutnya.

“Saya juga sangat takut, karena emang tinggal satu-satunya Yoris, Mamah sama Amel sudah dibunuh,"

"Jadi tinggal satu-satunya A Yoris aja,” ujar Yanti Jubaedah, istri Yoris, dikutip Tribunjabar.id dari KompasTV, Minggu (3/10/2021).

Karena pelaku belum terungkap, Yanti mengaku jadi kesulitan untuk tidur.

Ia pun gelisan bahkan tidur pun menjadi tidak nyaman.

Baca juga: Dendam Kesumat 11 Tahun Lalu Jadi Motif Pengusaha Sewa Pembunuh Bayaran Habisi Nyawa Paranormal

“Jadi saya tuh tidak nyaman serasa terancam, jadi takut kalau tidur, takutnya dibunuh kayak gitu,” ujar Yanti.

Namun, di balik rasa ketakutannya ia mengaku terus berharap agar polisi segara menangkap pelaku.

(TribunJakarta/TribunJabar/TribunBogor)

Sumber: Tribun Jakarta
Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved