Warga Keluhkan KBT Tampak Kumuh, Gundukan Lumpur sejak Banjir 2020 Tidak Diangkut

Gundukan lumpur dengan luas sekitar 100 meter dan lebar enam meter dikeluhkan karena membuat aliran KBT tampak kumuh.

Penulis: Bima Putra | Editor: Jaisy Rahman Tohir
Bima Putra / Tribun Jakarta
Tampak gundukan lumpur di aliran Kanal Banjir Timur (KBT) wilayah Kelurahan Cipinang Besar Selatan, Jatinegara, Jakarta Timur, Minggu (14/11/2021). 

Laporan Wartawan TribunJakarta.com, Bima Putra

TRIBUNJAKARTA.COM, JATINEGARA - Gundukan lumpur di aliran Kanal Banjir Timur (KBT) wilayah Kelurahan Cipinang Besar Selatan, Kecamatan Jatinegara, Jakarta Timur dikeluhkan warga setempat.

Nurul (36), warga sekitar KBT, mengatakan, gundukan lumpur dengan luas sekitar 100 meter dan lebar enam meter dikeluhkan karena membuat aliran KBT tampak kumuh.

"Enggak enak dipandang, walaupun enggak merugikan warga seperti bikin banjir tapi jadi terlihat kumuh. Banyak sampah tersangkut juga," kata Nurul di Jakarta Timur, Minggu (14/11/2021).

Menurutnya, gundukan lumpur sudah ada sejak bulan Juni 2021 saat musim panas melanda dan tinggi muka air di aliran KBT surut di beberapa titik hingga terlihat bagian dasar.

Awalnya warga tidak mengeluh karena pada musim panas debit air aliran KBT memang kerap surut hingga terlihat bagian dasar, mereka menganggap sebagai dampak cuaca.

Namun memasuki musim hujan sejumlah titik yang terlihat bagian dasarnya terlihat kini sudah hilang tertutup debit air, sementara gundukan lumpur masih tampak.

"Ini sudah masuk musim hujan gundukannya masih ada. Berarti kan lumpurnya mengeras sampai lebih tinggi dari air. Sekarang sampai ditumbuhi rumput begitu. Sudah seperti kebun liar saja," ujarnya.

Baca juga: Banjir 2,5 Meter Surut, Permukiman Kebon Pala Tertimbun Lumpur 40 Sentimeter

Menurut Nurul, gundukan lumpur yang kini mengeras hingga serupa pulau kecil di tengah aliran KBT awalnya terbawa saat banjir besar tahun 2020 ketika Kali Ciliwung meluap.

Lantaran tidak kunjung dikeruk oleh Balai Besar Wilayah Sungai Ciliwung Cisadane (BBWSCC) selaku pengelola aliran KBT, lumpur tersebut mengeras dan kini menjadi gundukan.

"Padahal di sisi bantaran (KBT) itu kan sudah ditanam tanaman, biar enak dilihat warga. Dirawat juga, sementara di bagian tengahnya justru kumuh, tumbuh lumpur, sampah menyangkut," tuturnya.

Yusuf (40), warga lainnya menuturkan dalam beberapa waktu terakhir pemerintah mengerahkan dua ekskavator di aliran KBT wilayah Kelurahan Cipinang Besar Selatan tepat di lokasi gundukan.

Baca juga: Gubernur Anies Ungkap Indikator Utama Penanganan Banjir: Nomor 1 Semua Warga Selamat

Tapi hingga kini gundukan lumpur di tengah aliran KBT tersebut tidak kunjung dikeruk, padahal warga tidak keberatan dengan dampak pengerjaan bila dilakukan pengerukan.

"Beberapa hari lalu malah bekonya itu ada di gundukan lumpur, tapi sekarang dipindah lagi ke bantaran. Enggak tahu lah bagaimana pengerjaannya dan untuk apa," kata Yusuf.

Terpisah, Wakil Camat Jatinegara Endang Kartika mengatakan dua ekskavator yang ditempatkan di aliran KBT wilayah Kelurahan Cipinang Besar Selatan itu milik Kementerian PUPR.

Bukan milik Dinas Sumber Daya Air (SDA) atau Dinas Lingkungan Hidup (LH) DKI Jakarta karena pengelolaan aliran KBT ditangani Kementerian PUPR melalui BBWSCC.

"Kayaknya (ekskavator untuk) mengeruk. Itu alat dari lementerian PUPR, BBWSCC. KBT kewenangan PUPR," ujar Endang.

Sumber: Tribun Jakarta
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2023 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved