Malam-malam, Damkar Depok Evakuasi Sarang Tawon Hingga Spesies Ular Serigala
Personel Damkar Depok mengevakuasi sarang tawon hingga ular yang masuk rumah warga pada Jumat (19/11/2021).
Penulis: Dwi Putra Kesuma | Editor: Ferdinand Waskita Suryacahya
Setelah menetas, anak ular ini akan keluar dari sarangnya dan bergerak ke segala penjuru untuk mencari makan serta minum.
"Anak ular tidak menyusu dan tidak tinggal dengan induknya. Si induk ular sudah pergi meninggalkan telur sesaat setelah di sembunyikan dalam lubang untuk ditetaskan. Induk ular kobra tidak mengerami telur," kata Welman dalam keterangan resminya, Selasa (16/11/2021).
Lanjut Welman, ular biasanya lebih suka bersembunyi di tempat yang kering dibandingkan tempat basah.
Biasanya, ular menyenangi tempat-tempat yang banyak hewan buruannya seperti tikus, katak, kadal, cicak, dan lain-lainnya.
"Ular akan bertahan di satu tempat yang banyak makanannya dan juga ada lokasi sembunyi yang aman dan kering, dan akan berpindah bila tempat tersebut tidak ditemukan sumber makanan," tuturnya.
Oleh sebab itu, Welman mengimbau masyarakat agar senantiasa menjaga kebersihan di dalam rumah dan juga lingkungan sekitar.
"Bersihkan area kebun, pindahkan pot -pot tanaman, tata ulang. Tumpukan material di rapikan, sampah buang secara rutin. Jika induk kobra menaruh telur di halaman rumah, bisa diketahui jika kita menyapu atau menggali atau memindahkan material yang tidak terawat," ungkapnya.
Lanjut Welman, untuk mencegah keberadaan ular di pemukiman juga bisa dilakukan dengan membasmi sumber makanannya.
"Untuk mengurangi atau membasmi tikus di rumah dan sekitar. Tikus mengeluarkan bau, kotoran yang memancing ular datang," jelasnya.
Kemudian, warga juga diimbau untuk mengecek lubang-lubang yang berpotensi menjadi sarang ular.
"Semprot mewangian ruangan di dalam rumah. Wangi menyengat tidak disukai oleh ular karena mengganggu penciumannya terhadap mangsa dan musuh. Wangi menyengat hanya efektif di ruang tertutup. Bukan di teras atau halaman rumah terbuka," imbuhnya.
Selanjutnya, Welman berujar agar masyarakat senantiasa menyiapkan alat untuk mengevakuasi, dan belajar mengidentifikasi ular.
"Latih keluarga yang harus dilakukan jika bertemu ular. Jangan pegang ular, jangan bunuh ular, amati pergerakan ular dan jika memungkinkan isolasi pergerakan ular panggil tim snake rescue terdekat," bebernya.
"Jika dalam kondisi darurat bisa menghubungi Tim Rescue Damkar Depok atau snake rrescue terdekat. Call center Indonesia snake rescue di nomor +628176800446," timpalnya.
Welman menuturkan bahwa hanya sekira 20 persen ular berbisa yang biasa ditemuman di pemukimanan, sementara 80 persennya adalah ular yang tidak berbahaya.
"Di pulau Jawa, ada 110-an spesies ular, yang berbisa tinggi sekitar 16-17 spesies saja. Kenali, waspada, tapi jangan bunuh ular," pungkasnya.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jakarta/foto/bank/originals/ular-genteng-yang-berhasil-dievakuasi-personel-damkar-depok.jpg)