Food Story
Cerita Pengunjung Toko Eskrim Ragusa: Tempat Kencan Favorit Puluhan Gebetan
"Tapi, dari banyaknya gebetan yang saya ajak ke sini. Istri saya sekarang malah enggak suka es krim," ujarnya seraya tertawa.
Penulis: Satrio Sarwo Trengginas | Editor: Acos Abdul Qodir
Dua orang Italia itu bernama Luigie Ragusa dan Vincenzo Ragusa. Mereka berdua datang untuk belajar jahit di Jakarta.
"Kebetulan mertua saya, Jo Giok Siaw (Yo Giok Siang) juga belajar jahit di situ. Sama-sama belajar jadi kenal. Mereka juga suka datang ke rumah kita di Gang Kelinci IV, Pasar Baru," ceritanya kepada TribunJakarta.com pada Rabu (8/12/2021).

Ketika lulus, mereka berdua pergi ke Bandung. Di sana mereka bertemu dengan teman perempuan di daerah Lembang.
Teman perempuan itu memiliki peternakan sapi tetapi tak terawat.
"Loh kok sapinya enggak terawat, jadi kata Luigi mendingan susunya dijadikan es krim saja. Eh teman perempuan itu menyetujuinya," tambahnya.
Luigie dan Vincenzo pun mulai merintis usaha es krim di Post Weg atau Jalan Pos (sekarang Jalan Naripan).
Menurut Sias, usaha es krim di Bandung belum terlalu besar. Es krim dijual menggunakan gerobak.
Baca juga: Wisata Kota Tua Mulai Bergeliat di Tengah Pandemi: Menziarahi Pahlawan Hingga Menengok Sumur Tertua
Setelah berhasil lantaran banyak yang menyukai es krimnya, mereka berdua mengembangkan usahanya ke Jakarta.
Sekitar tahun 1932, Luigie dan Vincenzo mendirikan Restoran dan Es Krim Ragusa di Pasar Gambir. Namun, usaha di sana hanya bertahan hingga tahun 1945.
"Katanya tahun 1945 sepi, karena sudah merdeka, orang-orang asing pada pergi. Banyak yang pulang ke negaranya," ceritanya.
Mereka pun kemudian mencari tempat lain dan menemukan tempat di Citadel Weg atau sekarang bernama Jalan Veteran I, Gambir, Jakarta Pusat sekitar tahun 1947.
Selama menjalani usaha ini, kedua orang Italia tersebut dibantu oleh Jo Giok Siaw. Anak-anaknya pernah turut bekerja di tempat itu.
Sedangkan Sias Mawarni merupakan menantu dari Jo Giok Siaw.
"Kakak ipar saya pernah jadi kasir. Kalau suami saya yang bikin es krim. Dia juga betulin mesin dari tahun 1973," ucapnya.
Bisnis es krim ini kemudian dihibahkan kepada Sias dan suaminya di tahun 1972.
Bahkan, jumlah cabang Ragusa pernah mencapai 20 cabang di wilayah Jakarta saat dikelola oleh Sias dan suaminya. Namun, berkurang drastis akibat kerusuhan di Indonesia.
Kendati demikian, Kedai Es Krim Italia Ragusa di Jalan Veteran I pun tetap dipertahankan dan setia menemani pengunjung menikmati sajian manis nan legendaris itu sampai sekarang.