Bicara Aceh dari Jakarta, Anies Cerita Sosok Sultan Alaiddin Muhammad Daud Syah
Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan bagikan kisah perjuangan Sultan Aceh kala resmikan pemugaran komplek makam Sultan Alaiddin Muhammad Daud Syah.
Penulis: Nur Indah Farrah Audina | Editor: Jaisy Rahman Tohir
Laporan Wartawan TribunJakarta.com, Nur Indah Farrah Audina
TRIBUNJAKARTA.COM, PULOGADUNG - Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan bagikan kisah perjuangan Sultan Aceh kala resmikan pemugaran komplek makam Sultan Alaiddin Muhammad Daud Syah di TPU Utan Kayu, Jakarta Timur, Senin (13/12/2021) kemarin.
Melalui laman Instagram pribadinya, orang nomor satu di DKI ini membagikan kisah perjuangan Sultan Daud.
Ia mengatakan Sultan Daud merupakan Sultan Aceh terakhir yang wafat dalam pengasingan di Batavia pada 6 Februari 1939 silam.
Perjuangan Sultan Daud, kata Anies memiliki ongkos yang amat mahal.
Pasalnya ia melepaskan semua yang menjadi kenyamanannya.
"Seorang yang dilahirkan di keluarga kesultanan dan memilih berjuang bersama rakyat. Itu adalah masa di mana kemerdekaan belum terlihat di depan mata. Itu adalah masa di kala orang memilih berjuang berdasarkan nilai yang diyakini sebagai kebenaran," isi caption tersebut yang dikutip TribunJakarta.com, Selasa (14/12/2021).
Oleh sebab itu, Anies secara khusus menyampaikan terima kasih dan apresiasi kepada masyarakat Aceh.
Baca juga: Makna Pendopo & Lukisan Diponegoro di Konten YouTube Anies, Pengamat Singgung Masa Kecil Gubernur
Menurutnya, rakyat Aceh telah memiliki catatan sejarah gemilang di dalam mengusir kolonialisme.
"Kisah perjuangan Sultan Daud berakhir ribuan kilometer dari Aceh, beliau dikuburkan di tanah Jakarta. Karena itu kami ingin menyampaikan rasa hormat dengan memberikan pemugaran atas makam yang selama ini belum banyak dikenal, sebagai makam seorang tokoh amat penting, dalam perjalanan melawan penjajahan," pungkasnya.
Resmikan Pemugaran
Pada kesempatan yang sama, Anies meresmikan pemugaran komplek makam Sultan Alaiddin Muhammad Daud Syah.
Pemugaran sebagai bentuk penghormatan kepada seorang pahlawan yang memilih berjuang untuk bersama rakyat mengusir kolonialisme.
"Perjuangan itu memiliki ongkos yang amat mahal karena dia melepaskan semua yang menjadi kenyamanannya (kehidupan di Istana). Seorang yang dilahirkan di keluarga kesultanan dan memilih berjuang bersama rakyat. Itu adalah masa di mana kemerdekaan belum terlihat di depan mata. Itu adalah masa di mana orang memilih (berjuang) berdasarkan nilai yang diyakini sebagai kebenaran," ucapnya kepada awak media.
Pemugaran sendiri telah dilakukan sejak 27 September hingga 28 November 2021 oleh Dinas Pertamanan dan Hutan Kota Provinsi DKI Jakarta.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jakarta/foto/bank/originals/gubernur-dki-jakarta-anies-baswedan-di-tpu-utan-kayu.jpg)