Terungkap Ritual Lengkap Pria Sragen Hingga Selamatkan Buaya Berkalung Ban, Ada Unsur Malam dan Air

Terungkap ritual khusus Tili berhari-hari sebelumnya, sehingga bisa menangkap buaya berkalung ban di Palu, Sulawesi Tengah. 

Penulis: Elga H Putra | Editor: Y Gustaman
TRIBUNPALU.COM/SALAM/HO
Tili warga asal Sragen, Jawa Tengah usai melepaskan ban dari leher Buaya Berkalung Ban, Senin (7/2/2022) malam. 

Tili namana. Ia warga Sragen yang belum lama merantau ke Palu. Ia menceritakan alasannya memburu buaya berkalung ban.

Tili warga asal Sragen, Jawa Tengah usai melepaskan ban dari leher Buaya Berkalung Ban, Senin (7/2/2022) malam
Tili warga asal Sragen, Jawa Tengah usai melepaskan ban dari leher Buaya Berkalung Ban, Senin (7/2/2022) malam (TRIBUNPALU.COM/SALAM/HO)

Menurut Tili, dia merasa tertantang mematahkan mitos yang berkembang selama ini.

Beredar di kalangan warga Palu, bahwa buaya berkalung ban itu berkaitan dengan hal mistis.

"Memang saya mau lepaskan ban. Banyak yang bilang itu katanya enggak bisa ditangkap," ucap Tili seperti dilansir Youtube tvOneNews, Selasa (8/2/2022).

"Katanya itu bukan ban tapi emas makanya saya mau buktikan di depan masyarakat Palu," sambung dia.

Ritual Khusus Malam Jumat

Tili tak serta merta bisa menangkap buaya lalu melepaskan ban yang mencekik lehernya.

Menurut dia, buaya merupakan hewan perasa yang tidak suka dikasari atau berada dalam suasana ramai.

Baca juga: Pelihara Sejak Kecil, Warga Depok Justru Ketakutan Sendiri Saat Buaya Sudah Berukuran Raksasa

Sehingga dia memerlukan pendekatan selama hampir satu bulan untuk bisa berinteraksi dengan si buaya.

Selama beberapa pekan terakhir, selain memberikan makan setiap hari, Tili rutin mendatangi habitatnya saban malam Jumat untuk ritual.

Dia memberi makan sang buaya berkalung ban dengan seekor ayam.

Tili warga asal Sragen, Jawa Tengah saat memperlihatkan anak dari Buaya Berkalung Ban, Senin (7/2/2022) malam
Tili warga asal Sragen, Jawa Tengah saat memperlihatkan anak dari Buaya Berkalung Ban, Senin (7/2/2022) malam (TRIBUNPALU.COM/SALAM)

"Tiap malam Jumat saya datang kasih makan ayam. Dia (buaya berkalung ban) kemudian muncul, sering main sama saya. Binatang ini harus diperlakukan baik-baik, enggak bisa dikasarin," tuturnya.

Sejak pertama bereksperimen hingga menangkap buaya berkalung ban, Tili tak hanya memberikan umpan ayam.

Dia juga memberikan bebek dan burung merpati sebagai umpan pada buaya tersebut.

"Total ada 30 ekor merpati saya kasih supaya (buaya berkalung ban) kenal sama saya. Setiap pagi saya minum air Sungai Palu supaya saya nggak diganggu," kata dia.

Halaman
123
Sumber: Tribun Jakarta
Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved