Harga Kedelai Naik, Produsen Tahu Tempe di Kampung Tempe Sunter Menjerit

Mereka kebingungan harus berbuat apa karena di satu sisi tak mau kehilangan pembeli, sementara di sisi lain masih harus mencari nafkah.

Penulis: Gerald Leonardo Agustino | Editor: Acos Abdul Qodir
TribunJakarta.com/Gerald Leonardo Agustino
Seorang pekerja di Kampung Tempe, Sunter Jaya, Tanjung Priok, Jakarta Utara, sedang membuat tempe dari kedelai yang kini harganya melambung, Jumat (18/2/2022). 

Laporan Wartawan TribunJakarta.com, Gerald Leonardo Agustino

TRIBUNJAKARTA.COM, TANJUNG PRIOK - Produsen tahu tempe di Kampung Tempe, RT 12 RW 03 Sunter Jaya, Tanjung Priok, Jakarta Utara, 'menjerit' di tengah kenaikan harga kacang kedelai.

Mereka kebingungan harus berbuat apa karena di satu sisi tak mau kehilangan pembeli, sementara di sisi lain masih harus mencari nafkah.

Casmari alias Agus Pora (57), salah satu produsen tahu-tempe di Kampung Tempe, menceritakan kenaikan harga kedelai sudah terjadi berminggu-minggu.

"Kami malah nggak ngeh sudah naik berapa hari (harga kedelai), tapi kira-kira udah empat minggu lewat," kata Agus saat ditemui di lokasi, Jumat (18/2/2022).

Dari yang Agus alami, harga kedelai belakangan ini sudah mencapai Rp 11.000 lebih per kilogramnya.

Baca juga: Minyak Goreng Masih Mahal, Pengusaha Warteg Makin Menjerit Bila Harga Tahu Tempe Naik

Adapun harga sebelum kenaikan yakni biasanya di bawah Rp 10.000.

Kenaikan harga kedelai ini pun sangat berdampak ke para produsen tahu-tempe di sana.

"Sangat berdampak, bagi pengrajin itu biarpun naik sekecil apapun kita terasa sekali," kata Agus.

Pabrik tahu di Kelurahan Bojong Menteng, Kecamatan Rawalumbu Kota Bekasi milik pengrajin bernama Benjo (31), Jumat (18/2/2022).
Pabrik tahu di Kelurahan Bojong Menteng, Kecamatan Rawalumbu Kota Bekasi milik pengrajin bernama Benjo (31), Jumat (18/2/2022). (TRIBUNJAKARTA.COM/YUSUF BACHTIAR)

Di tengah melambungnya harga kedelai, para produsen di Kampung Tempe dihadapkan pada dilema apakah harus ikut menaikan harga tahu-tempe.

Agus sendiri enggan menaikan harga lantaran takut kehilangan pembeli, terutama dari kalangan pedagang makanan.

"Pembeli pasti komplain, karena mereka juga untuk menaikan harga agak berat. Misalnya tukang gorengan, tukang warung makan, dan lain-lain," ucap Agus.

Baca juga: Siap-siap Tahu Bakal Langka di Pasaran, Pengrajin Bakal Mogok Produksi Gegara Harga Kedelai Meroket

Agus mewakili sekitar 250 produsen tahu-tempe di Kampung Tempe lantas berharap pemerintah bertindak menstabilkan kembali harga kedelai.

Sumber: Tribun Jakarta
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved