Terungkap Siapa Dalang Penyebab Minyak Goreng Langka, Mendag Ancam Bakal Bawa ke Meja Hijau
Menteri Perdagangan Muhammad Lutfi mengungkap siapa dalang dari langkanya minyak goreng di pasaran.
TRIBUNJAKARTA.COM - Menteri Perdagangan Muhammad Lutfi mengungkap siapa dalang dari langkanya minyak goreng di pasaran.
Diketahui, sudah beberapa pekan terakhir minyak goreng mengalami kelangkaan.
Warga bahkan rela antre berjam-jam demi mendapatkan minyak goreng dengan harga normal.
Dijelaskan Lufi, ada sejumlah penyebab masih tingginya harga minyak goreng atau belum sesuai harga eceren tertinggi (HET) yang ditetapkan pemerintah.
"Ketika terjadinya disparitas harga, perubahan harga ini, banyak orang berspekulasi. Jadi mereka mengharapkan terjadinya perubahan, bahkan kalau di pasar market ini ada yang sifatnya jangka panjang dan pendek," kata Lutfi secara virtual, Rabu (9/3/2022).
Baca juga: 5 Hari Operasi Pasar, Polres Jaksel Salurkan 130.000 Minyak Goreng untuk Warga
Menurutnya, akibat adanya spekulasi tersebut membuat orang berani bertaruh bahwa ke depan pemerintah akan melepas atau tidak memberlakukan HET.
"Kenapa? Agar mereka bisa menjual dengan harga tinggi yaitu membeli di harga Rp 10.300, harapannya menjual dengan harga internasional yang saat ini perbedaannya Rp 10 ribu," ujar Lutfi.
Melihat kondisi tersebut, Lutfi pun mengancam para spekulan terutama distributor 1 dan 2 untuk membawanya ke meja hijau jika terbukti melakukan pelanggaran hukum.

"Saya sudah berkoordinasi dengan Satgas Pangan.
Saya akan menuntut spekulan itu berdasarkan hukum.
Jadi inilah salah satu yang menyebabkan distrupsi di rantai logistik yang mereka ingin dapat keuntungan besar," ucapnya.
Selain itu, tersendatnya distribusi minyak goreng ke pasar juga diakibatkan adanya penjualan ke industri.
"Per kemaren DMO (domestic market obligation) sudah 415 juta hanya 20 hari, barangnya melimpah.
Sehingga kita tanya barang dimana?
Baca juga: 5 Hari Operasi Pasar, Polres Jaksel Salurkan 130.000 Minyak Goreng untuk Warga
Jadi ada dua dugaan, bocor untuk industri dengan harga tidak sesuai pemerintah dan yang kedua penyelundupan, ini akan saya berantas. Jadi distribusi ada yang menimbun dan ada yang menyelundup ke luar negeri," paparnya.
Tangisan Emak-emak penjual gorengan
Dampak kelangkaan minyak ini sangat dirasakan oleh warga kecil.
Salah satunya ialah emak-emak bernama Peni.
Warga Bengkulu itu mengail rezeki sehari-hari sebagai penjual gorengan.

Tentu, minyak goreng menjadi bahan utama untuk menggoreng pisang dan kawan-kawannya.
Namun, pada hari Sabtu (5/3/2022), menjadi hari nan pilu bagi Peni.
Baca juga: Operasi Pasar Minyak Goreng di Polres Jaksel, Warga Antre Sejak Pagi: Cek Jadwalnya di Sini
Ia hanya bisa menangis saat mengantri operasi minyak goreng murah di Kelurahan Panorama, Kecamatan Zingara Pati, Kota Bengkulu.
Padahal, ia sudah mengantri sejak pagi.
Peni juga tak menyangka bahwa kegiatan itu akhirnya berujung ricuh.
Baca juga: Lansia Ini Nikah di Tanggal Cantik dengan Mas Kawin Minyak Goreng: Filosofinya Bikin Baper
"Saya sejak pagi mengantre berjam-jam, terjadi ricuh lalu operasi pasar dihentikan. Saya merasa perjuangan sia-sia," kata Peni sambil menangis, Sabtu (5/3/2022).
Peni juga mengatakan, dirinya berharap mendapat jatah minyak goreng untuk bisa berjualan.
Namun, karena tak dapat minyak goreng, Peni terpaksa tak berjualan gorengan.
"Saya harus setop jualan goreng karena tidak ada minyak goreng. Jangankan yang murah, minyak goreng memang tidak ada," keluh Peni.
Kelangkaan minyak goreng nyatanya memakan korban.
Peni, terpaksa harus ‘gantung wajan’ demi bisa bertahan hidup bagi keluarganya.
Sebab, ia merupakan tulang punggung keluarga.
Sebagian artikel ini telah tayang di Tribunnews.com dengan judul Mendag Beberkan Biang Keladi yang Membuat Harga Minyak Goreng Masih Mahal