Bupati Langkat Untung Rp 177,5 Miliar dari Perbudakan 600 Tahanan Kerangkeng

LPSK mendapati dugaan TPPO dalam kasus kerangkeng manusia di Langkat. Bupati Langkat t untung Rp 177,5 Miliar dari 600 manusia kerangkeng.

Kolase Tribun Jakarta
Bupati Langkat nonaktif, Terbit Rencana Perangin Angin seolah menghadirkan neraka di rumahnya sendiri. Lembaga Perlindungan Saksi dan Korban (LPSK) mendapati dugaan tindak pidana perdagangan orang (TPPO) dalam kasus kerangkeng manusia di Langkat. 

Laporan Wartawan TribunJakarta.com, Bima Putra

TRIBUNJAKARTA.COM, CIRACAS - Lembaga Perlindungan Saksi dan Korban (LPSK) mendapati dugaan tindak pidana perdagangan orang (TPPO) dalam kasus kerangkeng manusia di Langkat.

Wakil Ketua LPSK Edwin Partogi Pasaribu mengatakan unsur TPPO ini karena Bupati Langkat non aktif Terbit Rencana Perangin Angin membuat para tahanan ilegalnya melakukan kerja paksa.

Terbit menggunakan dalih rehabilitasi gratis agar para keluarga korban menyerahkan anggota keluarganya yang kecanduan narkotika lalu dipaksa bekerja tanpa diberi gaji.

Bila mengacu hasil penyelidikan Polda Sumatera Utara, dalam 10 tahun terakhir ada 600 tahanan yang diperbudak di perkebunan sawit dan penyediaan pakan ternak milik Terbit.

"Maka TRP diuntungkan dengan tidak membayar penghasilan mereka sebesar Rp 177.552.000.000,” kata Edwin dalam keterangannya di Ciracas, Jakarta Timur, Sabtu (12/3/2022).

Baca juga: Sederet Penyiksaan di Kerangkeng Bupati Langkat, LPSK Syok: Tak Pernah Temukan Kekerasan Sesadis Ini

Dari hasil investigasi LPSK para tahanan kerangkeng dipaksa bekerja dalam dua shift, yakni pukul 08.00-17.00 WIB dan 20.00-08.00 WIB dan beberapa dipaksa bekerja selama 24 jam penuh.

Para tahanan yang terdiri dari pecandu narkotika, pelaku pencurian, hingga 'musuh' Terbit diberi makan pagi pada pukul 07.00 WIB dengan menu seperti nasi dan tahu, atau nasi dan ikan asin.

Dimanakah hati nurani Bupati Langkat nonaktif, Terbit Rencana Perangin Angin setelah kekejiannya ke para korban manusia kerangkeng terkuak.
Dimanakah hati nurani Bupati Langkat nonaktif, Terbit Rencana Perangin Angin setelah kekejiannya ke para korban manusia kerangkeng terkuak. (Kolase Tribun Jakarta)

Sementara untuk makan siang pukul 12.00 WIB dan malam pukul 20.00 WIB para tahanan diberi menu nasi dan ikan sambal, atau nasi dan sayur kangkung, atau sayur jantung pisang.

Para tahanan juga disiksa, baik oleh 'pengurus' rumah kerangkeng, oknum anggota TNI-Polri, oknum anggota Ormas, anak Terbit, hingga Terbit dalam kerangkeng ini menjadi ketua.

Baca juga: Disetrum Hingga Alat Vital Disundut Rokok, Terkuak Kekejian Kerangkeng Manusia Bupati Langkat

"Pola penguasaan total benar-benar memutus penghuni kerangkeng dari keluarganya. Bahkan ada dua orang tua dari korban yang meninggal dunia, mereka tidak diperkenankan melayat,” ujar Edwin.

Edwin menuturkan dari investigasi LPSK juga ditemukan bahwa Terbit merupakan sosok yang mengerikan karena mengendalikan seluruh pengurus kerangkeng manusia.

Bila ada penghuni kerangkeng mencoba melarikan diri maka akan dikejar oleh tim pemburu di bawah pimpinan Dewa yang beranggotakan sipil hingga oknum anggota TNI-Polri.

"Dalam praktiknya tim pemburu juga mengancam keluarga dari korban yang kabur untuk menggantikan posisi (menjadi tahanan) dalam kerangkeng," tuturnya.

Halaman
1234
Sumber: Tribun Jakarta
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved