Lebaran 2022

Memaknai Mudik sebagai Panggilan

Ya, mudik sebagai sebuah suara atau panggilan kampung halaman yang menghadirkan ingatan masa silam juga kekinian nyatanya tetap sulit dideskripsikan.

Tayang:
Editor: Y Gustaman
TribunJakarta.com/Bima Putra
Tulisan jenaka di belakang barang bawaan yang ditempel pemudik sepeda motor, Duren Sawit, Jakarta Timur, Jumat (29/4/2022) 

Oleh: Miming Ismail, Penekun Kebudayaan tinggal di Tangerang

TRIBUNJAKARTA.COM - Tiba-tiba saya mendapat postingan di tengah hiruk pikuk puncak arus mudik, dengan segala campur aduk perasaan para pemudik di dalamnya.

Postingan berupa penggalan kalimat itu dari seorang teman budayawan dan penekun esai-esai filsafat asal Kuningan, Khudori Husnan, namanya atau biasa disingkat KH.

Menurut hemat saya, postingan KH cukup mewakili perasaan para pemudik kebanyakan yang susah payah perjuangannya untuk sampai ke kampung halaman.

Postingan kalimat KH tersebut berisi:

"Tidak semua panggilan berhubung dengan suara yang dapat diukur kelantangannya dengan desibel.

Ada jenis panggilan yang begitu terasa sangat nyaring dan keras—dalam beberapa kasus bahkan mampu membuat mereka yang merasakan getarannya tersungkur haru—namun tetap tak bisa ditangkap oleh alat ukur manapun.

Panggilan itu adalah panggilan dari kampung halaman.

Pulanglah…hati-hati di jalan!" begitu tulis KH.

Penggalan kalimat ini cukup dalam maknanya, bukan hanya berusaha ingin menangkis kesimpulan sebagian orang yang melihat fenomena mudik sebatas peristiwa sosiologis. Apalagi ditangkap dengan alat ukur saintifik.

Lebih dari itu, mudik adalah sesuatu yang sangat eksistensial, situasinya terasa cukup personal meski keriuhannya massal.

Mudik adalah panggilan

Ya, mudik sebagai sebuah suara atau panggilan kampung halaman yang menghadirkan ingatan masa silam juga kekinian nyatanya tetap sulit dideskripsikan getarannya.

Segelintir orang boleh mengatakan buat apa capek-capek mudik, bermacet-macet ria, toh hanya satu dua hari, atau paling lama seminggu di kampung halaman.

Belum lagi bila diukur secara ekonomis; tak sedikit uang yang harus dihabiskan. Tapi karena getaran atau panggilan itulah, pengalaman mudik tak bisa diukur dengan semua kalkulasi ilmiah.

Sumber: Tribun Jakarta
Halaman 1/3
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved