Lebaran 2022
Memaknai Mudik sebagai Panggilan
Ya, mudik sebagai sebuah suara atau panggilan kampung halaman yang menghadirkan ingatan masa silam juga kekinian nyatanya tetap sulit dideskripsikan.
Mudik memang memunculkan keriuhan sosial, jalanan macet, bunyi klakson bising, teriak ke-tidak-sabaran pengguna jalan, keruwetan petugas jalan mengurai antrean kendaraan yang mengular dan segala rentetan peristiwa lainnya yang menyertai keriuhan mudik.
Tapi di situlah seni mudik, alias pulang kampung. Karena keriuhan itu pula panggilan kampung halaman makin terasa menggetarkan dimensi eksistensial manusia bersamaan dengan kerinduan yang segera ingin tumpah ruah.
Lantas apa yang kemudian membuat orang-orang rela berjejal di bus antarkota antarprovinsi alias AKAP, kereta api atau mobil pribadi, panas-panasan macet menunggangi roda dua untuk pulang kampung? Lagi-lagi jawabannya tidak bisa disimpulkan dalam satu kata atau kalimat.
Mudik atau pulang kampung adalah panggilan, sebab kampung halaman lekat dengan ingatan masa silam. Lekat dengan pengalaman para perantau yang berjuang mencari nafkah meninggalkan kampung halaman. Lekat dengan jejak-jejak pengalaman yang terasa begitu eksistensial atau pengalaman personal. Atau dalam bahasa fenomenologi sebagai mistik keseharian (lebenswelt).
Mudik juga menghadirkan situasi kekinian, di mana orang akan hadir dengan tampilan masa kini, tapi pada saat bersamaan ingin menghadirkan masa silam di kampung halamannya.
Mudik adalah pertautan ingatan masa silam dan situasi kekinian. Mudik adalah ruwatan tentang ingatan masa silam dan kekinian sekaligus.
Getarannya jelas sulit dijabarkan, namun rona kebahagiaannya mudah untuk dirasakan bagi mereka yang pulang kampung.
Martabat "Mudik"
Tersebab pertautan tampilan masa kini dan menyembulkan ingatan masa silam itulah, tak berlebihan jika kata 'mudik' dalam kolom bahasa edisi Majalah Tempo pekan ini, dianggap mengalami peningkatan martabat.
Kata yang sudah menjauh dari kata aslinya, yakni "meng-udik" atau merujuk pada kata "udik" ini, semula dipandang sebagai kata ejekan. "Udik" sempat dianggap sebagai kata yang disematkan untuk orang yang tertinggal, tapi kini kata pejoratif itu berubah meningkat derajatnya sejak menjadi "mudik"
Keadaan menjadi berubah setelah berjuta-juta orang, bahkan mayoritas orang kota, yang ternyata berasal dari "udik" kini mengikuti tradisi "mudik" secara massal.
Pemberian imbuhan yang kurang taat dengan tata tertib berbahasa Indonesia baku pun pada kata "mudik" seolah tak jadi soal. Padahal semestinya kata bentukan baku itu berbentuk "mengudik", bukan "mudik".
Gejala bentukan kata "mudik" menurut penulis kolom bahasa Majalah Tempo, mirip dengan kata "mundur" tapi kemudian mandiri menjadi kata dasar sendiri. Padahal ada padanan kata yang agak mirip untuk menggambarkan kerinduan orang pada kampung halaman, yakni pulang kampung.
Ya, bahasa memang harus tunduk kepada kebiasaan sang penutur atau pemakai. Jadi, lepas dari baku tidaknya kata "mudik" yang jelas dari asal katanya saja, "mudik" saat ini diakui atau tidak, memang mengalami peningkatan martabatnya. Ejekan pada kata "udik' pun bahkan nyaris tak terdengar lagi.
Barangkali karena kenaikan derajat kata "mudik" itulah fenomena tradisi mudik sangat spesial pun tentu sangat eksistensial karena erat dengan pengalaman personal para pemudik.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jakarta/foto/bank/originals/Tulisan-jenaka-di-belakang-barang-bawaan-yang-ditempel-pemudik-sepeda-motor.jpg)