Hepatitis Akut di Jabodetabek

5 Hal Tentang Hepatitis Akut Misterius yang Harus Diluruskan Menurut Pakar Epidemiologi, Apa Saja?

Berikut 5 hal tentang Hepatitis akut misterius yang perlu diketahui, apa saja?

Editor: Muji Lestari
Tribun Bali
Ilustrasi hepatitis akut. 

TRIBUNJAKARTA.COM, JAKARTA - Berikut 5 hal tentang Hepatitis akut misterius yang perlu diketahui, apa saja?

Pakar Epidemiologi Griffith University Dicky Budiman merespons beberapa informasi tidak benar yang beredar terkait Hepatitis akut misterius.

Pertama ia menyampaikan sejauh ini fenomena Hepatitis akut misterius tidak berkaitan dengan vaksin Covid-19. 

Baca juga: Waspadai Kasus Hepatitis Akut, Dinkes Depok Imbau Masyarakat Terapkan Pola Hidup Sehat

Semua kasus terdeteksi secara global adalah anak-anak di bawah 15 tahun, mayoritas yang berada di bawah lima tahun, belum mendapatkan vaksin Covid-19. Artinya tidak terkait dengan vaksin covid.

Kedua, bahwa ada yang mengatakan Hepatitis sama dengan penyakit kuning, menurut Dicky ini harus diluruskan. 

"Fenomena ini berbeda dengan Hepatitis varian A,B,C,D dan E. Ini berbeda sekali dan baru. Tentu harus menunggu kajian berikutnya," ungkap Dicky pada, Jumat (6/5/2022).

Baca juga: Belum Bisa Ungkap Penyebab Hepatitis Akut ‘Misterius’, Dinkes DKI: Seperti Penyakit Baru

Ketiga, Dicky menyebutkan vaksin Hepatitis yang biasa diberikan pada program anak maupun dewasa, belum terbukti memberikan proteksi kepada Hepatitis misterius ini. 

Keempat, informasi yang diluruskan adalah fenomen kemunculan Hepatitis misterius bukan pandemi baru.

Masih menjadi satu fenomena peningkatan penyakit yang sifatnya masih dalam jumlah yang relatif kecil. 

"Namun karena hal ini merupakan sesuatu yang tidak lazim. Karena menimbulkan keparahan. Sekitar 10 persen kasus pasien membutuhkan transplasi hati dan kurang dari 1 persen menyebabkan kematian," tegasnya.

Situasi ini harus menjadi kewaspadaan bersama. Kelima,  penyakit Hepatitis akut ini belum bisa dikaitkan dengan Covid-19 sendiri. 

Walau pun beberapa hipotesa mengarah ke sana. Beberapa studi di Israel menyatakan hampir 90 persen pasien pernah terinfeksi Covid-19. 

Ada dugaan ini sebagai dampak Covid-19 ini sendiri atau dampak long covid. Tapi semua ini masih menunggu data yang valid. Namun kata Dicky prinsip yang harus dilakukan adalah pencegahan. 

Yang bisa dilakukan adalah melakukan vaksinasi untuk semua program. Menjaga imunitas dan kebersihan pribadi menjadi penting. Selain itu mencari informasi yang benar dan sumber terpercaya.
 

(Tribunnews.com)

Sumber: Tribun Jakarta
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved