Aliran Air PAM di Cililitan Mati Bikin Susah 100 KK, Sudah Lapor Tapi Begini Jadinya

Masalah matinya pasokan air bersih pelanggan PAM Jaya ini sudah dilaporkan pihak Kelurahan Cililitan ke PAM Jaya selaku BUMD DKI Jakarta. Tapi,

Penulis: Bima Putra | Editor: Acos aka Abdul Qodir
ist
Ilustrasi pasokan air PAM Jaya mati - Sebanyak 100 kepala keluarga (KK) pengguna layanan PAM Jaya di RW 07, Kelurahan Cililitan, Kecamatan Kramat Jati, Jakarta Timur, kesulitan air bersih, setelah pasokan air PAM tersebut mati selama lima hari. 

Laporan Wartawan TribunJakarta.com, Bima Putra

TRIBUNJAKARTA.COM, KRAMAT JATI - Sebanyak 100 kepala keluarga (KK) pengguna layanan PAM Jaya di RW 07, Kelurahan Cililitan, Kecamatan Kramat Jati, Jakarta Timur kesulitan air bersih.

Lurah Cililitan Sukariya mengatakan berdasar koordinasi pihaknya dengan pengurus RT/RW dan LMK, 100 KK warganya tersebut sudah mengalami kesulitan air bersih selama lima hari.

"Hampir satu RW air PAM-nya mati, ada yang mengalir tapi sangat kecil sekali," kata Sukariya saat dikonfirmasi di Kramat Jati, Jakarta Timur Selasa (5/7/2022).

Masalah matinya pasokan air bersih pelanggan PAM Jaya ini sudah dilaporkan pihak Kelurahan Cililitan ke PAM Jaya selaku BUMD DKI Jakarta.

Tapi, karena laporan aduan warga melalui aplikasi Citizens Relations Management (CRM) tidak mencantumkan nomor pelanggan, Sukariya menuturkan penanganan belum dapat dilakukan.

"Laporan tidak dapat ditindaklanjuti oleh PDAM karena no pelanggan tidak jelas. Sehingga tidak dapat didatangi ke lokasi pengaduan. Maka itu hanya diarsipkan oleh bagian admin tiket CRM," ujarnya.

Baca juga: Air PAM di Bandengan Mati Terus, Warga Pusing: Sekalinya Nyala Bau Bangke!

Baca juga: Wagub Ariza Pamer Program Anies Baswedan Atasi Polusi Udara di Jakarta

Baca juga: Wagub DKI Larang Penjual Hewan Kurban Berjualan di Trotoar: Silakan Cari Tempat Lain

Ketua RW 07 Kelurahan Cililitan, Noer Ali menuturkan sejumlah warganya menggunakan layanan dari PT Aetra yang merupakan mitra PAM Jaya di wilayah Provinsi DKI Jakarta.

Namun dia menyebut tidak semua warganya menggunakan, mayoritas masih menggunakan air tanah sehingga tidak terdampak kesulitan air bersih seperti pengguna PT Aetra.

"Setahu saya perbandingannya 20 persen (penggunaan PT Aetra) banding 80 (air tanah). Akan tetapi secara rinci saya tidak punya data. Kesulitan air dari Aetra bukan berarti semua warga," tutu Ali.

Sumber: Tribun Jakarta
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    berita POPULER

    © 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved