Kacamata: Antara Fungsi dan Kosmetik dalam Tujuan Optometri

Kacamata merupakan alat bantu bagi mereka yang mengalami kelainan tajam penglihatan dan kelainan akomodasi.

Tayang:
Editor: Muji Lestari
Dok. UKRIDA
Dokumentasi Ukrida. Studi Optometri ilmu yang mempelajari kesehatan mata dan instrumen pendukung ketajaman penglihatan. 

Oleh, Widiastuti Eko Wulandari, Program Studi Optometri, Universitas Kristen Krida Wacana

TRIBUNJAKARTA.COM - Kacamata merupakan alat bantu bagi mereka yang mengalami kelainan tajam penglihatan dan kelainan akomodasi.

Kacamata sendiri terdiri dari bingkai dimana lensa ditempatkan, serta lensa yang berukuran sesuai resep hasil dari pemeriksaan tajam penglihatan.

Tajam penglihatan pemakai diharapkan menjadi terkoreksi dengan menggunakan kacamata saat melakukan berbagai aktivitas sehari-hari.

Sejarah kacamata sendiri diawali oleh Kaisar Nero dari Romawi yang selalu menggunakan batu permata cekung, saat membaca hingga menonton pertunjukan.

Namun tidak diketahui secara pasti apakah sang kaisar memiliki kelainan tajam penglihatan.

Awalnya bingkai kacamata terbuat dari berbagai bahan seperti kulit, kayu juga dari tempurung kura-kura.

Bahan-bahan tersebut menjadikan kacamata pada saat itu menjadi berat dan tidak nyaman digunakan.

Dokumentasi Ukrida. Studi Optometri ilmu yang mempelajari kesehatan mata dan instrumen pendukung ketajaman penglihatan.
Dokumentasi Ukrida. Studi Optometri ilmu yang mempelajari kesehatan mata dan instrumen pendukung ketajaman penglihatan. (Dok. UKRIDA)

Selanjutnya melalui berbagai inovasi bingkai kacamata berkembang agar pemakai merasa nyaman saat menggunakannya.

Pengembangan ini juga termasuk bahan yang digunakan, diantaranya bahan metal, plastik seperti cellulose acetate, optyl, hingga titanium.

Bahkan mulai awal abad-20, produsen tidak hanya mempertimbangkan unsur kenyamanan tetapi juga unsur kosmetik dari bingkai kacamata.

Unsur kosmetik tersebut terdiri dari unsur bentuk, warna, dan juga corak dari sebuah bingkai kacamata.

Tidak dipungkiri, dengan perkembangan kebutuhan dan gaya hidup pemakai, saat ini kacamata tidak melulu dinilai dari segi fungsi, tetapi juga diharapkan memberikan nilai kosmetik bagi pengguna sehingga dapat tampil modis, elegan, dan berkelas.

Nilai kosmetik ini dapat menjadi “personal branding” ataupun ciri khas tertentu dari pemakainya.

Sebut saja beberapa pesohor negeri ini yang menjadikan kacamata menjadi ciri khas mereka.

Sumber: Tribun Jakarta
Halaman 1/3
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved