Waketum Garuda Sebut Seruan Boikot Bayar Pajak Tak Perlu Ditanggapi Berlebihan

Waketum Garuda Teddy Gusnaidi menanggapi pernyataan Sri Mulyani soal seruan boikot bayar pajak. Ia menilai hal itu tak perlu ditanggapi berlebihan.

Istimewa
Wakil Ketua Umum Partai Garuda Teddy Gusnaidi menanggapi pernyataan Sri Mulyani soal seruan boikot bayar pajak. Ia menilai hal itu tak perlu ditanggapi berlebihan. 

Tidak hanya itu, pajak juga digunakan untuk sektor kesehatan, terutama dalam mengatasi dan membiayai pasien Covid-19. Bahkan pajak menjadi bantalan untuk meredam kenaikan harga energi selama pandemi Covid-19. Sehingga uang pajak yang berasal dari masyarakat juga akan dinikmati oleh masyarakat.

"Indonesia kan negara kita sendiri. Dan kita semua tahu pajak itu untuk ngurusin pendidikan anak-anak, mulai dari pesantren sampai kepada universitas, madrasah sampai rumah sakit, kemarin juga untuk pandemi. Pajak sebetulnya yang anda nikmati setiap hari," kata Sri Mulyani.

Selain itu, melalui pajak maka masyarakat juga bisa menikmati subsidi LPG, bahan bakar minyak (BBM), hingga listrik. Ia menegaskan, kenikmatan dari pajak juga bisa dirasakan dalam kegiatan sehari-hari, seperti saat minum teh dan makan nasi goreng. Pasalnya untuk memanaskan air dan memasak nasi goreng maka diperlukan LPG, di mana subsidi LPG yang digunakan masyarakat termasuk manfaat dari membayar pajak, sehingga dapat dinikmati masyarakat, khususnya masyarakat miskin.

"Kalau anda tadi pagi nikmati teh atau makan nasi goreng misalnya, itu kan perlu dimasak pakai elpiji, dan kalau pakai yang tabung 3 kilogram artinya anda menikmati uang pajak untuk subsidi," kata Sri Mulyani.

Oleh karena itu, Sri Mulyani meminta kepada masyarakat untuk tidak menghiraukan seruan tersebut, sebab kemajuan Indonesia dan masa depan Indonesia ada di tangan masyarakat. Ia juga menyampaikan bahwa mencintai Indonesia memang penuh perjuangan dan kerja keras.

"Kalau mau bikin semuanya menjadi bagus ya kita yang bikin, kalau mau bikin republik ini ini rusak yang kita sendiri yang bikin. Jangan terbiasa nyalah-nyalahin orang lain. Jadi kita harus terbuka, kalau ada yang kurang, perbaiki terus, pantang menyerah. Jangan pernah lelah mencintai Indonesia, karena mencintai ini perlu banyak kerja keras," pungkas Menkeu

Sumber: Tribun Jakarta
Halaman 2/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved