Maruarar Sirait Tantang Mahasiswa UNJ Jadi Pemuda yang Diinginkan Bung Karno
Ketua Umum Taruna Merah Putih, Maruarar Sirait menantang mahasiswa Universitas Negeri Jakarta (UNJ) untuk bisa mewujudkan keinginan Bung Karno.
TRIBUNJAKARTA.COM, JAKARTA - Ketua Umum Taruna Merah Putih, Maruarar Sirait menantang mahasiswa Universitas Negeri Jakarta (UNJ) untuk bisa mewujudkan keinginan Bung Karno.
Tantangan tersebut diutarakan pria yang akrab disapa Ara itu saat tampil jadi narasumber Diskusi Publik Bersama Tokoh bertema: Integritas Kepemimpinan Nasional Totalitas Pengabdian Untuk Indonesia Maju, di UNJ, pada Senin (25/7/2022).
Menurut Ara, pemuda adalah agen perubahan bangsa.
Fakta menunjukkan tak ada satu negara di dunia mengalami perubahan tanpa sokongan pemuda.
“Pada kesempatan ini, saya juga menantang mahasiswa UNJ, bahwa 10 pemuda yang diinginkan Bung Karno untuk mengubah dunia ada di ruangan ini (UNJ)," kata Maruarar Sirait.
"Saya berharap mahasiswa - mahasiswi UNJ yang di ruangan ini ke depan menjadi pelaku-pelaku utama yang memajukan Indonesia menjadi negara maju,” tambahnya.
Baca juga: Maruarar Bicara di UNJ: Mahasiswa Adalah Agen Perubahan, Tidak Ada Perubahan Tanpa Mahasiswa
Peran sentral pemuda dibuktikan pengalaman dan sejarah Indonesia sendiri, dari gerakan perjuangan Budi Utomo 1908, Sumpah Pemuda 1928, Proklamasi Kemerdekaan 1945, Gerakan Mahasiswa 1966, 1978 hingga 1998 yang menjadi tonggak Orde Baru dan Orde Reformasi.
Oleh karena itu, Ara meminta mahasiswa UNJ terlibat di dalam banyak kegiatan, entah itu di organisasi intra atau ekstra kampus.
"Jangan ragu untuk memulai bisnis. Masuklah kepada komunitas yang membangun dan berdampak kepada kemajuan hidupmu," ucap Ara.
“Harapan saya, kalau adik-adik mahasiswa di sini semua menjadi mahasiswa idealis itu masih biasa, tetapi jika Anda nanti menjadi bupati, gubernur, DPR dan presiden tetap masih idealis yang memperjuangkan kepentingan masyarakat, itu baru luar biasa,” ujarnya.
Lebih lanjut, Ara turut berbagi pengalaman bahwa dirinya dibesarkan keluarga dengan tiga tradisi ketat.
Orang tua mendidiknya dengan tiga hal yakni tradisi Kristen yang kuat, tradisi batak dan dan tradisi politik.
“Papa saya aktivis politik Parkindo dan aktif GMKI sejak mahasiswa. Demikian juga Ibu aktivis GMKI. Ibu sangat memegang adat tinggi, menghormati orang tua, fighting sipiritiya ng kuat. Saya sendiri sudah out of the box,” ujarnya.
Kemudian, dari tiga yang dijalani, Ara menambahkan satu tradisi menjadi empat yakni dengan tradisi bisnis.
“Kami keluarga sederhana, karena berbeda dari pemerintah waktu itu. Rumah orang tua kami, jalan sempit sekitar 200 meter tidak ada jalan aspal dan masih semak-semak. Kalau hujan masih pakai plastik diikat. Jadi secara ekonomi cukup berat. Itu membuat dari kecil, saya ingin secara ekonomi lebih baik,” cetusnya.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jakarta/foto/bank/originals/ara-sedang-motivasi-unj.jpg)