Sisi Lain Metropolitan
Kejamnya Jenderal Jepang di Pulau Onrust: Bikin Lubang Buat Tahanan Adu Jotos sampai Nyonyor
Ada hal mencolok di dalam kamp di Pulau Onrust ini. Yakni, terdapat sebuah lubang atau kubangan untuk para tahanan adu jotos layaknya seperti sabung
Penulis: Satrio Sarwo Trengginas | Editor: Acos Abdul Qodir
Laporan Wartawan TribunJakarta.com, Satrio Sarwo Trengginas
TRIBUNJAKARTA.COM, KEPULAUAN SERIBU - Pulau Onrust, salah satu pulau di Kabupaten Kepulauan Seribu, DKI Jakarta, menyimpan banyak nilai sejarah bangsa Indonesia.
Onrust dalam bahasa Belanda berarti pulau tanpa istirahat tersebut menyimpan sisi kejam masa penjajahan Jepang di Indonesia.
Di pulau yang kini hanya seluas 3,5 km2 itu, berdiri sebuah bangunan peninggalan Jepang berupa kamp interniran bagi para pribumi.
Para tahanan diadu layaknya sabung ayam untuk hiburan para jenderal.
Baca juga: Horornya Rusun Film Pengabdi Setan 2: Warga Kejang hingga Mata Melotot di Lantai Ini
Sejarawan, Asep Kambali mengatakan di masa periode pendudukan Jepang (1942 - 1945) Pulau Onrust di Kepulauan Seribu pernah digunakan sebagai kamp interniran.
"Kamp interniran dibangun di Onrust untuk kalangan orang pribumi. Kalau untuk orang eropa ada di Cideng," katanya kepada TribunJakarta.com pada Sabtu (16/7/2022) silam.
Rumah interniran Jepang itu terdiri dari beberapa kamar tahanan.

Ada hal mencolok di dalam kamp di Pulau Onrust ini. Yakni, terdapat sebuah lubang atau kubangan untuk para tahanan adu jotos layaknya seperti sabung ayam.
Diameter lubang itu tak terlalu lebar. Malah mirip seperti sebuah sumur besar dari kejauhan.
"Dari informasi senior-senior atau peneliti sebelumnya, itu tempat buat mengadu para tahanan," lanjutnya.
Para tahanan dipilih oleh petinggi militer Jepang untuk diadu.
Baca juga: Benteng Martello Masih Berdiri di Pulau Kelor: Dulu Batu Bata Dicongkel dan Meriam Dijual Warga
Mereka duel di kubangan yang sempit itu sebagai tontonan yang menghibur.
"Kurang lebih untuk menghibur para jenderal atau petinggi militer di sana," tambahnya.

Namun, Asep memiliki pendapat sendiri terkait kubangan itu.
Menurut dia, lubang itu digunakan untuk tempat menyabung ayam bukan mengadu tahanan.
"Memang kayaknya terlalu sempit ya kalau untuk manusia (lubang itu). Saya malah cenderung melihat itu sebagai tempat sabung ayam," katanya.
Setelah dijadikan kamp interniran, gedung ini sempat digunakan sebagai kantor Dinas Kebudayaan dan Permuseuman DKI Jakarta.