Santri Tewas Dikeroyok Senior

Keroyok Teman Satu Pesantrennya Sampai Tewas, 12 Santri di Tangerang Jadi Tersangka di Bawah Umur

Polres Metro Tangerang Kota telah menetapkan para tersangka kasus santri yang keroyok teman satu pesantrennya di Kecamatan Cipondoh, Kota Tangerang.

Penulis: Ega Alfreda | Editor: Elga H Putra
Tribun Jakarta/Ega Alfreda
Kapolres Metro Tangerang Kota, Kombes Pol Zain Dwi Nugroho saat ditemui di lobi kantornya mengenai santri yang melakukan pengeroyokan terhadap temannya sampai tewas, Senin (29/8/2022). 

Laporan Wartawan TribunJakarta.com, Ega Alfreda

TRIBUNJAKARTA.COM, TANGERANG - Polres Metro Tangerang Kota telah menetapkan para tersangka kasus santri yang keroyok teman satu pesantrennya di Kecamatan Cipondoh, Kota Tangerang.

Sebagaimana diketahui, Sabtu (27/8/2022) sekira pukul 08.30 WIB seorang santri berinisial RAP (13) meregang nyawa akibat dikeroyok 12 temannya.

Kejadian tersebut terjadi di Pondok Pesantren (Ponpes) Darul Qur'an Lantaburo di Kelurahan Ketapang, Kecamatan Cipondoh, Kota Tangerang.

Kapolres Metro Tangerang Kota, Kombes Pol Zain Dwi Nugroho menjelaskan, pihaknya telah menetapkan 12 santri yang melakukan pengeroyokan sebagai tersangka.

"Dari beberapa saksi dan orang yang kita lakukan amankan, ada 12 anak kita tetapkan sebagai pelaku atau tersangka karena diduga telah melakukan tindakan kekerasan terhadap anak," kata Zain saat ditemui di kantornya, Senin (29/8/2022).

Baca juga: Terjadi Lagi, Santri Tewas Dikeroyok 12 Temannya di Tangerang Gegara Dinilai Tidak Sopan ke Senior

Dengan kata lain, para tersangka disebut anak berhadapan hukum (ABH) karena masih di bawah umur.

Ke-12 santri yang dijadikan ABH adalah AI (15), BA (13), FA (15), DFA (15), TS (14), S (13), RE (14), DAP (13), MSB (14), BHF (14), MAJ (13) dan RA (13).

Namun, 12 anak tersebut, polisi hanya melakukan penahanan terhadap 5 orang.

Sementara tujuh orang lainnnya tidak ditahan atau dititipkan ke orang tua masing-masing.

"Sesuai dengan ketentuan, karena untuk anak yang di bawah 14 tahun itu tidak bisa dilakukan penahanan. Kemudian yang lima anak itu, kita tahan di Polres, dan kita juga saat ini terus melakukan pendalaman serta pendampingan," papae Zain.

Menurut Zain, baik korban ataupun tersangka masih duduk di bangku kelas 8 dan 9 SMP.

Baca juga: Suharso Monoarfa Didesak Ulama, Kyai dan Santri Mundur dari Ketum PPP dan Kepala Bappenas

Mereka pun disangkakan Pasal 76C, kemudian juncto pasal 80 ayat 3 Undang-undang RI, nomor 35 tahun 2014 tentang perubahan Undang-undang RI, nomor 23 tahun 2002 tentang Perlindungan Anak dan atau Pasal 170 ayat 2 huruf e KUHP, dengan ancamannya di atas 7 tahun.

Zain Dwi Nugroho mengatakan, peristiwa tersebut awalnya karena ada provokasi dari salah satu pelaku yang tersinggung.

Halaman
12
Sumber: Tribun Jakarta
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2023 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved