Tragedi Kanjuruhan 1 Oktober 2022
Didesak Mundur dari PSSI, Iwan Bule Tegas Menolak Hingga Tertawa dan Kirim Salam
Iwan Bule sebagai pemimpin federasi sepak bola Indonesia dinilai turut bertanggung jawab atas meninggalnya 125 orang di Stadion Kanjuruhan.
TRIBUNJAKARTA.COM - Desakan mundur kepada Ketua PSSI Mochamad Iriawan atau Iwan Bule semakin keras disuarakan.
Iwan Bule sebagai pemimpin federasi sepak bola Indonesia dinilai turut bertanggung jawab atas meninggalnya 125 orang di Stadion Kanjuruhan, Malang, Sabtu (1/10/2022) lalu.
Seperti diketahui, 125 suporter sepak bola dari anak-anak hingga dewasa meninggal dunia usai laga Arema FC Vs Persebaya Surabaya.
Korban jiwa yang mayoritas Aremania itu terdampak kericuhan melibatkan aparat keamanan yang represif dan menggunakan gas air mata di dalam stadion.
Salah satu desakan agar Iwan Bule mundur datang dari Presiden Madura United, Achsanul Qosasi.
Baca juga: Persija Jakarta Ungkap Imbauan PSSI Tak Boleh Buat Pernyataan Memperkeruh Soal Tragedi Kanjuruhan
Achsanul Qosasi menyebut pengunduran diri Iwan Bule merupakan bentuk tanggung jawab atas tragedi jatuhnya ratusan nyawa yang telah mendapat sorotan dunia itu.
"Ini tanggung jawab federasi," tulis Achsanul Qosasi di laman Instagram pribadinya.
"Jangan malu untuk mundur."
"Karena ini bagian dari tanggung jawab," sambungnya.
Desakan Iwan Bule juga muncul dari kelompok yang mengatasnamakan Perhimpunan Jurnalis Rakyat melalui petisi.

Berdasarkan penelusuran Tribunnews.com hingga pukul 12.47 WIB, Rabu (5/10/2022), petisi tersebut telah ditandatangani oleh 1.631 netizen.
"Kita juga meminta Ketua Umum dan semua pengurus Persatuan Sepakbola Seluruh Indonesia (PSSI) untuk mundur dari jabatannya, sebagai bentuk hormat dan respect terhadap korban tragedi kerusuhan Stadion Kanjuruhan, Malang dan untuk pembenahan sepakbola secara keseluruhan," demikian tertulis tuntutan dalam deskripsi tersebut.
Kemudian, Perhimpunan Jurnalis Rakyat mendesak agar investigasi terkait tragedi ini dilakukan oleh Kemenpora, KONI, dan FIFA.
"Serahkan investigasi kepada Kemenpora/KONI selaku organ pemerintah dan penegak hukum dan FIFA untuk membuat investigasi atau langkah yang diperlukan," tulisnya.
Di sisi lain, desakan mundur juga telah digaungkan oleh netizen di media sosial Twitter.