Kasus Polio Kembali Ditemukan Meski Indonesia Disebut Bebas Polio Sejak 2014, Kok Bisa?

Meski bisa menyerang siapa saja, namun polio akan lebih rentan untuk menyerang anak-anak terutama di usia dibawah 5 tahun.

Tayang:
Penulis: Pebby Ade Liana | Editor: Acos Abdul Qodir
Warta Kota/Nur Ichsan
Ibu-ibu warga Rw 10 Kelurahan Tanah tinggi, Kota Tangerang, mengajak anaknya ke mendatangi Posyandu Cemara, untuk mendapatkan pelayanan imunisasi polio , jelang sehari berakhirnya program Pos Pin, Senin (14/3). 

Laporan wartawan TribunJakarta.com, Pebby Adhe Liana

TRIBUNJAKARTA.COM, JAKARTA - Kasus penyakit polio, kini kembali ditemukan di Indonesia.

Pada awal November lalu, Kementerian Kesehatan (Kemenkes) melaporkan adanya satu kasus polio yang ditemukan di Kabupaten Pidie, Aceh, hingga ditetapkan sebagai Kejadian Luar Biasa (KLB).

Padahal, sebelumnya Indonesia sudah mendapatkan sertifikat bebas polio sejak 2014 silam.

"Ada beberapa negara yang endemi polio saat ini, dan Indonesia sedang menghadapi KLB," kata Juru Bicara Kemenkes, Mohammad Syahril dalam diskusi media bersama expert mengenai penjelasan seputar Polio di Indonesia, Jumat (25/11/2022).

Sebagai informasi, penyakit polio sangat berbahaya dan bisa mengakibatkan kelumpuhan. 

Penyakit ini, disebabkan oleh infeksi virus polio.

Meski bisa menyerang siapa saja, namun polio akan lebih rentan untuk menyerang anak-anak terutama di usia dibawah 5 tahun.

Baca juga: Dinkes DKI: Penyakit Polio Bisa Muncul di Semua Usia, Gejala Setelah 7-10 Hari Terinfeksi 

Dokter Spesialis Anak Konsultan yang juga merupakan Guru Besar Neurologi Anak Departemen Ilmu Kesehatan Anak FKUI RSCM, Irawan Mangunatmadja menjelaskan, manifestasi klinis penyakit ini bisa meliputi beberapa tipe.

Di antaranya tipe abortive seperti panas, lemas, anoreksia, dan sakit kepala, kemudian tipe non paralytic seperti kekakuan leher dan refleks menurun, serta paralytic yakni kelimpuhan asimetris atau satu sisi.

"Sebetulnya, pasien yang terinveksi polio itu hanya 0,1 persen yang menyebabkan kelumpuhan asimetris. Namun masalahnya, kelumpuhan itu juga dapat menyerang saraf otak, otak, dan reflek-refleknya. Sehingga dengan demikian, dia menjadi lemas," katanya.

"Dan ini masalahnya, terjadi terus menerus sepanjang hidupnya. Jadi gak ada obat yang dapat memperbaiki keadaan anak ini," tuturnya.

Diketahui, virus polio berkembang di pencernaan.

Dokter Spesialis Anak Konsultan yang juga merupakan Guru Besar Neurologi Anak Departemen Ilmu Kesehatan Anak FKUI RSCM, Irawan Mangunatmadja menjelaskan, manifestasi klinis penyakit ini bisa meliputi beberapa tipe.

Sehingga melalui faces atau kotoran tersebut, virus bisa dengan cepat menyebar ke lingkungan atau komunitas terutama dengan situasi kebersihan dan sanitasi yang buruk.

Baca juga: Cegah Polio Masuk Jakarta, Pemprov DKI Gencarkan Vaksinasi di 2023

Sumber: Tribun Jakarta
Halaman 1/3
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved