Cerita Tio Pakusadewo Banyak Benarnya! Mantan Sipir Ungkap Napi Tipikor Bisa Bawa Kunci Sel Sendiri
Mantan sipir di Jakarta berinisial AB (61), membenarkan bila napi kasus Tipikor memang hidup bak raja dan mendapat perlakuan khusus dari petugas.
Penulis: Bima Putra | Editor: Satrio Sarwo Trengginas
Laporan Wartawan TribunJakarta.com, Bima Putra
TRIBUNJAKARTA.COM, PULOGADUNG - Pernyataan aktor Tio Pakusadewo dalam konten dengan Uya Kuya soal mewahnya kehidupan narapidana kasus tindak pidana korupsi (Tipikor) di Rutan dan Lapas bukan isapan jempol.
Mantan sipir di Jakarta berinisial AB (61), membenarkan bila napi kasus Tipikor memang hidup bak raja dan mendapat perlakuan khusus dari seluruh petugas Rutan dan Lapas.
Soal kebebasan untuk di Rutan dan Lapas misalnya, para napi tipikor kelas kakap bahkan memiliki kunci selnya sendiri sehingga dapat keluar masuk sesukas hatinya tanpa izin petugas.
Dengan memiliki kunci sel para napi Tipikor tidak harus mengikuti jam petugas membukakan pintu, mereka dapat keluar masuk sel meski tetap berada di dalam Rutan dan Lapas.
"Kalau napi lain keluar sel harus menunggu dibukakan pintu sama petugas, napi tipikor enggak perlu. Mereka punya kunci, mau jalan keluar lapangan bebas kapanpun," kata AB, Kamis (10/5/2023).
Baca juga: Mantan Sipir Benarkan Tio Pakusadewo Soal Nasi di Penjara, Keras Seperti Kapur
Menurut AB yang sudah malang melintang di Rutan dan Lapas, hingga Unit Pelaksana Teknis (UPT) Direktorat Jenderal Pemasyarakatan lain, memiliki kunci sel termasuk kemewahan.
Pasalnya bila napi atau warga binaan pemasyarakatan (WBP) umumnya baru dapat keluar sel yang penuh sesak bila pintu dibuka petugas, hal ini pun tidak lepas dari pungutan liar.
"Kalau mau keluar setiap apel ada bayar Rp20 sampai Rp30 ribu per kepala. Kalau enggak kasih duit enggak keluar. Di dalam sel saja terus seharian, penuh sesak. Beda dengan napi Tipikor," ujarnya.
Baca juga: Mantan Sipir Bongkar Wajah Kelam di Balik Penjara: Monopoli Makanan hingga Potongan Penarikan Uang
Padahal bagi WBP kesempatan untuk sesaat keluar dari sel juga merupakan kemewahan, mengingat seluruh Rutan dan Lapas di Indonesia kini kelebihan kapasitas.
Rutan dan Lapas yang secara standar operasional prosedur (SOP) kapasitas maksimalnya hanya berkisar di bawah 1.000 orang kini dapat diisi hingga 3.000 orang WBP.
Dapat dibayangkan betapa sesaknya kehidupan dan tingkat stres dialami bila mereka hanya mendekam di sepanjang hari tanpa bisa keluar meski untuk sekedar berada di lapangan Rutan dan Lapas.
"Makannya banyak napi bayar. Ya kalau dihitung penghasilan petugas di Rutan dan Lapas bisa Rp200 sampai Rp300 ribu per hari, bisa lebih sampai Rp1 juta, tergantung," tuturnya.
Tidak berhenti di kepemilikan kunci sel, AB mengatakan sel tempat napi tipikor juga mewah karena terdapat air conditioner (AC), TV, handphone hingga perangkat elektronik lainnya.
Seluruh akses perangkat elektronik dapat dinikmati dengan membayar, sehingga napi Tipikor merupakan ATM oknum petugas kedua setelah bandar narkoba di Rutan dan Lapas.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jakarta/foto/bank/originals/penjara_20180209_155522.jpg)