Pilpres 2024

Pengamat Sebut 3 Partai Tak Layak Masuk Istana, Prabowo Disalahkan Karena Membujuk

Ada tiga partai yang dinilai tidak layak masuk Istana setelah Pilpres 2024 ini.

Tribunnews.com/Jeprima
Ketua Umum Partai Nasdem Surya Paloh bersama Calon Presiden Prabowo Subianto saling berjabat tangan usai memberikan keterangan pers di Nasdem Tower, Jakarta Pusat, Jumat (22/3/2024). Kedatangan Prabowo Subianto bertemu dengan Ketua Umum Partai Nasdem Surya Paloh untuk menjalin silaturahmi dibulan Ramadhan serta membahas situasi politik terkini. Tribunnews/Jeprima 

TRIBUNJAKARTA.COM - Pengamat politik, Ray Rangkuti menyebut ada tiga partai yang tidak layak masuk Istana setelah Pilpres 2024 ini.

Mereka adalah partai dari Koalisi Perubahan pengusung pasangan Anies Baswedan-Muhaimin Iskandar.

Sebab, NasDem, PKB dan PKS mengajukan program yang bertentangan dengan pemilik suara terbanyak, yakni pasangan Prabowo Subianto dan Gibran Rakabuming.

Seperti diketahui, kendati hasil rekapitulasi menunjukkan Prabowo-Gibran unggul telak dengan suara mencapai 58 persen, pasangan Anies-Muhaimin yang memeroleh 24 persen suara dan Ganjar Pranowo-Mahfud MD yang memeroleh 16 persen suara tengah menggugat hasilnya ke Mahkamah Konstitusi (MK).

Lantas, mengapa partai pengusung Ganjar-Mahfud masih disebut layak dengan pemerintahan selanjutnya, karena sama-sama mengusung narasi keberlanjutan, seperti Prabowo-Gibran.

"Sejatinya 3 partai politik yang menggemakan perubahan pada Pilpres 2024. Parpol yang tidak layak dan tidak patut untuk diajak berkoalisi dengan Pak Prabowo," kata Ray, Senin (25/3/2024), dikutip dari Tribunnews.

Perbedaan visi antara melanjutkan kebijakan pemerintahan Presiden Jokowi dengan perubahan, tidak layak duduk dalam satu kabinet.

"Sementara Pak Prabowo seperti kita ketahui adalah calon presiden yang mengusung kelanjutan kebijakan dari Pak Jokowi," kata Ray.

"Ketiganya adalah PKB, PKS, Nasdem. Ini partai yang jelas-jelas di Pilpres 2024 menyatakan mengusung perubahan," lanjutnya.

Bagi Ray, seyogyanya, paratai dengan narasi perubahan berada di luar pemerintahan menjadi oposisi.

Pengamat Politik, Ray Rangkuti selepas mengisi diskusi publik di Serpong, Rabu (26/6/2019).
Pengamat Politik, Ray Rangkuti selepas mengisi diskusi publik di Serpong, Rabu (26/6/2019). (TRIBUNJAKARTA.COM/JAISY RAHMAN TOHIR)

Mereka bertugas memelototi jalannya pemerintahan dengan kritis sebagai penyeimbang.

Pun, visi perubahan yang sudah digembar-gemborkan selama masa kampanye, menjadi tanggung jawab moral tersendiri kepada masyarakat.

Tiga partai itu harus konsisten seperti apa yang diucapkannya saat merayu masayrakat memilih mereka.

"Itu sebagai tanggung jawab politik mereka," tegas Ray.

Di sisi lain, Ray juga menyalahkan Prabowo yang membujuk partai yang kalah untuk bergabung ke dalam barisannya.

Menurut Ray, Prabowo harus menghormati jalan politik yang sudah ditempuh kala menjadi rivalnya di Pilpres.

"Seharusnya Pak Prabowo juga tidak mengajak untuk menghormati posisi mereka sebagai posisi yang berbeda," kata Ray.

Prabowo Bujuk NasDem Gabung

Seperti diberitakan sebelumnya, Prabowo mengaku membujuk Ketua Umum NasDem, Surya Paloh untuk bergabung ke pemerintahannya.

Menteri Pertahanan yang juga Ketua Umum Gerindra mendatangi langsung NasDem Tower, Jakarta Pusat pada Jumat (22/3/2024).

Paloh memang menjadi rival yang pertama mengucapkan selamat kepada Prabowo sebagai presiden terpilih pascapengumuman rekapitulasi KPU pada Rabu (20/3/2024) malam.

"Hari ini saya datang ke keluarga besar NasDem, untuk menyampaikan penghargaan dan terima kasih atas ucapan selamat yang disampaikan oleh Ketua Umum partai NasDem," ucap Prabowo dalam konferensi pers usai pertemuan.

"Ketua umum partai NasDem Pak Surya Paloh langsung mengucapkan selamat dan untuk menghormati ucapan tersebut saya datang dan terima ini di markas besar partai NasDem," lanjutnya.

Ketua Umum Partai NasDem Surya Paloh menggelar karpet merah untuk menyambut kedatangan Prabowo Subianto di NasDem Tower, Jumat (22/3/2024).
Ketua Umum Partai NasDem Surya Paloh menggelar karpet merah untuk menyambut kedatangan Prabowo Subianto di NasDem Tower, Jumat (22/3/2024). (Tribunnews.com/Jeprima)

Prabowo mengaku sudah lama mengenal Surya Paloh. Bahkan, Ketua Umum Partai Gerindra itu mengakui memang beberapa kali mengalami perbedaan pendapat dengan Paloh.

"Saya kenal beliau, sahabat lama. Dulu biasa sebagai anak muda punya sikap-sikap yang keras, beliau juga keras saya juga sama, tapi dengan tambah usia, kita seharusnya tambah arif semakin arif," katanya.

Prabowo lalu menjawab pertanyaan awak media apakah sempat mengajak Surya Paloh bergabung ke dalam koalisi Indonesia maju.

Terkait hal ini, ia mengakui pihaknya sempat mengajak NasDem untuk bergabung.

"Saya selalu menawari, saya selaku mengajak. Benarkan?" tutupnya.

Paloh pun menanggapi ajakannya dengan menyebutkan pertimbangannya saat itu.

Menurutnya, dia punya kemungkinan 50 persen untuk ikut ke barisan Prabowo.

"Itu fifty fifty possibilitynya," kata Paloh pada kesempatan yang sama.

Baca artikel menarik TribunJakarta.com lainnya di Google News

Sumber: Tribunnews
Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

Berita Populer

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved