Cerita Kriminal

Akuntan Publik Terlibat Sindikat Pengedar Uang Palsu, Operator Mesin Cetak Digaji Rp 1 Juta per Hari

Akuntan publik bernama Umar Yadi diduga terlibat kasus peredaran uang palsu senilai Rp 22 miliar di Jakarta Barat. Terkuak perannya.

Kolase Foto TribunJakarta
Kolase Foto uang palsu yang dibongkar Polda Metro Jaya dan Kabid Humas Polda Metro Jaya Kombes Ade Ary Syam Indradi. Akuntan publik bernama Umar Yadi diduga terlibat kasus peredaran uang palsu senilai Rp 22 miliar di Jakarta Barat. Terkuak perannya. 

Laporan Wartawan TribunJakarta.com, Annas Furqon Hakim

TRIBUNJAKARTA.COM, KEBAYORAN BARU - Akuntan publik bernama Umar Yadi diduga terlibat kasus peredaran uang palsu senilai Rp 22 miliar di Jakarta Barat.

Umar diduga menyediakan tempat untuk sindikat menyimpan uang palsu tersebut.

"Untuk kantor akuntan publik milik saudara U yang perannya bekerja sama dengan tersangka F untuk menyediakan penyimpanan dan pemotongan uang," kata Kabid Humas Polda Metro Jaya Kombes Ade Ary Syam Indradi, Rabu (19/6/2024).

 

 

Ade Ary mengungkapkan, saat ini penyidik Polda Metro Jaya masih menelusuri keberadaan Umar.

"Saudara U keberadaannya masih dicari oleh penyidik," ungkap dia.

Selain itu, polisi juga memburu tersangka berinisial I yang berperan sebagai operator mesin pencetak uang palsu.

Tersangka I kini masuk dalam daftar pencarian orang (DPO) polisi.

"Saudara I (DPO) berperan sebagai operator mesin cetak GTO atau yang menjalankan mesin cetak uang palsu tersebut dengan gaji setiap hari Rp 1 juta dan bonus Rp 100 juta apabila sudah terjadi transaksi," ujar Ade Ary.

Empat orang sindikat pembuat dan pengedar uang palsu yang telah ditangkap yaitu berinisial M alias Mul, FF, YS alias Ustad, dan F. Mereka kini sudah ditetapkan sebagai tersangka.

Ade Ary mengungkapkan, tersangka M alias Mul berperan sebagai koordinator untuk memproduksi uang palsu termasuk mencari operator.

M juga mencari dana untuk membiayai operasional pembuatan uang palsu dan menjaring pembeli.

"Saudara FF berperan mambantu pindahan mesin cetak GTO dari Gudang Gunung Putri ke Villa Sukaraja, Sukabumi dan juga berperan membantu untuk menyusun uang palsu tersebut dan memasang ikatan uang serta melakukan packing ke dalam plastik," ungkap Ade Ary.

Sumber: Tribun Jakarta
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved