Mengenal Tradisi Sekaten dan Kaitannya dengan Maulid Nabi, Telah Digelar Sejak Abad ke-15

Ketahui asal usul tradisi sekaten yang kerap digelar oleh keraton Surakarta dan Yogyakarta, serta kaitannya dengan Maulid Nabi.

Editor: Muji Lestari
surakarta.go.id
Peringatan Maulid Nabi melalui tradisi Sekaten di Surakarta. 

TRIBUNJAKARTA.COM - Mengenal tradisi Sekaten serta kaitannya dengan Maulid Nabi, kerap digelar oleh keraton Surakarta dan Yogyakarta.

Ada berbagai tradisi serta upacara adat untuk memperingati hari-hari besar keagamaan. Begitu juga dengan peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW.

Di Indonesia khususnya masyarakat Jawa memiliki tradisi Sekaten untuk memperingati hari kelahiran Nabi Muhammad SAW.

Maulid Nabi diperingati setiap 12 Rabiul Awal tahun Hijriah. Tahun ini Maulid Nabi diperkirakan jatuh bertepatan dengan Minggu, 15 September 2024.

Lantas, seperti apa  asal usul tradisi Sekaten dan apa kaitannya dengan Maulid Nabi?

Asal Usul Sekaten

Sekaten adalah rangkaian kegiatan tahunan yang dijadikan sebagai peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW yang diadakan oleh Keraton Surakarta dan Yogyakarta.

Sekaten berasal dari Daerah Istimewa Yogyakarta yang dilaksanakan setiap tanggal 5 sampai 11 Rabi’ul Awal dan ditutup dengan upacara Garebeg Mulud pada 12 Rabi’ul Awal.

Awal mula adanya Sekaten yaitu dimulai dari kerajaan-kerajaan Islam di tanah Jawa pada zaman Kesultanan Demak.

Saat itu, orang Jawa menyukai gamelan pada hari raya Islam, yaitu hari lahirnya Nabi Muhammad, sehingga dimainkanlah gamelan di Masjid Agung Demak.

Tercetusnya nama Sekaten sendiri diadaptasi dari kata syahadatain yang berarti persaksian (syahadat) yang dua.

Peringatan Maulid Nabi melalui tradisi Sekaten di Surakarta.
Peringatan Maulid Nabi melalui tradisi Sekaten di Surakarta. (surakarta.go.id)

Sekaten merupakan acara tahunan yang diperkirakan telah digelar sejak abad ke-15 di Kota Solo. 

Kemudian kata tersebut mengalami perluasan makna, di antaranya:

  • Sahutain (menghentikan atau menghindari perkara dua, yaitu sifat lacur dan menyeleweng), sakhatain (menghilangkan perkara dua, yaitu watak hewan dan sifat setan)
  • Sakhotain (menanamkan dua perkara, yaitu selalu memelihara budi suci atau budi luhur yang selalu mendambakan diri pada Tuhan)
  • Sekati (setimbang, orang hidup harus bisa menimbang atau menilai hal-hal yang baik dan buruk)
  • Sekat (batas, orang hidup harus membatasi diri untuk berlaku jahat).

Prosesi

Upacara tradisional Sekaten dilakukan selama tujuh hari, adapun tahapan-tahapannya sebagai berikut:

  • Gamelan sekaten dibunyikan pada pukul 16.00 sampai kira-kira jam 23.00 pada tanggal 5 Rabi’ul Awal
  • Gamelan dipindahkan ke pagongan di halaman Masjid Besar mulai jam 23.00.
  • Hadirnya Sri Sultan beserta pengiringnya ke serambi Masjid Besar untuk mendengarkan pembacaan Riwayat kelahiran Nabi Muhammad SAW, diselenggarakan pada tanggal 11 Rabi’ul Awal.
  • Dikembalikannya gamelan sekaten dari halaman Masjid Besar ke Kraton sebagai tanda berakhirnya upacara Sekaten.

Terdapat dua tradisi yang dilakukan selama Sekaten berlangsung, yaitu Grebeg Muludan dan Numpak Wajik.

Grebeg Muludan

Grebeg Muludan diadakan pada tanggal 12 Rabi’ul Awal atau sebagai acara puncak peringatan Sekaten.

Tradisi ini dimulai dari pukul 08.00 sampai 10.00 WIB dikawal dengan 10 macam bregada (kompi) prajurit Kraton.

Tradisi Sekaten adalah upacara peringatan kelahiran Nabi Muhammad SAW atau Maulid Nabi.
Tradisi Sekaten adalah upacara peringatan kelahiran Nabi Muhammad SAW atau Maulid Nabi. (Kolase TribunJakarta.com)

Prajurit tersebut adalah wirabraja, dhaheng, Patangpuluh, Jagakarya, Prawiratama, Nyutra, Ketanggung, Mantrirejo, Surakarsa, dan Bugis.

Pada tradisi ini aka nada sebuah gunungan yang berisikan beras ketan, makanan, buah-buahan, serta sayuran yang dibawa dari Istana Kemandungan ke Masjid Agung untuk didoakan.

Setelah didoakan, bagian gunungan yang dianggap sacral akan dibawa pulang dan ditanam di sawah atau ladang agar sawah mereka dapat tumbuh subur dan terbebas dari bencana.

Numpak Wajik

Upacara Numpak Wajik dilaksanakan dua hari sebelum Grebeg Muludan, diadakan di halaman Istana Magangan pada pukul 16.00.

Upacara ini berisikan kotekan atau permainan lagu menggunakan kentongan, lumping (alat untuk menumpuk padi) dan sejenisnya.

Ilustrasi tradisi Sekaten
Ilustrasi tradisi Sekaten alias upcara peringatan kelahiran Nabi Muhammad SAW.

Numpak Wajik menjadi tanda awal pembuatan gunungan yang akan diarak pada saat acara Grebeg Muludan.

Lagu-lagu yang dimainkan dalam upacara Numpak Wajik adalah lagu Jawa popular, seperti Lompong Keli, Tundhung Setan, Owal Awil, dan lainnya.

Pantangan

Dalam pelaksanaan upacara tradisional terdapat beberapa pantangan, di antaranya:

  1. Abdi dalem niyaga (penabuh gamelan) semala menjalankan tugasnya memukul gamelan pusaka Kyai Sekati dilarang untuk melakukan hal-hal tercela, baik perkataan maupun perbuatannya.
  2. Selain itu para abdi dalem juga pantang melangkahi gamelan pusaka, dilarang untuk menabuh atau memukul gamelan sebelum menyucikan diri dengan berpuasa dan mandi jamas.
  3. Pantangan lainnya adalah, para abdi dalem niyaga pantang membunyikan gamelan pada malam Jumat dan hari Jumat siang, sebelum lewat waktu shalat dhuhur.

Akses TribunJakarta.com di Google News atau WhatsApp Channel TribunJakarta.com. Pastikan Tribunners sudah install aplikasi WhatsApp ya

Sumber: Tribun Jakarta
Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved