Pemilu 2024
Jenuh dan Karakter Rasional Warga Kota Bekasi Jadi Faktor Rendahnya Partisipasi Pemilih Pilkada 2024
Hampir separuh warga yang masuk ke dalam Daftar Pemilih Tetap (DPT) enggan menggunakan hak suaranya di Pilkada Kota Bekasi.
Penulis: Yusuf Bachtiar | Editor: Jaisy Rahman Tohir
Laporan wartawan TribunJakarta.com Yusuf Bachtiar
TRIBUNJAKARTA.COM, BEKASI TIMUR - Pilkada serentak 2024 di Kota Bekasi nyatanya hanya menghasilkan 55,05 persen pemilih, hampir separuh warga yang masuk ke dalam Daftar Pemilih Tetap (DPT) enggan menggunakan hak suaranya.
Komisi Pemilihan Umum (KPU) Kota Bekasi menilai, terdapat sejumlah faktor yang menyebabkan partisipasi pemilih Pilkada 2024 rendah.
Komisioner KPU Kota Bekasi, Eli Ratnasari, mengatakan, karakter warga Kota Bekasi bisa dikatakan mirip dengan Daerah Khusus Jakarta yang banyak pemilih rasional.
"Menurut saya Kota Bekasi memiliki pemilih yang rasional, kenapa harus datang memilih?, kenapa harus datang ke TPS?, itu menurut saya menjadi pertimbangan," kata Eli, Senin (9/12/2024).
KPU Kota Bekasi sudah melakukan berbagai upaya sosialisasi, hal ini untuk mendorong tingkat partisipasi pemilih pada Pilkada 2024.
"Ini perlu didalami lebih jauh lagi kenapa akhirnya partisipasi ini rendah, padahal segala sosialisasi sudah kita lakukan," jelas dia.
Menurut Eli, alasan warga Kota Bekasi yang tidak menggunakan hak suaranya pada Pilkada 2024 bukan tidak tahu kandidat calon atau tahapan penyelenggaraannya.
Justru, mereka sudah menganalisa dan mencari tahu lebih banyak sehingga alasannya untuk tidak menggunakan hak suara bukan karena faktor tidak tahu.
"Karena Kota Bekasi saya bilang tadi mereka bukan pemilih yang tidak tahu apa-apa, tapi mereka sudah punya basic analisa kenapa dia harus memilih kenapa dia tidak memilih," jelas dia.
Di samping itu lanjut Eli, faktor kejenuhan lantaran padatnya agenda demokrasi sepanjang 2024 membuat pemilih absen dalam menggunakan hak suaranya.
Pada Februari 2024, masyarakat sudah dihadapkan dengan Pemilu Presiden dan Legislatif. Lalu dilanjut dengan tahapan Pilkada serentah hingga puncaknya pemilih pada 27 November 2024.
"Ada juga masyarakat yang mungkin jenuh dengan situasi demokrasi yang cukup pendek dalam satu tahun pelaksanaanya bersamaan," kata Eli.
Berdasarkan publikasi Komisi Pemilihan Umum (KPU) Provinsi Jawa Barat melalui akun Instagram resmi @kpuprovinsijabar, menampilkan laporan partisipasi pemilih di 27 kabupaten/kota.
Kota Bekasi jadi yang terendah dengan 55,05 persen partisipasi pemilih, kalah dibandingkan tetangganya Kabupaten Bekasi yang mencapai 66,75 persen.
Daerah di Jawa Barat dengan partisipasi pemilih paling tinggi dalam Pilkada serentak adalah Kabupaten Pangandaran dengan persentase sebesar 78,42 persen.
Akses TribunJakarta.com di Google News atau WhatsApp Channel TribunJakarta.com. Pastikan Tribunners sudah install aplikasi WhatsApp ya
PKS Buka Suara soal Faktor Kekalahan di Pilkada Depok, Masih Mendebat Kejenuhan Warga 20 Tahun |
![]() |
---|
Pilkada Telah Usai, GMKI Jakarta Suarakan Masyarakat Kembali Bersatu |
![]() |
---|
Ulasan Lengkap Pilkada Depok 2024: Peta Suara 11 Kecamatan, Nasib PKS hingga Alasan Imam-Ririn Kalah |
![]() |
---|
Aktivis Pemuda NTT di Jakarta Nilai Pilkada 2024 Kondusif: Tidak Terjadi Hal yang Dikhawatirkan |
![]() |
---|
Partisipasi Pemilih Pilkada di Kota Bekasi Terendah Se-Jawa Barat, KPU: Semua Upaya Sudah Dilakukan |
![]() |
---|
Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE.