Dua Argumen Prabowo dan Jokowi Dianggap Sama, Pengamat Beberkan Bedanya: Tidak Identik

Dua argumen yang membuat Presiden RI Prabowo Subianto dengan Presiden ke-7 RI Jokowi dianggap sama. Pengamat beberkan keduanya tidak identik.

Tayang: | Diperbarui:

TRIBUNJAKARTA.COM - Pengamat politik Adi Prayitno mengungkapkan  dua argumen yang membuat Presiden RI Prabowo Subianto dengan Presiden ke-7 RI Joko Widodo (Jokowi) dianggap sama.

Adi juga membeberkan analisanya bahwa Jokowi dengan Prabowo Subianto tidak identik.

"Banyak pihak yang mengatakan bahwa Prabwo Subianto dan Jokowi itu adalah sosok yang identik bahkan banyak juga yang meyakini bahwa Prabowo Subianto dan Jokowi itu 11-12 yang tidak bisa dipisahkan," kata Adi dikutip TribunJakarta.com dari akun Youtube Adi Prayitno Official, Rabu (22/1/2025).

Pertama, Prabowo Subianto sepanjang masa kampanye Pilpres 2024 mengusung ide dan isu keberlanjutan yang telah dilakukan Jokowi.

Semisal, royek mercusuar Ibu Kota Negara (IKN) lalu hilirisasi nikel.

"Jadi dalam konteks itu saya kira memang sulit untuk membantah bahwa sebenarnya Prabowo dan Jokowi itu adalah dua sosok yang bukan hanya identik tapi tidak bisa dipisahkan satu sama yang lainnya," imbuhnya.

Kemudian adanya titik temu kepentingan politik antara Prabowo dan Jokowi. Dimana, Prabowo saat itu berharap didukung penuh oleh Jokowi untuk memenangkan pertarungan Pilpres 2024.

Lalu saat yang bersamaan Jokowi memiliki keingingan agar putranya Gibran Rakabuming Raka bisa mendampingi Prabowo Subianto pada Pilpres 2024.

"Jadi dua argumen ini yang saya kira memang membuat kenapa Prabowo dan Jokowi itu selalu dianggap sama dan dianggap  sebagai satu kesatuan politik," katanya.

Padahal, kata Adi, kedua tokoh ini tidak identik. Ia lalu membeberkan perbedaan Prabowo dan Jokowi.

Adi menyebut Jokowi berstatus triple minority saat pertama kali menjabat Presiden RI pada tahun 2014.

KLIK SELENGKAPNYA: Pengamat Politik Adi Prayitno Ungkit Narasi Oligarki terkait Polemik Pagar Laut di Kabupaten Tangerang. Ia Heran Kenapa Prabowo Harus Turun Tangan.
KLIK SELENGKAPNYA: Pengamat Politik Adi Prayitno Ungkit Narasi Oligarki terkait Polemik Pagar Laut di Kabupaten Tangerang. Ia Heran Kenapa Prabowo Harus Turun Tangan.

Pertama, Jokowi bukan berstatus ketua umum partai. Mantan Walikota Solo itu, kata Adi, dianggap sebagai pendatang baru dalam konteks politik nasional. 

Dimana, ia memulai karir politik dari Solo ke Jakarta dan menjadi Presiden RO pada tahun 2014.

Lalu, dukungan politik di parlemen kepada Jokowi saat itu cukup lemah. Meskipun, PDIP memenangkan pertarungan Pilpres. 

Tetapi dukungan parlemen tidak terlampau signifikan.

Sumber: Tribun Jakarta
Halaman 1/3
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved