Ada Kode di Pelantikan, Pengamat Duga Prabowo Tahu Sikap Megawati soal Retret Sebelum Surat Beredar

Pengamat menduga Presiden Prabowo Subianto sudah mengetahui sikap Megawati Soekarnoputri,yang menahan kepala daerah untuk ikut retret.

|
Biro Setpres via KOMPAS.com
KODE PRABOWO - Prabowo Subianto dan Megawati Soekarnoputri. Presiden Prabowo Subianto diduga sudah mengetahui sikap Ketua Umum PDIP, Megawati Soekarnoputri, yang menahan kepala daerah kader PDIP untuk ikut Retret Kepala Daera. Hal itu terbaca pada pidato Prabowo di acara pelantikan kepala daerah serentak di Istana Merdeka, Kamis (25/2/2025). 

TRIBUNJAKARTA.COM - Pengamat politik Universitas Paramadina, Ahmad Khoirul Umam menduga Presiden Prabowo Subianto sudah mengetahui sikap Ketua Umum PDIP, Megawati Soekarnoputri, yang menahan kepala daerah untuk ikut Retret Kepala Daerah.

Menurut Umam, hal itu terlihat dari pidato Prabowo saat pelantikan 481 pasangan  kepala daerah serentak di Istana Merdeka, Jakarta, kemarin, Kamis (20/2/2025).

Ada satu kalimat yang bagi Umam merupakan kode keras Prabowo, "Di Magelang saya akan jumpa saudara di situ dan mudah-mudahan saudara akan kuat gembleng, yang ragu-ragu boleh mundur," kata Prabowo saat pidato.

Menurut Umam, potongan kalimat, "Yang ragu-ragu boleh mundur," memiliki dampak politik.

Pertama, pernyataan tersebut dapat diartikan sebagai sikap khas Prabowo sebagai mantan prajurit TNI yang dikenal dengan ketegasannya.

"Terkait dengan seruan yang memiliki dampak politik terutama yang terkait dengan statement beliau, 'Kalau ragu mendingan kembali', memang itu ada jargon dalam konteks tradisi militer," kata Umam di program Sapa Indonesia Pagi, Kompas TV, Jumat (21/2/2025).

Di sisi lain, Umam juga membaca pidato Prabowo itu sebagai kode keras kepada para kepala daerah dari PDIP.

Sebab, hanya beberapa jam setelahnya, PDIP menerbitkan surat untuk menahan para kadernya yang baru dilantik jadi kepala daerah oleh Presiden Prabowo untuk menahan keberangkatan menuju Retret Kepala Daerah di Magelang.

"Tetapi pada saat yang sama barangkali juga presiden sudah mendapat informasi bahwa ada salah satu partai politik yang kemudian bersiap mengeluarkan kebijakan arahan, instruksi untuk tidak mengikuti agenda retret di Magelang," ungkapnya.

Umam membaca sikap keras PDIP terhadap pemerintah pusat ini tidak bisa dilepaskan dari ditahannya Sekjen PDIP, Hasto Kristiyanto, oleh KPK, yang juga hanya beberapa jam setelah pelantikan kepala daerah serentak.

Hasto ditahan karena menjadi tersangka kasus dugaan suap pergantian antar waktu (PAW) anggota DPR dan perintangan penyidikan.

"Kalau surat yang dirilis dari PDIP yang menginstruksikan 126 kepala daerahnya menunggu instruksi, bahkan untuk berhenti lebih dulu, bagi mereka yang dalam perjalanan retret menuju Magelang, tentu ini harus dibaca sebagai sebuah manuver politik, dan besar kemungkinan terkait dinamika politik nasional, terutama terkait apa yang dihadapi Sekjen PDIP, Mas Hasto, dalam konteks agenda penegakkan hukum," paparnya.

Instruksi Megawati

Sikap PDIP menahan para kepala daerahnya untuk mengikuti Retret Kepala Daerah di Magelang, beredar di media sosial dalam bentuk surat.

Surat bertandatangan Ketua Umum PDIP Megawati Soekarnoputri itu tegas tertera dua instruksi, yakni menahan diri menuju retret di Magelang, dan tetap siaga komunikasi.

Pada surat tersebut juga tertulis soal penahanan Hasto yang disebut sebagai kriminalisasi.

Sumber: Tribun Jakarta
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved