Dedi Mulyadi Pidato Masuk Gorong-gorong, Pakar Politik Ungkit Jokowi Versi Sunda
Pidato Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi menyinggung gorong-gorong. Pakar politik Burhanuddin Muhtadi ungkit Jokowi versi Sunda, ini analisanya.
TRIBUNJAKARTA.COM - Pidato Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi menjadi sorotan saat menyinggung gorong-gorong.
Pakar Politik Burhanuddin Muhtadi pun mengungkit gaya Dedi Mulyadi yang kini mulai dikaitkan dengan Presiden ke-7 RI Joko Widodo atau Jokowi karena kerap blusukan.
Diketahui, Dedi Mulyadi menyinggung gorong-gorong saat berpidato dalam upacara Hari Kebangkitan Nasional 2025 di Lapangan Gasibu, Kota Bandung, Selasa (20/5/2025).
Awalnya, Dedi mengapresiasi petugas upacara Hari Kebangkitan Nasional 2025 yang berasal dari siswa didik Sekolah Kebangsaan di Depo Pendidikan (Dodik), Lembang, Bandung.
"Kalian semua jadi petugas upacara Agustusan nanti. Jadi tidak usah repot lagi, ternyata bisa, dan hari ini bisa kalian bahagia," kata Dedi dikutip TribunJakarta.com dari akun youtube Humas Pemprov Jabar.
Dedi bakal memberikan bonus kepada petugas upacara yang berasal dari Dodik sebesar Rp 25 juta.
"Dapat uang saku, makannya enak, tidurnya nyenyak, berubah mental, bajunya bagus, pulang dapat bonus, gratis lagi. Dan tentunya buat petugas yang lain juga kita siapkan Rp25 juta," kata Dedi.
Dedi lalu menjelaskan asal uang bonus yang diberikan kepada petugas.
Politikus Gerindra itu menegaskan seluruh uang bonus itu berasal dari hasil konten di media sosial.
"Nanti ditanya lagi, "Itu duit dari mana?" Lada ngonten. Saya selalu ditanya, "Pak Dedi, duitnya dari mana ngonten?" Habis itu dimasalahin lagi. Gubernur konten lebih baik dari jadi gubernur konten punya duit diberikan pada rakyat daripada gubernur molor," jelas Dedi.
Dedi lalu menyinggung soal gorong-gorong. Namun, Dedi tidak menjelaskan lebih detil alasan dirinya menyinggung soal gorong-gorong.
"Daripada gubernur tidur, gubernur protokoler, gubernur ingin dihargai, gubernur menghabiskan anggaran jalan-jalan ke luar negeri, teu hayang teuing aing," jelas Dedi.
"Kang Dedi masuk gorong-gorong ya, sebentar lagi akan akan saya naik ke pesawat. Jadi, Indonesia ini perlu mental yang kuat kalau ingin melakukan perbaikan," sambung Dedi.
Dedi hanya menjelaskan alasan seseorang yang ingin memajukan Indonesia perlu mental kuat. Pasalnya, orang tersebut harus kuat menghadapi kelompok nyinyir.
Namun, ia yakin kelompok nyinyir itu bakalan sakit hati.