Pramono dan Dedi Mulyadi Kompak Minta Maaf Gegara Banjir,Tapi Beda Cara Beri Peringatan ke Anak Buah

Banjir yang menerjang permukiman warga Jakarta dan sebagian wilayah Jawa Barat, membuat para gubernurnya meminta maaf.

Kolase Tribun Jakarta
Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung dan Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi kompak minta maaf gegara banjir. 

Perumahan tersebut posisinya berada lebih rendah daripada sungai dan banyak perubahan alih fungsi. Sebagai contoh yang tadinya sawah, rawa, maupun danau berubah menjadi perumahan sehingga banjir terjadi.

Peringatan ke Anak Buah

Dalam permohonan maaf tersebut, keduanya turut enginstruksikan jajarannya mengenai penanganan masalah banjir.

Pramono Anung misalnya. Ia lebih dulu meminta jajaran Pemprov DKI dan petugas di lapangan untuk tak malu menyampaikan permintaan maaf ke warga atas bencana banjir yang kembali melanda.

"Kita enggah usah malu untuk meminta maaf kepada warga. Karena ini bukan sesuatu yang kita rencananya,” ujarnya.

Pramono turut berjanji bakal terus bekerja keras untuk meminimalisir kerugian dan dampak bagi masyarakat.

“Kami akan bekerja keras dan saya akan bekerja keras untuk itu, berpikir bagaimana menangani ini ke depannya,” kata Pramono.

Selain itu, Pemprov DKI Jakarta menargetkan pembebasan lahan untuk program Normalisasi Ciliwung dimulai pada Agustus 2025 mendatang.

Politisi PDIP ini mengaku sudah menetapkan sejumlah lokasi yang akan dibebaskan.

Di mana lokasi-lokasi tersebut bakal dibebaskan lantaran sudah tak layak huni akibat terlalu sering diterjang banjir.

“Saya sudah menandatangani penlok (penetapan lokasi) di tempat yang seharusnya memang tidak layak dihuni, tidak bisa dihuni,” bebernya.

Sementara Dedi Mulyadi memperingati kembali jajarannya resiko menjadi seorang pemimpin.

Dedi Mulyadi sempat memberikan pesan kepada sejumlah bupati untuk mengatasi banjir

Namun di sisi lain ia memperingati jika tindakan mengatasi banjir memiliki resiko yang tidak populer.

"Dicaci maki, dibenci, dibully tapi pemimpin harus berani mengambil resiko itu karena tugas pemimpin ada saatnya pemimpin itu bergurat batu, dia harus kukuh pada pendiriannya," imbuh Dedi Mulyadi.

Sumber: Tribun Jakarta
Halaman 2/3
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved