Tahun Ajaran Baru

Siswa di Tangerang Tak Miliki Gawai untuk Belajar Sistem Online, Pemkot Hanya Sediakan Pulsa

Penulis: MuhammadZulfikar
Editor: Ferdinand Waskita Suryacahya
AA

Text Sizes

Medium

Large

Larger

Peserta didik mengikuti pembelajaran jarak jauh (PJJ) pada hari pertama Tahun Ajaran Baru 2020/2021, Senin (13/7/2020), yang digelar di tengah pandemi Covid-19.

TRIBUNJAKARTA.COM, JAKARTA - Tahun ajaran baru 2020/2021 sudah dimulai pada Senin (13/7/2020) di Kota Tangerang.

Termasuk di SDN Kedaung Wetan 2, Kecamatan Neglasari, Kota Tangerang.

Pantauan Warta Kota, di sekolah tersebut tampak sepi.

Hanya ada sejumlah guru saja yang melakukan aktivitas.

Di antaranya Suherni selaku Guru Kelas 6 dan Andri operator sekolah.

Mereka bercerita mengenai kegiatanbelajar mengajar saat pandemi seperti ini.

"Kemarin dan hari ini masih tahapan orientasi. Kami berikan sosialisasi kepada para murid mengenai sekolah ini," ujar Suherni saat berbincang hangat dengan Warta Kota di SDN Kedaung Wetan 2, Kecamatan Neglasari, Kota Tangerang, Selasa (14/7/2020).

Menurutnya tahap orientasi dilakukan melalui daring atau online.

Sehingga para siswa tidak datang ke sekolah.

"Kami gunakan video - video untuk pengenalan sekolah ini," ucap Andri.

Suherni menambahkan proses belajar mengajar sesungguhnya baru digelar pada Rabu (15/7/2020) esok.

Namun ada terkendala seperti para siswa yang tak mempunyai gadget.

"Mereka yang punya handphone itu cuma sekitar 50 - 60% saja.

"Sisanya orang tua murid tidak punya perangkat penunjang untuk belajar online ini," kata Suherni.

Ia menjelaskan kondisi masyarakat di sekitar sekolah nasibnya sungguh memprihatinkan.

Sekolah itu berada di lingkungan Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Rawa Kucing, Kota Tangerang.

Sehingga banyak dari orang tua murid yang tak mampu. Terlebih dalam kondisi pandemi saat ini.

"Bahkan ada yang jual handphone-nya untuk kehidupan sehari - hari," ungkap Suherni.

Siswa tak punya gadget

Nasib mirip menggelayuti siswa - siswa di SDN Kedaung Wetan 2, Kecamatan Neglasari, Kota Tangerang.

Di tengah pandemi ini mereka harus belajar melalui sistem online, namun nyatanya banyak yang tak mempunyai gadget.

Hal tersebut diungkapkan langsung oleh Gurus Kelas 6 SDN Kedaung Wetan 2, Suherni.

Ia menjelaskan sekitar 50% siswa di sekolahnya tidak memiliki handphone.

"Belajarnya daring, tapi banyak yang tidak mempunyai handphone.

"Makanya kami melakukan antisipasi dalam persoalan ini," ujar Suherni saat dijumpai Warta Kota di SDN Kedaung Wetan 2, Kota Tangerang, Selasa (14/7/2020).

Menurutnya orang tua siswa di sekolah ini berasal dari kalangan tak mampu.

Pemukimannya berdekatan dengan Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Rawa Kucing, Kota Tangerang.

"Belajar melalui aplikasi WhatsApp, dari situ kan terdata siapa saja yang tidak punya handphone," ucapnya.

Suherni menyebut untuk mengantisipasi masalah ini, dirinya memperbolehkan siswa ke rumah.

Belajar secara berkelompok.

"Tapi dengan menerapkan protokol kesehatan.

"Pakai masker, cuci tangan dan jaga jarak," kata Suherni.

Bahkan Suherni juga harus rajin - rajin ke rumah siswa.

Hal itu dilakukan untuk memberikan pembelajaran.

"Kasihan mereka yang tidak punya handphone.

"Kalau tidak begitu, mereka bisa ketinggalan pelajarannya," ungkapnya.

Hal senada juga diungkapkan oleh Andri selaku operator SDN Kedaung Wetan 2, Kota Tangerang.

Dirinya menyebut banyaknya orang tua yang tak mempunyai gadget menjadi kendala yang sangat serius.

"Kami selalu memberikan informasi pembelajaran melalui video - video.

"Tapi kendalanya itu orang tua murid tidak punya alat penunjang seperti handphone.

"Mereka yang tidak punya, menyertakan nomor handphone milik saudaranya ke sekolah ini.

"Itu yang sangat menghambat proses informasi," tutur Andri.

Terkendala jaringan

Tahun ajaran baru 2020 dimulai dari Senin (13/7/2020) kemarin. Namun ada beberapa kendala yang terjadi selama proses belajar mengajar melalui daring atau online saat pandemi seperti ini.

Seperti yang dialami di SDN Kedaung Wetan 2, Kecamatan Neglasari, Kota Tangerang.

Banyak siswa di sekolah itu yang tak mempunyai gadget atau handphone.

Hal ini diungkapkan langsung oleh Guru Kelas 6 Kedaung Wetan 2, Suherni.

Ia menjelaskan muridnya tak mempunyai peralatan yang memadai hingga sekitar 50 persen.

"Kemarin saya ngajar kelas 5, hanya sekitar 50 atau 60 persen yang sudah mempunyai handphone untuk belajar online," ujar Suherni saat dijumpai Warta Kota di SDN Kedaung Wetan 2, Kota Tangerang, Selasa (14/7/2020).

Selain masalah tersebut, sekolah yang berada di dekat Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Rawa Kucing ini sulit jaringan internet.

Itu menjadi kendala dalam proses belajar mengajar.

"Susah sinyal juga," ucapnya.

Menurut Suherni, sulitnya sinyal dikarenakan sekolah jaraknya berdekatan dengan Bandara Internasional Soekarno Hatta.

"Pesawat juga sering lewat, jadinya jaringan agak terganggu," kata Suherni.

Wali Kota Bekasi Perbolehkan Belajar Tatap Muka, Sejumlah Sekolah Justru Memilih Tetap Daring

Berikut Plus Minus Mencukur dan Mencabut Bulu Ketiak

Miris, Ayah di Depok Tega Rudapaksa 2 Putri Kandungnya

Sanksi Tilang di Jakarta Berlaku Lagi Pekan Depan, 15 Pelanggaran Ini Bakal Ditindak Polisi

Alasan Polisi dan Wartawan Gadungan yang Lakukan Pemerasan di Kalideres Bisa Simpan Ratusan KJP

Pemkot Tangerang cuma sediakan pulsa

Kepala Dinas Pendidikan Kota Tangerang, Masyati Yulia, angkat bicara terkait banyak siswa tak mempunyai gadget.

Terlebih saat ini proses belajar mengajar menggunakan sistem daring atau online.

"Memang iya banyak anak yang tidak punya handphone," ujar Masyati kepada Warta Kota, Selasa (14/7/2020).

Menurutnya, kejadian ini menjadi pekerjaan terberat bagi Pemkot Tangerang. Sebab pemerintah setempat belum bisa memberikan pengadaan gadget tersebut.

"Untuk itu belum ada, tapi kalau pulsa data internet kami bantu. Kami berikan gratis pulsa kepada siswa - siswa, terutama bagi yang kurang mampu," ucapnya.

Masyati menyebut bagi anak yang tak punya handphone bisa menggunakan ponsel milik orangtua. Jika orang tua juga tidak punya handphone, maka bisa dibantu oleh saudara atau tetangganya.

"Kami juga meminta Komite Sekolah yang berisikan orang tua murid sama - sama membantu dalam persoalan ini," kaya Masyati.

Dirinya menuturkan bahwa mereka yang tak punya handphone paling banyak berada di kawasan Neglasari. Sebab menurut Masyati di daerah tersebut tergolong banyak keluarga tak mampu.

"Memang paling banyak di Neglasari. Tapi intinya kami akan terus berupaya untuk melakukan pendataan, agar tidak ada lagi anak - anak yang tidak bisa sekolah. Apalagi setelah proses PPDB kemarin mereka yang tidak diterima di sekolah negeri. Ini menjadi pekerjaan rumah kami," ungkap Masyati. (Warta Kota)

Berita Terkini