TRIBUNJAKARTA.COM, LUMAJANG - Erupsi Gunung Semeru begitu berdampak bagi warga Dusun Curah Kobokan, Desa Supiturang, Pronojiwo, Kabupaten Lumajang, Jawa Timur.
Update sampai Minggu (5/12/2021) sore, ada 13 warga yang meninggal dunia dalam musibah erupsi Gunung Semeru.
Sedangkan sejauh ini ada 57 orang yang mengalami luka dan harus dirawat di RSUD Haryoto, RS Bhayangkara serta di beberapa Puskesmas yang ada di Lumajang.
Lebih dari itu, ada ratusan rumah warga yang rusak parah akibat diterjang awan panas erupsi Gunung Semeru pada Sabtu (4/12/2021).
Salah satunya dialami Holil Fauzi (43) yang merupakan warga Dusun Curah Kobokan.
Baca juga: Kelakuan Warga +62 Di Erupsi Gunung Semeru: Jembatan Ambruk Justru jadi Tontonan dan Lokasi Selfie
Di saat rumah dan beberapa harta bendanya tak bisa diselamatkan, dia masih berusaha mengevakuasi beberapa hewan ternaknya agar tak jadi korban dalam insiden di Gunung Semeru.
Dalam situasi panik itu, dia mengambil lima ekor kambingnya yang masih hidup dalam kandang.
Kambing miliknya selamat dari awan panas guguran Gunung Semeru karena kandang dibuat cukup tertutup dan tipe panggung.
"Namun, atap kandang hancur. Beruntung kambing masih tetap hidup," ujarnya dilansir dari Surya, Minggu (5/12/2021).
Holil mengevakuasi kambingnya dengan mobil pikap.
Akan tetapi, akses jalan dusun berlumpur dan licin sehingga mobil pikapnya tak bisa melintas.
Walhasil, dia harus berjalan 1,5 kilometer dari titik parkir pikap ke rumahnya.
Setelah sampai ia kembali berjalan ke parkiran mobil sembari mengarahkan kambingnya.
"Kambing ini sayang evakuasi ke rumah kerabat di Desa Sumbermujur agar lebih aman," kata dia.
Dalam musibah erupsi Gunung Semeru, Holil harus merelakan rumah yang ditinggalinya selama ini hancur terkena sapuan awan panas.
Baca juga: Tidak Adanya Peringatan Dini Saat Erupsi Gunung Semeru, KAWALI: Tanda Kegagalan Mitigasi Bencana
"Rumah saya hancur tak tersisa," kata dia.
Kendati begitu, Holil mengaku beruntung karena keluarganya selamat dalam musiba erupsi Gunung Semeru.
"Keluarga saya selamat dari erupsi," paparnya.
Sementara itu, warga Dusun Curah Kobokan lain, Hari mengungkapkan ia kembali ke rumah pasca erupsi Gunung Semeru.
Sebab. dia berusaha mengambil mobil Mitsubishi Xpander N 1906 ZD miliknya.
Mobil itu ia parkir di garasi rumah.
Awan panas guguran menerpa rumahnya hingga hancur.
Puing-puing rumah lantas menghantam mobilnya.
Mobil milik Hari pun mengalami kerusakan cukup parah. Kaca depan dan spion pecah. Bodi penyok dan dipenuhi abu vulkanik.
"Kalau ditotal, kerugian saya mencapai ratusan juta. Mobil ini rencananya saya evakuasi ke rumah saudara. Baru kemudian diperbaiki," paparnya.
Selain mobil, Hari sempat mengamankan uang puluhan di rumahnya.
Baca juga: Tewas Berpelukan, Korban Erupsi Gunung Semeru Ini Ogah Tinggalkan Ibunya yang Sudah Tak Kuat Jalan
Uang tersebut terpendam abu vulkanik.
"Saya mengais uang di tumpukan abu vulkanik.
Yang berhasil diamankan Rp 50 juta. Sisanya rusak terbakar," terangnya.
Hari bisa selamat dari ganasnya awan panas guguran Gunung Semeru karena sedang tidak ada di rumah.
Pada waktu yang sama, Hari kebetulan mendatangi acara di wilayah Pronojiwo.
Sedangkan anak dan istrinya bisa menyelamatkan diri dengan berlari sebelum Gunung Semeru memuntahkan awan panas.
Update Korban Erupsi Gunung Semeru
Sampai Minggu (5/12/2021), jumlah korban erupsi Gunung Semeru terus bertambah.
Berdasarkan data yang diperoleh Kepala BNPB, Letjen Suharyanto, sudah ada 13 orang tewas.
Namun, baru dua orang yang baru bisa diidentifikasi identitasnya.
“Total ada 13 orang meninggal dunia akibat peristiwa itu.
Adapun yang baru teridentifikasi dua orang dari Curah Kobokan dan Kubuan, Kecamatan Pronojiwo, Kabupaten Lumajang,” ucap Plt. Kapusdatin BNPB, Abdul Muhari.
Selain itu, Abdul menuturkan korban luka-luka juga ikut bertambah.
Setidaknya, sampai hari ini ada 57 orang.
Untuk mereka yang luka-luka ringan ditangani di Puskesmas Penanggal.
Sedangkan, mereka yang alami luka bakar dirawat di RSUD Haryoto dan RS Bhayangkara.
"Ada 40 orang dirawat di Puskesmas Pasirian, 7 orang di Puskesmas Candipuro. Serta 10 orang lain di Puskesmas Penanggal di antaranya dua orang ibu hamil,” tutur dia.
Baca juga: Pengamat Soroti Kesehatan Sopir hingga Evaluasi dari Rentetan Kecelakaan Bus TransJakarta
Berdasarkan pemantauan Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG), saat ini Gunung Semeru masih dalam status level II atau waspada.
Sedangkan, sampai hari ini aktivitas Gunung Semeru belum benar-benar stabil.
Sekitar pukul 10.00 dari Dusun Kajar Kuning, Desa Sumberwuluh, Kecamatan Candipuro kabut tebal yang menutupi Gunung Semeru berwarna oranye.
Kondisi itu menunjukkan bahwa lava pijar kembali keluar dari Puncak Jonggring Saloko.
Nenek Lari 13 KM Saat Erupsi Gunung Semeru
Cerita mendebarkan dialami Sinten (60) yang berhasil selamat dalam erupsi Gunung Semeru, Sabtu (5/12/2021).
Bersama cucunya, Dewi Novitasari (17), Sinten harus berlari dan berjalan sejauh 13 KM dari rumahnya di Dusun Curah Kobokan, Desa Supiturang, Pronojiwo, Lumajang, Jawa Timur untuk berada di tempat yang aman.
Sedangkan rumah Sinten saat ini kondiisnya sudah luluh lantak terkena guguran awan panas Gunung Semeru.
Sinten menuturkan, sebelum letusan terjadi, Dusun Curah Kobokan diguyur hujan abu bercampur batu.
Batu-batu itu meluncur deras menghantam genting rumahnya hingga menimbulkan suara gemuruh.
Sinten yang saat itu sedang bersantai di rumah tamu langsung terperanjat dan panik.
Baca juga: UPDATE Korban Erupsi Gunung Semeru, BNPB: 13 Orang Meninggal, Puluhan Luka Bakar
Ia kemudian menggedor pintu kamar cucunya, Dewi.
Mendengar gedoran pintu, Dewi langsung bangun dari tidurnya.
Lalu dewi membuka pintu kamarnya.
Dengan memekikkan suara, Sinten bilang kepada Dewi bila Gunung Semeru sedang tidak baik-baik saja.
Lalu, Sinten menarik tangan Dewi untuk ikut berlari menyelamatkan diri.
"Gunung Semeru meletus dengan cepat. Sebelumnya, tidak ada tanda-tanda akan erupsi. Saat erupsi seperti kiamat," katanya, saat ditemui di RSUD dr. Haryoto, Lumajang, Sabtu (4/12/2021).
Sesampainya di luar rumah, Sinten dan Dewi sempat menengok ke arah Gunung Semeru.
Gunung Semeru terlihat memuntahkan asap abu-abu tebal ke udara.
Suhu udara langsung terasa panas, menyengat kulitnya.
Baca juga: Tewas Berpelukan, Korban Erupsi Gunung Semeru Ini Ogah Tinggalkan Ibunya yang Sudah Tak Kuat Jalan
Tak lama, langit berubah gelap, kilatan petir juga menyambar-nyambar.
"Saya tak sempat menyelamatkan harta benda. Saya tak memikirkan itu, yang terpenting selamat dari terjangan awan panas.
Lima motor hangus dan rumah saya roboh," paparnya.
Ia bersama Dewi berlari ke rumah tetangga yang berjarak sekira 1 kilometer untuk berlindung.
Setelah langit kembali terang, mereka kembali berlari ke masjid sekitar 5 kilometer.
Di sana, mereka beristirahat sejenak dan merapalkan doa.
"Lalu, kami berjalan lagi hingga ke Dusun sebelah, Dusun Gunung Sawur sekira 7 kilometer.
Napas sudah ngos-ngosan. Selama dua jam, kami mengamankan diri di rumah warga Dusun Gunung Sawur. Setelah itu, kami dievakuasi menggunakan mobil pick up ke Desa Sumbermujur," terang Dewi.
Bukannya tenang karena dapat lolos dari maut, pikiran Sinten dan Dewi berkecamuk.
Betapa tidak, mereka mendapat kabar jika satu keluarganya, Samsul Arifin (30), menjadi korban luka dan tengah dilarikan di RSUD dr Haryoto Lumajang.
Samsul Arifin saat itu sedang bertugas menjaga portal tambang dekat Gunung Semeru.
"Kami langsung bergegas mendatangi RSUD dr Haryoto. Saat ini mas Samsul sedang dirawat," pungkasnya
Sebagian artikel ini disarikan dari Surya.co.id dengan judul 'Seperti Kiamat', Warga Curah Kobokan Lumajang Selamat dari Erupsi Gunung Semeru Seusai Lari 13 KM
di TribunJatim.com dengan judul Kisah Pilu Holil yang Berusaha Selamatkan Hewan Ternak dari Erupsi Gunung Semeru: Rumah Saya Hancur,
Artikel ini telah tayang di TribunJatim.com dengan judul Jumlah Korban Meninggal karena Erupsi Gunung Semeru Bertambah, Dua Orang Sudah Teridentifikasi,