Ledakan SPBE Cimuning Picu Amarah Warga: Rumah Hancur, Ganti Rugi Nihil
Warga terdampak kebakaran SPBE di Jalan Cinyosog, Kelurahan Cimuning, Kecamatan Mustikajaya, Kota Bekasi, menuntut pertanggungjawaban.
Penulis: Yusuf Bachtiar | Editor: Wahyu Septiana
“Kalau saya dengar, kebocoran itu sekitar jam 3 atau jam 4 sore. Sudah dilaporkan dan sempat diperbaiki,” kata Ningsih saat diwawancarai.
Menurut dia, kebocoran sempat ditangani oleh pihak teknisi dan mekanik di lokasi, bahkan proses perbaikan berlangsung hingga satu sampai dua jam.
Namun setelah itu, aktivitas di SPBE tetap berjalan seperti biasa, termasuk proses pengisian atau loading gas dari mobil tangki ke tabung penyimpanan.
“Udah dibenerin, mungkin dianggap aman, terus kerja lagi dilanjutin,” ujarnya.
Ningsih menjelaskan, aktivitas di SPBE memang berlangsung hampir setiap hari dengan ritme distribusi yang padat.
Dalam sehari, bisa ada beberapa kali pengisian dari mobil tangki.
“Sehari bisa tiga kali tangki masuk. Harus terus diisi, nggak boleh kosong,” ungkapnya.
Bahkan, aktivitas pengisian kerap berlangsung hingga malam hari, tergantung kedatangan armada pengangkut gas dari agen.
“Kadang selesai bisa malam, jam 6 atau jam 7. Bahkan ada yang masuk lagi sekitar jam 8 malam,” katanya.
Saat malam kejadian, Ningsih menyebut kondisi SPBE sebenarnya sudah relatif sepi karena sebagian besar karyawan telah pulang.
“Udah kosong, paling tinggal OB sama satpam,” ucapnya.
Namun, sekitar pukul 20.30 WIB, situasi berubah drastis.
Uap gas tiba-tiba keluar dalam jumlah besar hingga memenuhi area sekitar.
“Uapnya udah tinggi, keluar semua. Orang-orang langsung panik,” kata dia.
Kepulan gas tersebut bahkan menyebar ke jalanan seperti kabut tebal, disertai bau menyengat yang membuat warga sekitar berhamburan keluar rumah.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jakarta/foto/bank/originals/Spbe-cimuning-hancur.jpg)